Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Kekuatan Tekad



Aku mungkin bisa melupakan tentang semuanya, tapi aku tak mungkin lupa tentang siapa yang menyebabkan itu semua. Aku selalu menganggap kalau semuanya adalah ulah kakakku. Dia sang perebut kebahagiaanku, menciptakan penderitaan abadi didalam hidupku. Meskipun dia telah memberikan sesuatu yang sangat berharga bagiku, tapi itu tidak bisa menggantikan sebuah kasih sayang. Aku selalu berharap ia bisa kembali seperti dulu lagi, seorang manusia konyol yang bisa membuat adiknya tertawa. Bukan sebagai manusia sok hebat yang seolah mengabaikan orang - orang disekitarnya.


Pagi hari sebelum berangkat kerja, aku berbincang - bincang dengan Pak Anto yang sedang berkunjung ke kontrakanku. Aku senang dia masih bisa meluangkan waktunya untuk menemuiku.


" Den Candra beneran nggak mau pulang ?" Tanyanya yang tanpa ku respon sedikitpun.


" Kasihan keluarga Den, tiap hari nyariin," Tambahnya.


" Entahlah Pak, aku butuh waktu untuk sendiri," Ucapku sambil mengenakan jaketku.


" Aku berangkat kerja dulu Pak," Pamitku sambil berlalu meninggalkan Pak Anto.


" Iya hati - hati," Ucap Pak Anto sedikit berteriak karena jarak yang sudah cukup jauh antara kami.


Lagi - lagi, aku bekerja dibawah teriknya sinar mentari. Namun aku tak pernah menyerah dengan keadaan itu. Berbulan - bulan aku menjalani pekerjaan itu. Bahkan ketika aku bekerja, aku pernah melihat orang tuaku yang mungkin sedang mencariku. Terkadang perasaan bersalah itu juga muncul dalam benakku, namun mungkin inilah jalan terbaik untuk hidupku kelak. Berbulan - bulan aku menghilang tanpa kabar, dicari kesana kemari pun tak jumpa. Terkadang aku juga mendapat keluhan dari Pak Anto bahwa ia selalu ditanyai tentang keberadaanku oleh orang tuaku. Tapi meski begitu mereka tak melapor ke polisi karena mereka percaya bahwa aku baik - baik saja.


" Den Candra, apa nggak apa - apa membiarkan mereka tak mengetahui keberadaan Den Candra ?" Pertanyaan Pak Anto di sore hari ketika aku sudah pulang kerja.


" Biarkan saja Pak, biarkan mereka tau bagaimana rasanya kehilangan. Lagipula baru beberapa bulan kan, sedangkan aku sudah bertahun - tahun tak pernah merasakan kebersamaan dengan mereka," Jawabku.


" Tapi Den, kasihan mereka," Ucap Pak Anto.


" Bapak cuma berpesan, jangan sia - siakan waktu Den Candra bersama keluarga !" Tambahnya.


Sontak aku kaget dengan perkataan itu. Kata - kata itu persis dengan kata - kata yang pernah di ucapkan seorang wanita cantik hari itu. Wanita yang tidak lain adalah Sherly.


" Kata - kata itu......."


" Kenapa Den dengan kata - kata itu ?" Pertanyaan Pak Anto yang memotong pembicaraanku.


" Nggak, nggak apa - apa," Jawabku.


Namun dari berbagai berita dari Pak Anto, kenapa cuma orang tuaku yang mencariku. Aku ingin kakakku juga mencariku dan mengucapkan kata maaf tentang perlakuannya yang tidak menyenangkan kepadaku. Mungkin ia benar - benar sudah tidak menganggapku ada, seolah - olah dia tidak peduli dengan kepergianku. Aku selalu teringat dengan masa - masa indah bersamanya, aku pun masih ingat bagaimana derasnya air mata itu menetes. Apalagi soal kata - kata konyol yang selalu membuatku tertawa.


" Kak, aku ingin bertarung lagi denganmu kak," Gumamku sambil memandang bintang malam yang berada di langit yang sama.


Aku berdiri di teras rumah kontrakan, memandangi langit penuh bintang dengan indahnya cahaya bulan. Namun dinginnya angin telah membuatku tak berkutik dan aku memutuskan untuk tidur.


Esok hari telah tiba, sebuah hari yang sangat bersejarah buatku. Di kala itu sang Supervisor atau atasanku di bidang marketing telah mengundurkan diri. Dan tak kusangka - sangka, Pak Ridho menunjuk aku sebagai penggantinya. Bukan karena ia merasa berhutang budi kepadaku, tapi karena ia percaya bahwa aku bisa mengemban tugas itu. Lagipula teman - teman yang merupakan seniorku pun tak ada yang protes, entah mengapa mereka menerimanya dengan lapang dada.


" Candra, kamu tidak akan menjadi seorang marketing lagi," Ucap Pak Ridho yang benar - benar mengagetkanku.


" Maksudnya Pak, saya dipecat ?" Kataku.


" Siapa yang bilang kamu dipecat, kamu akan menjadi Supervisor atau jabatan paling atas di bidang marketing," Ucap Pak Ridho.


Sontak semua teman - teman yang mendengar hal itu bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepadaku. Tak ada rasa iri, tak ada rasa dengki, semuanya menyalami aku dan mengucapkan selamat. Aku benar - benar tak percaya akan hal itu. Namun itu nyata, bukan sebuah ilusi. Seorang manusia lemah dan payah yang dulu selalu dibully, dicaci dan diremehkan akan menjadi atasan bagi banyak orang.


Malam hari di kamar rumah kontrakanku, aku merenung karena esok hari adalah tugas pertamaku menjadi seorang atasan. Jujur aku grogi dengan pangkat itu, karena aku pun tak pernah mempunyai pengalaman sebagai seorang atasan. Pengalamanku cuma menjadi bawahan yang disuruh - suruh. Berubah memang sulit, namun aku harus berusaha melakukannya.


" Kek, kalau kakek masih ada bersamaku, kata - kata apa yang bisa membuat diriku semangat," Gumamku.


Entah mengapa, seolah ada sesuatu yang terngiang di telingaku dan mengucapkan, " Berjuanglah, jangan ragu dengan hal baik yang kamu lakukan, karena keraguanmu itu malah akan membawa hal yang buruk". Benar saja, dulu kakakku juga pernah mengucapkan kalau ketakutan adalah kelemahan terbesar seseorang. Heh, meakipun aku membencinya tapi nggak tau mengapa kata - katanya selalu ada didalam ingatanku.


Esok hari yang cerah, sebuah hari dengan penuh teka - teki. Hari dimana aku harus memperjuangkan sebuah impian. Aku memimpin banyak orang yang dulu ada yang pernah menjadi seniorku. Aku bersyukur, ternyata mereka baik - baik. Dari banyaknya manusia yang ku pimpin, tak ada yang iri kepadaku. Bahkan disaat aku merasa tidak enak jika harus memerintah ataupun menegur, mereka mengatakan.


" Nggak usah sungkan mas, sekarang ini mas adalah atasan kami. Jalankan saja tugas mas itu," Ucap salah satu dari mereka dengan senyuman.


Memang semenjak aku naik pangkat, aku dipanggil " Mas" oleh mereka. Karena usiaku yang masih cukup belia, tidak mungkin juga kalau aku harus dipanggil " Pak ".


Hari - hari berlalu, nampaknya aku sudah terbiasa dengan pekerjaan baruku itu. Pendapatan pun naik drastis semenjak aku memimpin. Pak Ridho benar - benar bangga kepadaku. Namun hal aneh terjadi, ketika aku dalam perjalanan pulang samar - samar didepan sana terlihat seseorang sedang berdiri memandangku dibalik semak belukar. Meski mataku rabun, namun sosok itu jelas terlihat olehku meski wajahnya tak terlalu terlihat. Dan aku yakin betul bahwa ia memandangku, siapa lagi yang dipandang selain aku, sementara ditempat itu cuma ada aku dan dia. Dan tak tau mengapa, hati kecilku mengatakan kalau itu kakakku. Bodohnya aku, bukannya memeriksa siapa orang itu, aku malah tidak memperdulikannya dan berjalan menuju arah pulang. Ketika aku sampai dirumah kontrakan, entah kenapa rasa menyesal itu muncul. Kenapa aku tidak memeriksa siapa orang itu dan kenapa dia memandangku. Seolah - olah dia sedang tersenyum kearahku. Kalaupun hantu, mana mungkin ada hantu, sementara cahaya matahari masih bersinar terang menyinari bumi.