
Hari - hari berikutnya, rumah terasa agak sepi ketika kakek dan nenek telah kembali ke desa tempat tinggalnya. Namun meski begitu masih ada ayah, ibu, kakak dan Pak Anto. Mereka bisa menghiasi hari - hariku yang tiap waktu ku lalui.
Entah mengapa aku terpikir tentang perkataan kakakku waktu itu, tentang seseorang yang ku kagumi dan kucintai. Kurasa dia juga punya perasaan yang sama denganku. Namun aku tak sanggup mengungkapkan sebuah rasa kepadanya. Cinta itu memang rumit, bagaimana tidak, 2 hati yang berbeda raga harus disatukan tanpa pernah tau perasaan satu sama lain.
" Woy, ngelamun terus ada apa ?" Pertanyaan kakakku yang benar - benar mengagetkanku. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu, hari dimana kami libur kerja.
" Nggak apa - apa," Jawabku singkat.
" Sherly ya ?" Tanyanya yang sontak membuatku kaget lagi.
" Apaan sih," Jawabku.
" Iya kan ?" Godanya.
" E..e..e kak, kakak lupa ya soal keinginanku waktu itu, apa jangan - jangan kakak takut," Ucapku mengalihkan pembicaraan.
" Keinginan apa ?" Tanyanya kebingungan.
Perlahan ia mulai mengingat - ingat tentang maksud ucapanku, aku tak tau apa dia benar - benar lupa atau sengaja berpura - pura lupa. Namun ternyata dugaanku salah dikala aku mendengar jawaban darinya.
" O...o..o bertarung ya, hm... Oke, tapi ada syaratnya," Pintanya.
" Kok ada syaratnya sih," Keluhku.
" Mau nggak, kalau nggak mau ya udah," Jawab kakakku.
Dasar manusia aneh, dampak bertarung itu pasti menyakitkan. Malahan dia memberi syarat tentang pertarungan yang akan kami lakukan. Tapi sebuah tekad dan keinginanku sudah cukup besar untuk bertarung sekali lagi dengannya, aku pun menyetujui apapun syarat yang akan ia berikan.
" Oke, setuju, apa syaratnya ?" Tanyaku.
" Gini, kalau kamu bisa mengalahkan kakak, kakak akan traktir kamu makan, terserah makanan apa yang kamu minta pasti kakak belikan," Ucapnya.
" Boleh juga," Kataku.
" Tapi..... Kalau kamu kalah, kamu harus mengungkapkan cintamu kepada Sherly," Ucapnya.
" Syarat macam apa itu, ganti aja deh syaratnya," Pintaku.
" Kata setuju menandakan perjanjian antara kita, dan sebagai pria sejati pantang untuk mengingkari janji," Ujarnya.
" Hmm.... Apa boleh buat, baiklah, aku terima itu," Ucapku meski masih berat menerima syarat yang ia ajukan.
Kami pun mencari tempat yang sepi, kebetulan ayah dan ibu sedang berada di ruang keluarga sambil menonton TV, sedangkan Pak Anto pergi ke rumah lama kami. Jadi dengan begitu pastilah tempat yang kami tuju adalah belakang rumah.
" Bersiaplah untuk kalah," Tantang kakakku.
" Heh, jangan sombong dulu !" Jawabku sambil memasang kuda - kuda.
Serangan demi serangan saling kami lancarkan, beberapa kali aku kena pukulan, namun juga memukulnya. Suara gaduh mulai terdengar begitu menggema, desiran angin membuat suasana pertarungan menjadi lebih seru. Kuatnya sang kakak memang harus ku akui, bagaimana tidak, sepanjang pertarungan dia telah membuatku jatuh beberapa kali meski aku pun juga berhasil menjatuhkannya. Apapun itu aku tak boleh menyerah, karena itu adalah tantangan yang kubuat. Tak peduli dengan sakitnya ragaku, aku terus - terusan bertahan dan menyerang. Hingga pertarungan sengit itu sudah berjalan cukup lama, rasa lelah menghujam tubuh kami. Berbagai luka telah kami rasakan, hingga kami pun sudah sampai batasnya. Sebuah pertarungan melelahkan yang diakhiri dengan ambruknya tubuhku. Kulihat kakak masih berdiri meski dengan nafas yang terengah - engah.
" Dan benar saja, sampai kapanpun juga aku tak akan pernah mampu mengalahkannya," Batinku dengan tubuh yang tak sanggup untuk bangkit lagi.
Tak lama kemudian, entah karena apa, tiba - tiba kakakku menjatuhkan dirinya ketanah dengan diiringi nafas yang terengah - engah.
" Ha ha ha, aku menang kan ?" Ucapnya menyombongkan diri.
" Jeh, ternyata masih sama seperti dulu, lagi - lagi aku harus kalah," Ucapku sambil berusaha bangun.
" Tidak, kau hampir membuatku pingsan tadi, kau benar - benar sudah bertambah jauh lebih kuat," Jawab kakakku dengan tubuh sempoyongannya dia mencoba berdiri yang akhirnya bisa.
Kami berdua sama - sama sudah berdiri menjejaki bumi, dengan tubuh yang terasa lemah itu kami dikejutkan dengan kedatangan ibu yang tiba - tiba berada dibelakang rumah.
" Huff..... Kalian ini.... Udah besar masih aja kayak anak kecil," Ucap ibuku dengan nada marah.
Dan betapa konyolnya respon kami terhadap kemarahan dari sang ibu yang galak. Kami malah tersenyum dan tertawa lepas meski rasa sakit itu masih terasa di sekujur tubuhku.
Hari - hari pun berlalu, hingga pada suatu hari sang kakak mengingatkan aku tentang perjanjian itu. Dengan rasa yang teramat grogi, aku pun menyanggupinya. Karena aku ini laki - laki sejati yang pantang mengingkari janji.
Dan di sore hari, ketika aku pulang kerja, aku memutuskan untuk menepati janjiku itu. Mula - mula ku telpon Sherly dan ku ajak ke suatu tempat. Tak butuh waktu lama, kami berdua sudah berada di tempat perjanjian, yaitu sebuah tempat diatas air yang dari sana bisa memandang keindahan dari sungai yang berarus deras. Bisa dibilang tempat itu adalah jembatan penghubung antar wilayah.
" Hey Sherly, terima kasih ya selama ini kamu selalu ada disaat aku terpuruk," Ucapku membuka pembicaraan.
" Hmm, udah santai aja," Jawab Sherly dengan santainya.
" Karena itu apa kamu....."
" Kenapa ?" Tanya Sherly yang mendengar perkataanku yang mendadak terhenti.
" Apa kamu..... Mau ada setiap saat didalam hidupku ?" Sambungku.
" Maksudnya ?" Tanyanya.
" Aku mencintaimu Sherly, kamu adalah sesuatu yang berharga di hidupku," Jawabku malu sambil menundukkan kepala.
" Emm..... Aku mau....." Ucap Sherly tanpa ragu sambil tersenyum.
" Tapi maaf, aku tak pernah mengenal cinta, jadi maaf kalau aku tak bisa romantis," Ucapku sambil tersenyum lebar hingga gigiku nampak.
" Cinta itu nggak harus romantis kan, yang penting dia ada dan selalu setia, itu sudah cukup buatku," Jawab Sherly.
Wajahku berbinar - binar mendengar setiap jawaban darinya. Disitulah kisah cinta dari 2 anak manusia yang telah merasakan pahit manisnya kehidupan dimulai. Dan jembatan itu pantas untuk disebut jembatan cinta, karena ia telah menjafi saksi akan awal kisah cinta dari 2 anak manusia.
" Cut - cut - cut, sepertinya ini sudah cukup buat dijadiin kenangan," Suara seseorang dari belakang yang tiba - tiba mengagetkan kami.
Kami pun berbalik ke belakang untuk memastikan siapa seseorang dibalik suara itu. Tak kusangka ia adalah kakakku, kami benar - benar tak menyadari kehadirannya. Bagaimana tidak, sepanjang percakapan kami cuma memandang kearah sungai yang berada dibawah sana.
" Kakak....." Ucapku terkaget.
" Kerja bagus, Candra," Ucapnya sambil memandang kearah smartphone nya. Sepertinya ia sedang memutar rekaman ketika aku menyatakan cinta ke Sherly.
" Kakak merekam kami ya ? hapus kak ," Ucapku sambil mengejar dia.
Namun ketika aku lari, ia pun juga ikut lari. Langkahnya malah jauh lebih cepat dariku. Aku pun menyerah, tak sanggup untuk mengejarnya dan akhirnya kembali ke tempat Sherly.
" Kayak anak kecil aja," Sambut Sherly dengan senyumannya.
" Ya begitulah," Jawabku sedikit malu.
" Aku bingung deh, tau aja tu orang kalau kita ada disini," Ucapku.
" Ya mungkin dia mengikuti kamu," Jawabnya.
" Ya, mungkin sih," Kataku.
Meski ada gangguan sedikit, tapi hari itu adalah hari dimana kisah cinta itu dimulai. Dan tempat itu, adalah tempat dimana semua kenangan akan terukir. Sebuah jembatan yang ku namai jembatan cinta. Candra dan Sherly, 2 insan yang dulu tak pernah punya perasaan cinta satu sama lain. Namun kini perasaan itu tumbuh dengan sendirinya dihati keduanya.