
Pagi hari yang cerah, aku kembali menjalani pekerjaanku. Di kala itu semesta menunjukkan panasnya. Terik dari sang mentari benar - benar menyengat tubuh. Namun aku tetap menjalankan pekerjaanku seperti biasa. Menjadi seorang atasan yang adil dan bijaksana. Aku tak peduli dengan jabatanku, aku tak pernah membeda - bedakan semuanya. Ada kalanya aku memimpin dan menyuruh - nyuruh mereka, tapi ada kalanya juga aku berbaur dan bercanda bersama mereka.
" Ha ha ha, habis mandi lo ?" Tanya Hadi yang merupakan bawahanku sambil tertawa terbahak - bahak.
" Mandi - mandi, lo nggak ngerasain matahari yang kayak tinggal sejengkal diatas kita," Jawab Agus yang memang tercucur keringat yang sangat deras dari dalam tubuhnya.
" Halah, lebay lo, panas segini aja udah ngeluh," Ejek Hadi.
" Ya iyalah, badan lo kan hitam, ya nggak terasa lah panasnya," Ejek Agus kepada Hadi yang memang punya badan hitam.
Sontak mereka pun tertawa bersama, aku yang melihat itu jadi rindu dengan sebuah kebersamaan. Tingkah bodoh kakakku, tingkah bodoh sahabatku. Meski aku hanya mempunyai sedikit sahabat dan itupun bekas musuhku. Aku berjalan mendekati Agus dan Hadi, tanpa kusangka - sangka mereka sedikit sungkan dengan kedatanganku dan menghentikan candaannya.
" Dilanjut aja mas, nggak usah sungkan," Ucapku kepada mereka. Aku memang memanggil kebanyakan dari bawahanku dengan sebutan " Mas ". Karena memang banyak dari mereka yang lebih tua dari aku. Sebenarnya mereka pun tidak mau dipanggil begitu karena rasa sungkannya. Namun aku memaksa mereka untuk mau, bagaimanapun juga aku tetaplah atasan yang perintahnya harus dijalankan.
" Iya mas," Jawab Hadi dengan malu - malu.
Aku pun duduk bersama mereka dan bercanda. Lama - lama rasa sungkan dari mereka pun hilang. Canda tawa yang telah lama tak ku alami terjadi lagi. Meskipun tak seheboh ketika aku masih bersama kakakku ataupun sahabatku. Tapi meskipun begitu canda tawa itu bisa membuat perasaanku menjadi lebih tenang dan nyaman. Mungkin karena setelah sekian lama aku selalu hidup dalam kebencian. Ketika sang waktu terus - terusan berputar, aku pun menyuruh mereka dan yang lain untuk kembali bekerja. Teriknya sang mentari tak akan menghentikan langkah kaki kami demi mewujudkan sebuah mimpi dan cita - cita.
Hingga matahari sudah condong ke barat, menandakan akan datangnya senja. Jam kerja pun berakhir sampai disitu, dan aku melangkahkan kakiku menuju rumahku. Namun ditengah jalan rasa penasaran itu muncul, ketika aku melewati tempat yang sama seperti ketika aku melihat sosok yang kuyakini adalah kakakku, aku tak melihat apapun disana. Rasa kecewa dan menyesalpun muncul, kenapa waktu itu aku tak memastikan siapa dia ?. Hingga pada akhirnya aku pun sampai dirumah kontrakan.
Esok harinya, aku siap untuk berangkat kerja. Dengan membawa tas yang berisikan uang dan beberapa barang, aku berangkat dari rumah kontrakanku menuju tempatku bekerja. Namun siapa sangka, di sebuah tempat yang tiap hari ku lalui, menjadi cukup sepi. Rasa terkejut timbul ketika segerombolan penjahat menghadangku dan memintaku untuk menyerahkan semua barang berhargaku. Namun aku menolak, pertarungan pun terjadi antara aku dengan gerombolan 3 orang itu. Hingga ketika aku menyerang salah satu dari mereka, temannya mengeluarkan sebilah pisau dan bersiap menikamku dari belakang.
Tapi sebuah hal terjadi tanpa kuduga, seorang manusia yang selama ini sangat kubenci melesat cepat kearah pisau itu diayunkan. Dan alhasil tubuhnya menjadi tameng bagiku, tidak puas dengan itu sang penjahat menendang kakinya hingga terjatuh dengan darah yang mengalir deras.
" Kakak......" Teriakku sambil mendekati tubuh kakakku yang sudah lemas.
3 penjahat itu berkumpul dan saling beradu argumen satu sama lain. Tak ada yang mau disalahkan tentang kejadian itu, semuanya melindungi dirinya sendiri.
" Woy kenapa lo bunuh tu orang ?" Bentak satu dari mereka.
" Gue nggak sengaja bro," Jawab si penikam membela diri dengan nada takut.
" Kalian, kalian telah melukai seseorang yang berharga dihidupku, aku tak akan pernah memaafkan kalian," Ucapku sambil mencoba berdiri untuk melawan mereka lagi.
Namun sebuah tangan mencegah aksiku. Tangan itu adalah tangan sang kakak yang sudah terbujur lemas. Melihat itu, kawanan penjahat itupun melarikan diri dari tempat itu sebelum ada orang lain yang melihat kejadian itu.
" Cukup, adikku....." Ucap kakakku.
Aku menangis melihat darah yang menyucur deras dari perut kakakku. Rasanya, benar - benar tak sanggup aku melihatnya terus - menerus.
" Dan pada akhirnya, aku bisa melindungi sesuatu yang paling berharga di hidup aku, meskipun cuma sekali dan untuk yang terakhir kalinya," Ucap kakakku sambil menggenggam erat tanganku.
" Jangan bicara seperti itu kak !" Ucapku sambil terus meneteskan air mata.
Aku langsung berdiri dan membopong tubuh kakakku yang sudah tak berdaya, sebisa dan secepat mungkin aku harus membawanya ke rumah sakit. Namun tak ada satupun manusia ditempat itu untuk ku mintai pertolongan.
" Tidak usah, Candra, kakak udah nggak kuat lagi," Ucap kakakku dengan tatapan penuh kesedihan.
" Aku tak bisa membiarkanmu mati kak, seseorang yang telah berjasa kepadaku, tapi aku malah membencimu. Biarkan aku menebus semua kesalahanku," Ucapku.
" Heh, lupakan saja semuanya adikku, kamu nggak salah, ini surat untukmu, bacalah surat ini, dan kamu akan tau segalanya tentang kakak," Ucapnya sambil memberikan sebuah amplop berisi surat kepadaku.
Aku menerima amplop itu dan betapa terkejutnya aku, kakakku menutupkan matanya. Aku mengecek denyut nadinya dan betapa bersyukurnya aku ketika mengetahui kalau denyut nadinya masih ada, ia hanya pingsan. Aku bergegas mempercepat langkah kakiku dan akhirnya nampaklah sebuah mobil yang lewat. Aku menghentikan mobil itu dan meminta pertolongan dari pemilik mobil.
" Ada apa mas ?" Tanya seorang lelaki muda sang pemilik mobil.
" Tolong saya mas, kakak saya ditikam oleh orang jahat dan harus cepat - cepat dibawa ke rumah sakit," Jawabku.
" Oh kalau begitu naik saja mas," Ucapnya menawarkan tumpangan.
Tanpa pikir panjang aku pun naik ke mobil itu sembari terus menahan luka kakakku agar darahnya tidak keluar lebih banyak lagi. Mobilpun melaju dengan cepatnya menuju rumah sakit. Kupegang tubuh kakakku yang dingin sambil terus berdoa kepada sang pencipta agar ia baik - baik saja. Tak tau mengapa, perasaan bersalah benar - benar ku rasakan, tak kusangka seorang kakak yang sangat aku benci adalah orang yang rela mempertaruhkan nyawanya demi seorang adik yang disayanginya. Aku sadar bahwa semua yang ku lakukan adalah salah besar. Hingga membuat nyawa kakakku dalam bahaya. Andai waktu bisa ku ulang kembali, aku ingin waktu itu aku mengurungkan niatku untuk pergi meninggalkan rumah. Biarkan saja diriku selalu diremehkan, asalkan ia bisa baik - baik saja. Namun semuanya telah terjadi, tubuh sang penjaga semakin mendingin. Mulutku terus - terusan komat - kamit membaca doa, hingga laju mobil pun terhenti di kala sampai di rumah sakit.