Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Kejadian di Rumah



Ketika cinta telah berhasil ku ungkapkan, tak lama kemudian aku pun mengajak cintaku untuk pulang, yang pasti pulang kerumah masing - masing. Pertemuan itupun berakhir dengan diriku yang menghantarkan Sherly pulang kerumahnya, setelah ia selamat sampai rumahnya, barulah aku pulang kerumahku dengan perasaan yang sangat bahagia. Jarak tak jadi penghalang, meski aku dan Sherly terpisahkan oleh jarak yang lumayan jauh, namun aku yakin cinta kami tak pernah mati, kecuali jika takdir berkata lain.


" Cinta memang butuh proses ya ?" Batinku ketika berada di perjalanan pulang seraya mengingat kembali kejadian waktu kecilku dulu.


Tak pernah kusangka - sangka, dulu tak pernah ada komunikasi sedikitpun antara aku dengan Sherly. Hingga zaman telah mengubah hal itu, dari awalnya saling berdiam diri kini menjadi saling cinta. Dan satu hal yang baru kusadari setelah sekian lama terjadi. Dulu, disaat aku dibully, dicaci dan diremehkan, aku sering melihat gadis cantik itu menatapku dengan tatapan sayu penuh dengan kesedihan. Benar saja, gadis itu adalah Sherly. Aku menyesal tak pernah peka dengan hal itu.


Ketika aku sampai dirumah, aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Tapi aku tak menyadari tentang hal itu. Sampai - sampai aku tak memperdulikannya dan langsung masuk kekamarku dilantai 2.


" Hah..... Videonya," Ucapku terkaget dikala aku teringat dengan keanehan yang kurasakan.


Video bukti cintaku pada Sherly berada ditangan sang kakak. Aku takut ia menontonnya dengan ayah dan ibuku. Kalau sampai itu terjadi, maka aku tak tau akan semalu apa nantinya. Tanpa pikir panjang ku turun ke lantai dasar untuk mengecek kakakku. Dan dibawah sana nampak manusia yang seolah tanpa dosa tengah duduk tenang menonton TV.


" Kak....." Panggilku.


" Hmm..." Gumamnya merespon panggilanku.


" Mana videonya ?" Tanyaku dengan nada serius.


" Video apa sih ?" Tanyanya balik.


" Halah, pokoknya hapus tu video !" Ujarku.


" Ha ha ha ha ha, kan belum ku tonton bersama ayah dan ibu," Responnya yang mengagetkanku.


" Apa ? Jangan macem - macem kak," Ancamku karena udah mulai muak dengan dia.


Disaat emosiku sedang menaik, tiba - tiba terdengar suara langkah kaki yang menuju kearah kami. Ternyata suara itu datang dari kaki Pak Anto.


" Ada apa nih Den, kok ribut - ribut ?" Tanyanya pada kami.


" Nggak apa - apa Pak, urusan anak muda, jadi yang tua gak boleh ikut, ha ha ha ha ha," Jawab kakakku seraya mengejek Pak Anto dengan diiringi dengan tawa yang menandakan canda.


" Heh, mentang - mentang bapak udah tua," Gumam Pak Anto.


" Bercanda Pak," Ucap kakakku masih dengan tawanya.


" Ya udah, bapak kedepan dulu, kalian jangan berkelahi," Perintah Pak Anto.


" Ya enggak lah Pak, kalau kami berkelahi, bisa bonyok tuh mukanya Kak Iqbal," Candaku menutupi luapan emosiku.


Sontak kami pun tertawa bersama hingga Pak Anto pergi ke depan rumah untuk kembali bekerja.


" Apaan ?" Tanyanya.


" Videonya kak," Ucapku.


" Hufff, iya - iya kamu tenang aja, kakak nggak akan menunjukkannya ke ayah dan ibu," Jawabnya.


Dengan jawabannya itulah aku merasa sedikit lega, namun aku juga tak bisa sepenuhnya percaya pada perkataannya itu. Tiap saat aku mengawasi gerak - gerik kakakku itu. Hingga aku mulai percaya padanya ketika ia berkumpul dengan ayah dan ibu, yang pastinya tanpa aku. Dan ia tak sedikitpun membicarakan tentang hubunganku dengan Sherly, apalagi sampai menunjukkan rekaman itu kepada mereka.


Kring - kring - kring....... Suara dering nada telepon mengagetkanku. Sepertinya ada panggilan yang masuk, dan panggilan itu adalah dari sang pujaan hati. Aku langsung masuk ke kamarku untuk memulai pembicaraan dengan dia. Ya, dia, sang pemberi warna didalam hidupku.


" Ada apa, Sherly ?" Tanyaku.


" Ihhh.... Udah pacaran panggilnya masih aja pakai nama biasa," Protes Sherly.


" Terus.......?" Tanyaku lagi.


" Ya kayak pacarannya orang lain gitu dong," Pintanya.


" Sherly, tidak semua hal harus kita tiru dari diri orang lain. Kita adalah kita, tak perlu kita meniru orang lain, kecuali meniru kebaikannya," Ucapku.


" Ha ha ha ha ha, benar juga kamu," Balas Sherly dengan tawanya.


" Oh ya, ada apa malam - malam gini nelpon ?" Tanyaku yang belum sempat dijawab oleh Sherly.


" Gak apa - apa, cuma rindu aja," Jawabnya.


" Rindu ya ? Kok bisa rindu ?" Tanyaku ngawur.


" Nggak tau, mungkin jiwamu terbawa oleh angin sampai menemuiku, makanya aku merasa rindu sama kamu," Ucapnya seraya tertawa.


Tawa penuh dengan kebahagiaan tercipta lewat benda kecil itu. Meski cuma suara, tapi suaranya sudah busa membuat diriku merasakan perbedaan. Hatiku menjadi kebih damai setelahnya, tawa kecil itu memaksa diriku untuk ikut tertawa, hingga akhirnya aku menghentikan tawaku.


" Sherly, maaf ya. Mungkin kamu akan merasakan gimana membosankannya sebuah pacaran. Aku tak akan pernah bisa seperti orang lain, aku juga tak akan bisa se romantis orang lain. Tapi ingatlah baik - baik, aku akan menjaga dan melindungimu jauh lebih dari apa yang orang lain berikan ke orang yang ia cintai," Ucapku panjang lebar.


" Hmmm..... Kamu juga harus tau, justru dari situlah aku menemukan sebuah kesan yang amat berarti darimu," Balasnya.


" Begitu ya ?" Jawabku singkat kemudian diam untuk beberapa saat.


Setelah cukup lama teleponan, aku pun memutuskan untuk berkelana dialam mimpi. Biar bagaimanapun juga harus kuakui, terkadang mimpi itu juga menyenangkan. Bisa membuat sebuah hal yang tak pernah bisa aku ciptakan didunia nyata. Tak lama setelah aku memejamkan kedua bola mataku, akupun tertidur dan mulai terjerumus ke alam mimpi hingga pagi menyongsong.