
Beberapa bulan setelah kematian sang inspirator, rumah terasa agak sunyi. Tiada lagi suara seraknya, tiada lagi kata - kata inspiratif yang bisa membangkitkan semangat. Ditambah lagi ayah dan ibuku yang masih sibuk bekerja, seakan menghiraukan pesan terakhir kakek.
Hingga datanglah sebuah hari yang entah bisa disebut menyenangkan ataupun menyedihkan. Dari hasil jerih payah ayahku yang memang bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan, ditambah lagi dengan gaji ibuku yang bekerja sebagai marketing. Akhirnya kami sudah bisa membeli rumah yang cukup besar dan luas yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah yang dulu.
Namun hati ini seakan tidak terima, mencoba berontak melawan keputusan ayah dan ibu. Bagaimana bisa rumah penuh kenangan itu aku tinggalkan begitu saja, terlalu banyak kenangan disana.
" Yah, kenapa sih harus pindah ? Rumah ini penuh dengan kenangan yah," Protesku.
" Justru itu, karena rumah ini penuh dengan kenangan, terutama dengan kakekmu, kita harus pindah agar bisa mengikhlaskan kepergiannya," Jawab ayahku santai.
Sebenarnya, aku tak cukup puas dengan jawaban ayah. Karena bagiku, kenangan adalah satu hal yang tak akan pernah bisa dilupakan. Biarpun aku lari sejauh mungkin dari tempat kenangan itu berada, tetap saja ia akan ikut bersamaku. Karena ia sudah melekat di jiwa dan ragaku. Tapi keputusan mereka bagai keputusan sang hakim, tidak akan pernah bisa diganggu gugat. Apalagi oleh orang yang selalu mereka anggap sebagai bayi kecilnya.
Hari itu, kami benar - benar meninggalkan rumah kenangan itu. Mobil pick up pengangkut barang - barang kamipun berangkat menuju rumah baru yang memang sudah kami datangi sebelumnya. Aku ikut dengan ayahku naik mobil pick up itu, sedangkan kakakku mengendarai motor, berboncengan dengan ibu. Lalu bagaimana dengan Pak Anto ? Tentu saja Pak Anto akan ikut ke rumah baru kami. Tapi mungkin akan sedikit terlambat, karena ia pun harus mengemasi barang - barangnya yang belum sempat ia kemasi.
" Selamat tinggal kenangan, mungkin suatu saat nanti aku akan kembali kesini lagi," Batinku.
Mobilpun sudah melaju menuju rumah baru kami, dengan diikuti motor kakakku yang berboncengan dengan ibuku. Tak butuh waktu lama, didepan sana sudah nampak rumah yang teramat megah. Dengan taman yang luas dan kolam renang yang begitu indahnya. Mobil berhenti, akupun turun dan membantu mengangkat barang - barang pindahan serta memasukannya ke dalam rumah baruku.
Ingin sekali aku mengajukan sebuah pernyataan bahwa aku lebih suka rumah yang dulu. Aku juga tak butuh kemegahan, yang ku butuhkan cuma kebersamaan. Namun aku takut ayah atau ibuku tersinggung dengan pernyataan itu.
" Iqbal, kamarmu di lantai 2 ya," Ucap ayahku.
" Candra, kamarmu juga di lantai 2," Ucap ayahku lagi.
" Sedangkan kamar ayah dan ibu berada dibawah, dan satu kamar lagi itu buat Pak Anto," Ucap ayah kali ketiga.
Aku berjalan menaiki tangga menuju lantai 2, tempat dimana kamarku berada. Dibelakang sana juga sedang berjalan seorang kakak yang mengikuti langkahku. Tentu saja, karena kamarnya juga berada di lantai 2.
Betapa terpesonanya aku melihat kamar baruku itu, sebuah kamar yang begitu luas dengan fasilitas yang memadai. Di dalamnya juga terdapat jendela yang tepat menghadap ke pemandangan kota yang amat menakjubkan. Warna hijau dari pepohonan di bukit yang tidak terlalu jauh dari rumah baruku itu, seolah - olah aku sedang berada disana. Langit biru itu, tempat dimana aku melambungkan semua angan, mimpi dan cita - citaku. Semuanya terlihat dari tempatku berada.
Dibawah sana, tepatnya di jalanan menuju rumahku, aku melihat seorang laki - laki paruh baya yang tidak lain adalah Pak Anto. Ia baru saja turun dari angkot yang membawanya ke rumah baruku. Di halaman rumah sana juga berdiri ayahku yang menyambut kedatangan Pak Anto. Entah apa yang mereka bicarakan, karena sang angin membawa suara itu hilang tak terdengar.
" Candra, Iqbal," Teriak ibuku yang memang libur kerja.
Tanpa membuang waktu aku pun turun dari lantai 2 mendekati arah suara itu, kulihat ibuku sedang menyiapkan makanan. Tak lama kemudian kakakku pun turun, disusul dengan ayah dan Pak Anto yang muncul dari depan rumah. Kami pun makan siang bersama, tak terkecuali Pak Anto, karena ia sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri.
" Bu, ibu ingat pesan terakhir kakek ?" Tanyaku.
" Ingat..... Emang kenapa ?" Tanya ibuku balik.
" Kenapa ibu nggak berhenti kerja aja," Jawabku.
" Kenapa ? Ibu suka pekerjaan ini, lagipula kan halal. Dan lewat pekerjaan ibu dan yang pasti juga ayahmu kita bisa tinggal dirumah ini," Ucap ibuku dengan nada tinggi.
" Aku nggak butuh kemewahan bu, yang ku butuhkan cuma kebersamaan. Itu saja, sebuah rasa yang tak pernah ku dapatkan dari kalian," Ucapku sedikit membentak yang membuat semuamya diam.
" Maaf bu..... Aku gak bermaksud," Sambungku.
" Candra...... Ayah mengerti perasaanmu, tapi seperti yang pernah ayah bilang, mungkin inilah jalan terbaik untuk bisa melupakan semua kenangan bersama kakek," Ucap ayahku.
"Masalahnya, bukan cuma kenangan bersama kakek yah, tapi......"
" Kenangan setiap tangismu itu ya, ha ha ha," Cela kakakku sambil tertawa.
" Heh, mana pernah aku menangis," Ucapku.
" Heh," Gumam kakakku.
Ucapan konyol yang membuatku malu itu menghentikan pernyataan yang akan ku sampaikan kepada seluruh anggota keluargaku. Tapi aku rasa dengan alasan apapun juga akan percuma, karena keputusan ayah dan ibuku untuk pindah ke rumah baru itu sudah mutlak. Lagipula rumahnya juga sudah dibeli cash, bukan kredit.
Malam itu di kamarku, ku tatap langit yang cerah lewat jendela kamarku. Dengan hiasan bulan dan bintangnya, langit gelap itu bisa menjadi terang. Ku menatap keindahan langit malam itu, langit di bumi ibu pertiwi. Mungkin diatas sana sudah tertulis jalan cerita hidupku ke depannya.