
Pagi hari.........
Seperti biasa, aku bangun pagi sembari menikmati udara segar. Menatap bumi yang dihiasi indahnya embun pagi, lalu terpaan angin kecil yang membuat rambut lemasku acak - acakan. Di depan teras rumah sana aku berdiri, memandangi area sekitar yang nampak hijau. Meskipun kota tapi suasananya seperti pedesaan. Namun indahnya semesta tak bisa menggantikan indahnya kebersamaan. Se pagi itu ayah dan ibuku sudah harus berangkat kerja, dan terkadang pulangnya pun sampai larut malam.
Aku benci dengan kehidupan tapi takut menghadapi kematian. Kalaulah kematian itu tidak menyakitkan dan setelahnya tidak dimintai pertanggung jawaban mungkin aku sudah memilih mati daripada hidup dalam penderitaan abadi ini.
Tak lama kemudian, suara serak dari kakekku mengagetkanku. Jelaslah, beliau menyuruhku untuk siap - siap berangkat sekolah. Lalu bagaimana dengan nenek ?. Nenekku sudah meninggal dunia jauh sebelum aku terlahir ke dunia. Namun nenek dari ayahku masih ada, begitu juga dengan kakek. Di desa yang asri lah mereka berdua tinggal. Terkadang kami sekeluarga pun mengunjungi mereka. Namun hanya dalam waktu tertentu saja.
Di sekolah........
" Haaaaaaa, teman - teman, ada orang pincang nih haaaaaa," Ejek Indra saat sekolah.
" Selalu saja begini....." Batinku.
Dalam situasi seperti itu aku teringat dengan kata - kata sang raja, siapa lagi kalau bukan kakakku. Ketika ketakutan akan satu hal benar - benar sangat besar maka kelemahan pun akan besar pula.
" Apa aku pernah ada salah sama kamu ? Kenapa kamu membenciku ?" Tanyaku dengan suara lantang.
" Woy Candra, nyadar dong. Bahkan kakakmu saja membencimu, apalagi kami. Makanya jadi orang tu jangan suka nyusahin orang lain. Dasar lemah, pecundang," Ejek Indra.
" Jangan pernah bilang kakakku benci padaku...." Bentakku.
" Bagiku dia itu berperan ganda, tidak bahkan menjalankan tiga peran didalam hidupku. Sebagai kakak, sebagai teman dan sebagai pelindungku. Jangan pernah menilai seseorang jika kamu nggak tau hal yang sebenarnya," Ujarku.
" Terus mau kamu apa ?" Tanyanya.
Sontak tantangan itu membangkitkan gejolak amarah di hatiku. Mungkin inilah tekad api dan keberanian yang diwariskan sang kakak kepadaku. Ku langsung mendekati dia dengan raut wajah yang tidak biasa meskipun jalanku masih terpincang - pincang.
" Sebenarnya siapa yang kau sebut lemah, siapa yang kau sebut pecundang ? Kau berani karena banyak yang mendukungmu. Lalu bagaimana kamu jika berada di posisiku. Heh mungkin jauh lebih menyedihkan dariku," Ejekku.
" Prookkkkk". Sebuah pukulan keras mengenai wajahku. Namun aneh sakit itu tidak begitu terasa. Padahal jelas pukulan itu mengenai wajahku. Heh, benar....... aku sudah sering menerima hal seperti itu dari kakakku. Mungkin tubuhku sudah mulai terbiasa.
" Heh, harus kamu ketahui...... Selama ini aku sudah merasakan pukulan yang jauh lebih keras darimu. Pukulan lemah seperti milikmu itu tak akan bisa melukaiku," Ejekku yang bertujuan memancing emosinya.
" Majulah kalian semua," Tantangku.
" Berhenti.........!" Ucap Indra yang tengah terjatuh kepada para pasukannya.
" Tapi kalau kalian mau disebut pecundang, serang saja dia !" Tambah Indra.
Dengan spontan para kawanannya pun berhenti bergerak, mengikuti perintah sang atasan. Ya bisa dibilang Indra adalah ketua dari mereka.
" Candra, aku..... mengaku kalah, dan aku mengakui kehebatanmu. Bahkan saat kakimu sedang terluka kau masih bisa mengalahkanku. Maaf soal semuanya yang telah terjadi," Ucap Indra meminta maaf kepadaku.
" Kenapa baru sekarang kamu minta maaf, apa kamu tau rasanya diremehkan, dibully dan dicaci. Sakit sekali rasanya, seolah - olah semakin aku memberi kebaikan - kebaikan kepada kalian, semakin pula aku merasa termanfaatkan," Ujarku.
" Tapi aku bukanlah pendendam, aku akan memaafkan orang yang meminta maaf kepadaku," Tambahku.
Lewat kata- kata itu akhirnya terciptalah perdamaian diantara kami. Genggaman tangan yang erat itu menandakan perjanjian abadi diantara kami. Tidak ada kata musuh lagi, tidak ada kata meremehkan ataupun kata - kata buruk lainnya. Namun apapun hasilnya, perdamaian itu diawali dengan pertarungan sengit. Dan yang paling penting kejadiannya berada di sekolahan. Entah siapa yang mengadukan kejadian itu, tiba - tiba seorang guru yang gendut nan menakutkan memanggil kami ke ruang BK.
" Kalian ini, mau sekolah atau mau tawuran. Kalian ini disekolahin untuk belajar, buian untuk menjadi jagoan," Bentak pak Tono.
Lalu apa yang kami lakukan ? Ya pasti cuma diam, mendengarkan dengan seksama setiap kata amarah yang keluar dari mulut si gendut itu. Selain itu kami tidak mau membuatnya lebih marah lagi, karena rumor mengatakan, ketika si gendut itu sedang marah maka ia tidak segan - segan menampar ataupun memukul sang pelaku kesalahan.
" Besok suruh orang tua kalian datang kesini !" Perintah Pak Tono.
" Tapi pak.... Orang tua saya kerja," Jawabku memberanikan diri.
" Apa kamu nggak punya anggota keluarga lain ?" Tanya Pak Anto.
" Punya pak, Kakek dan kakak saya. Tapi kakek saya sudah tua, nggak mungkin kalau harus datang ke sekolah ini. Lalu kakak saya pun masih sekolah," Jawabku.
" Saya tidak mau tau, pokoknya harus ada yang datang. Kalau tidak ada, saya tidak segan - segan memberi hukuman yang berat pada kalian atau kalau perlu saya keluarin kalian berdua dari sekolah ini," Bentak Pak Tono.
Diam adalah cara terbaik untuk menghadapi situasi seperti itu. Hatiku cuma bisa berkata pada manusia gendut didepanku. Siapa dia, dia bukan kepala sekolah, apa hak dia mengeluarkanku dari sekolah. Perasaan kalut menggerogoti hatiku, amarah yang sedari tadi sudah padam kembali memunculkan wujudnya. Meskipun aku memang bersalah tapi entah mengapa seolah - olah amarahku memaksa untuk keluar dari tubuhku. Tapi tidak mungkin juga aku memukul si gendut itu. Walau bagaimanapun juga dia tetaplah guruku, seseorang yang harus digugu dan ditiru.