
Pagi hari.......
Ketika aku baru saja akan berangkat ke tempat kerja, tiba - tiba terdengar suara mobil yang menuju ke arah rumahku. Aku mengintip ke arah luar, dan ternyata itu adalah mobil ayahku. Aku yakin sekali, keyakinan itu bertambah ketika 2 orang yang terdiri dari 1 laki - laki dan 1 perempuan itu turun dari mobil. Untungnya saat itu rumah masih terkunci.
Aku bergegas menuju kamarku dan mengemasi barang - barangku. Nampaknya aku harus pindah dari rumah kenangan itu lagi. Tak butuh waktu lama untuk mengemasi barang - barangku, karena memang cuma sedikit.
" Candra, kamu didalam nak," Suara teriakan dari ibuku.
" Candra, keluarlah ! ayah tau kamu ada didalam," Tambah ayahku.
Aku tak tau siapa yang memberitahu tentang keberadaanku, tapi yang penting aku harus bergegas untuk keluar dari rumah itu. Aku menuju pintu belakang dengan sangat hati - hati. Diluar sana tak nampak tanda - tanda keberadaan ayah dan ibuku. Mereka masih berada dibalik pintu depan.
Udara pagi yang cukup dingin, aku berlari membawa tas yang cukup besar. Ku lupakan tentang pekerjaan, yang penting aku bisa lolos dari ayah dan ibuku. Hingga akhirnya aku bisa keluar dari area rumah itu tanpa sepengetahuan ayah dan ibuku. Nampaknya rumah itu akan tinggal kenangan lagi. Dan nampaknya aku salah, itu juga bukan tempatku pulang yang sebenarnya. Bisa dibuktikan dengan jiwa dan raga yang meninggalkan rumah itu untuk kedua kalinya.
Jauh ku berlari, nampaknya tidak ada tanda - tanda kalau ayah dan ibu mengejarku. Kembali ku teringat tentang pekerjaanku, yang sebelumnya telah terlupakan. Aku meminta izin untuk tidak masuk kerja dengan bos ku lewat telepon dengan alasan sakit. Dan tak menunggu waktu lama, Pak Ridho pun mengizinkanku untuk tidak masuk kerja. Dia benar - benar mempercayaiku.
" Maaf Pak, aku harus mengkhianati kepercayaanmu," Gumamku.
" Tapi aku berjanji, cuma kali ini saja aku membohongimu," Tambahku.
Alasan kenapa ayah, ibu ataupun kakakku tak pernah meneleponku adalah karena memang aku telah mengganti nomor HP ku. Cuma Pak Anto dan beberapa orang yang tau, termasuk Bos ku dan beberapa teman kerja ku.
Aku berjalan mengikuti kemana kakiku melangkah, mencari sesuatu yang bisa ku jadikan tempat berteduh. Pikiranku menuju ke satu arah, yaitu rumah kontrakan. Dan usahaku tak sia - sia, dengan jarak yang lumayan jauh dari rumah lamaku terdapat rumah kontrakan yang cocok buatku. Tak peduli sekecil apapun ia, yang penting bisa kugunakan untuk berlindung dari panasnya siang dan gelapnya malam.
" Jadi 350 ribu per bulan ya bu ?" Tanyaku pada wanita paruh baya sang pemilik kontrakan.
" Iya dik," Jawabnya.
" Kalau begitu, ini uang kontrakan untuk bulan ini," Ucapku sambil menyodorkan beberapa lembar uang.
" Terima kasih, semoga betah ya tinggal disini," Ucapnya.
Perlahan ku membuka pintu rumah kontrakan itu, didalamnya sudah terdapat barang - barang yang lebih layak dibanding dengan barang - barang di rumah lamaku. Aku berjalan lebih ke dalam, memandangi setiap area yang ada di kontrakan itu. Semuanya masih cukup terawat, lantainya pun cukup bersih. Aku benar - benar sangat beruntung, karena memang harga sewanya pun tak terlalu mahal.
Namun nampaknya aku akan benar - benar kesepian. Bagaimana tidak, rumah yang biasanya ada Pak Anto sudah ku tinggalkan dan berganti dengan rumah yang penuh dengan kesunyian. Iya, Pak Anto, aku pun baru ingat kalau aku belum bertanya ke dia tentang siapa yang telah memberi tahu tentang keberadaanku kepada ayah dan ibu.
" Hallo, pak," Ucapku melalui telepon.
" Hallo Den, ada apa ?" Tanyanya ke aku.
" Pak, bapak ya yang memberitahu tentang keberadaanku kepada ayah dan ibu ?" Tanyaku balik.
" Memberitahu ? Nggak Den, sumpah bukan bapak yang ngasih tau," Jawabnya dengan nada serius.
" Bukan Pak Anto ya ?" Ucapku.
" Bukan Den, lagipula bapak kan sudah berjanji kalau bapak nggak akan memberitahu soal keberadaan Den Candra kepada siapapun. Masa bapak mau mengingkari janji itu, dosa lah. Dan pantang bagi bapak untuk mengingkari sebuah janji," Ucapnya panjang lebar.
" Iya Pak, aku percaya. Oh ya, aku udah pindah pak, aku mengontrak. Nanti aku kirim alamatnya lewat SMS," Kataku.
" Baik Den," Jawabnya singkat.
Aku pun menutup telepon dan mengirimkan SMS ke Pak Anto soal alamat kontrakanku. Kepercayaanku pada Pak Anto benar - benar besar. Mungkin disaat semua ikatan yang ku punya sudah tidak bisa ku percayai, ada suatu ikatan yang masih bisa ku percaya. Ikatan itu bukanlah keluarga, teman, kekasih ataupun sahabat, melainkan ikatan antara seorang pembantu dengan anak majikan. Heh, benar - benar sebuah realita yang aneh.
Pagi hari, setelah aku menginap semalaman di kontrakan baruku itu, aku kembali berangkat kerja. Sinar mentari pagi yang begitu cerah telah menyambut hariku. Alur kerja pun seperti biasa, lagi - lagi aku bisa mendapat pelanggan yang cukup banyak. Sang atasan benar - benar bangga kepadaku, ditambah lagi aku mendengar berita bahwa 2 orang jahat yang semalam menghadang sang atasan telah tertangkap.
Setelah pekerjaan yang melelahkan itu berakhir, aku pun pulang. Tapi nampaknya ada yang aneh, benar saja, aku hampir saja terlupa dan hampir pulang ke rumah lamaku. Untungnya ditengah jalan aku ingat dan akhirnya balik arah. Mungkin benar, kebiasaan itu sulit diubah. Apalagi ketika otak sedang lelah, ia akan menggerakkan seluruh anggota tubuh untuk menjalankan kebiasaan yang selalu dilakukan.
Di malam hari yang penuh dengan indahnya bintang malam, aku merenung di kamarku. Tak ada teman yang bisa diajak bicara, hanya bisa duduk merenungi masa lalu. Didalam keheningan malam itu, didalam kesepian yang ku alami, aku teringat kalau esok hari adalah hari libur kerja. Pastinya esok hari aku akan sendirian seharian kalau aku tidak keluar rumah. Aku harus mencari kesibukan di hari liburku. Bosan dengan kesepian, bosan dengan kesunyian. Ditambah lagi Pak Anto belum bisa mengunjungi kontrakan baruku. Benar - benar sebuah hari yang penuh dengan kesunyian.