
Aku dan Sherly kembali melangkah ke tempat yang ingin kami tuju, ada beberapa tempat lagi yang harus kami datangi. Tak butuh waktu lama sudah 2 tempat bisa kami datangi, dan merekapun menyambut ajakan perdamaian itu dengan senang hati. Namun ada yang aneh dengan sikap Sherly. Entah kenapa semenjak pergi dari rumah Alan tadi, ia tak berbicara sepatah katapun. Wajahnya pun murung bagai mendung di langit yang sudah sangat hitam.
" Hey Sherly, kau kenapa ?" Tanyaku memberanikan diri untuk bertanya.
" Gak apa - apa," Jawabnya singkat.
" Sherly."
" Ngomong aja," Pintaku.
" Hufff, kenapa tadi saat di rumah Alan kamu gak jawab kalau kita pacaran ?" Tanyanya sembari melipatkan kedua tangannya didada.
" Emang kita pacaran ?" Godaku.
" Jahat banget sih, kan kamu yang nembak aku beberapa hari yang lalu," Jawabnya.
" Masih napak," Ucapku sambil memandangi kaki Sherly.
" Maksudnya ?" Tanyanya kebingungan.
" Katamu aku udah nembak kamu, tapi kok kamu masih hidup ?"
" Ihhh ngeselin banget sih," Ucapnya sedikit berteriak.
Ia berjalan mendahuluiku tanpa menghadap ke belakang. Terlihat manyun sambil kedua tangannya tetap dilipatkan didepan dadanya. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya.
" Berjalanlah disampingku, sayang."
Ia pun terhenti mendengar kata - kata itu. Entah mendapat keberanian dari mana, hingga aku berani mengucap sebuah kata yang selama ini teramat sulit untuk kuucapkan kepada orang yang kucintai. Aku yakin dia tersenyum, namun sayangnya aku tak dapat melihatnya karena memang posisinya yang membelakangiku.
" Heh, apaan, pake panggil sayang. Emang kita pacaran ?" Tanyanya sok jual mahal dan tetap masih dengan posisi membelakangiku.
Aku berjalan mendekati dia yang masih terdiam. Samar - samar kulihat senyum manisnya ketika aku sudah benar - benar dekat dengan dia. Ku genggam tangannya sembari menunjukkan senyuman tulus dari dalam hatiku.
" Sherly, kau lihat awan hitam diatas sana ?" Tanyaku.
" Iya," Jawabnya dengan tatapan penuh harap.
" Seperti itulah......"
Aku terdiam sejenak, kulihat wajah dia yang sudah mulai memerah. Matanya benar - benar menatapku dengan penuh harap. Aku tersenyum kecil ketika melihat wajah cantik itu yang tiba - tiba berubah menjadi sangat lucu.
" Seperti itulah tanda awal terjadinya hujan," Sambungku.
Perlahan senyumnya memudar ketika aku mengucap hal itu. Nampaknya ia kurang suka, dan bukan itulah yang ia inginkan. Tapi aku tetap tersenyum melihat ekspresi wajah yang sering berganti itu.
" Kenapa ?" Tanyaku.
" Kupikir kamu akan mengucapkan kata, seperti itulah keadaan hatiku jika tidak ada kamu. Tapi ternyata tidak," Jawab Sherly dengan wajah yang murung.
" Ya udah."
" Ya udah apa ?"
Aku terdiam sejenak, menatap langit yang semakin hitam pekat. Sial sekali nasib kami, rintik hujan mulai turun dan kami berada disebuah kawasan yang masih lumayan jauh dari perumahan. Aku mengajak Sherly untuk mempercepat langkah agar terhindar dari derasnya hujan. Namun sang hujan tak bisa diajak kompromi. Baru saja beberapa langkah kami berjalan, air sudah turun semakin deras.
Aku menggandeng tangan Sherly dan mengajaknya berlari. Hingga tak lama kemudian terlihat sebuah toko yang sangat sepi. Kamipun memutuskan singgah di teras toko itu untuk menghindari serangan peluru air yang datang dari hitamnya mendung di langit. Beruntungnya di teras toko itu terdapat sebuah kursi panjang yang bisa kami jadikan tempat duduk. Aku pun melepaskan jaketku yang basah kuyup akibat guyuran hujan tadi.
" Sherly........ kamu kenapa ?" Tanyaku ke Sherly yang tertunduk lemas dan melingkarkan tangannya ke kedua kakinya.
Tak ada jawaban dari dia, dari situ aku mulai panik dengan situasi yang terjadi.
" Huwaaa, panik ya."
Sebuah suara tiba - tiba muncul ketika aku mulai merasakan kepanikan yang luar biasa. Jelas suara itu dari Sherly, ia yang sedari tadi menundukan muka sembari melingkarkan tangannya ke kedua kakinya tiba - tiba mendongak dan teriak hingga mengagetkan aku.
" Cie panik." Godanya.
" Hufff."
" Ya ampun nih anak, aku pikir kamu kenapa - napa," Ucapku seraya mencubit pipinya yang lucu.
Wajahnya tiba - tiba memerah. Sebuah cubitan kecil bisa membuat seluruh area wajah dari seorang bidadari memerah, aneh sekali. Namun aku sadar akan sesuatu, sesuatu yang sangat aneh. Meski tingkahnya bisa membuatku tenang tapi tak bisa dipungkiri kalau ia benar - benar kedinginan. Karena hal itu terlihat dari tubuhnya yang menggigil. Walaupun tak terlalu terlihat, tapi sekilas aku bisa melihatnya. Biar bagaimanapun juga, Sherly adalah wanita yang kuat, yang selalu menyembunyikan kelemahannya didepan orang lain.
Refleks ku pegang tangannya, dan benar sekali, tangannya benar - benar sangat dingin. Ku genggam erat tangannya agar dingin itu tak begitu terasa. Aku benar - benar tak mampu melakukan apa - apa. Mau memakaikan jaketku ke Sherly, tapi jaketku masih basah kuyup. Sementara diluar pun hujan semakin menjadi - jadi dengan diikutinya kilatan - kilatan yang menakutkan, serta kencangnya hembusan angin yang benar - benar membuat suhu semakin dingin.
" Kamu tunggu disini ya, aku mau pinjam payung ke seseorang di rumah itu," Ucapku sambil menunjuk ke sebuah rumah yang tak begitu jauh dari tempat kami berada.
Aku sudah begitu panik, tak peduli dengan hujan, angin dan petir diluar sana, aku harus melewatinya. Namun baru saja aku mau melangkah, sebuah tangan menghentikan pergerakanku. Sebuah tangan yang dingin bagai es.
" Nggak usah pergi, Candra !" Pintanya.
" Kenapa ?"
" Aku gak apa " kok."
" Jangan sok kuat, kamu itu kedinginan hebat," Ucapku.
" Rasa dingin di tubuhku ini tidak sebanding dengan sifat dinginmu padaku," Jawabnya.
Aku tersenyum kecil, geli mendengar jawaban lucu dari Sherly.
" Kapan aku pernah bersifat dingin sama kamu ?" Ucapku seraya tertawa kecil.
" Terkadang."
" Hmmm," Gumamku.
" Apaan ?"
" Kamu bersifat dingin sama aku," Jawabnya.
Lagi - lagi, percakapan itu membuatku tersenyum. Aku benar - benar tidak sadar kalau setiap kata yang ku ucapkan tadi dinilai dingin oleh Sherly.
Percakapan panjang itu telah membuat niatku terlupakan, lagipula badan Sherly juga sudah tak begitu menggigil. Rasa dingin itu telah menghilang meski belum sepenuhnya.
Tak terasa sudah cukup lama kami menunggu, kira - kira sudah sekitar setengah jam. Hingga rintik - rintik air itu sudah mulai reda.
" Ayo !" Ajak Sherly.
" Kemana ?"
" Menjalankan misi lah."
" Hmm, sebaiknya kamu istirahat saja di rumah. Ayo, aku antar pulang," Ucapku dengan nada santai.
" Nggak mau."
" Sherly....."
" Candra, plisssssss !" Pintanya.
" Hufff, ya udah, ayo !" Ajakku.
Kamipun melanjutkan perjalanan, karena hari yang sudah mulai siang meski sang mentari belum juga muncul, ku persingkat saja waktu untuk bersilaturrahmi. Hingga tinggal satu rumah yang belum kami datangi, sebuah rumah yang salah satu penghuninya benar - benar kubenci dulu. Bahkan aku ingat betul bagaimana caranya memperlakukan aku dulu, hampir sama dengan cara para ******** memperlakukan mangsanya diluar sana.
" Kenapa ?" Sebuah pertanyaan yang terdengar ambigu mendarat di indra pendengaranku.
" Apanya ?" Tanyaku balik.
" Kamu kayaknya lagi kesel."
" Kamu marah ya sama aku ?" Ucap Sherly.
" Nggak, cuma teringat masa lalu aja," Jawabku.
" Jangan - jangan......."
" Kamu nggak mengurungkan niat kamu kan ?" Tanyanya.
" Nggak mungkin lah."
" Baguslah kalau begitu."
Tak butuh waktu lama setelah percakapan itu terjadi, didepan sana sudah nampak sebuah rumah mewah yang tidak lain adalah rumah tujuan kami.
Kamipun langsung mengetuk pintu hingga penghuninya membukakan pintu. Nampaklah seorang pemuda yang berwajah sangar setelah pintu itu terbuka. Tentu saja pemuda itu adalah pemuda yang kami cari, Ando namanya.
" Candra....." Ucapnya dengan sangat kaget.
" Ada Sherly juga."
Untuk kesekian kalinya, aku disambut dengan ekspresi terkejut. Mungkin itu biasa bagi orang yang mempunyai salah saat bertemu dengan orang yang disalahinya.
Tak mau basa - basi, aku langsung memberitahukan maksud kedatangan kami ke rumahnya. Sebuah kalimat ajakan perdamaian ku lontarkan kepadanya dengan perasaan yang sedikit ragu.
" Kalau sekarang jadi seperti ini, kenapa dulu kamu nggak membalas semua perlakuan burukku, Candra ? Jujur aku sangat merasa bersalah sekarang," Ucapnya.
" Kalau saja sebuah pertarungan selalu diakhiri dengan uluran tangan tanda perdamaian, dulu aku pasti menyelesaikan masalah kita dengan cara itu, Ando," Jawabku.
Ia terdiam, terpaku mendengar kata - kataku. Namun kemudian bibirnya terangkat, jujur aku baru kali ini melihat ia tersenyum tulus kepadaku. Perbincanganpun terus kami lanjutkan hingga hari sudah semakin siang. Sang mentari pun sudah mulai menampakkan kehadirannya. Perlahan cahaya perdamaian muncul dari himpitan awan putih diatas sana.
***
Di taman belakang rumah
" Hufff, akhirnya ya, semuanya beres," Gumam Sherly.
" Iya, terima kasih, Sherly."
" Udah, santai aja."
Pancaran cahaya cinta muncul dari wajah seorang gadis belia itu. Bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman manis. Walaupun sang mentari sudah mulai muncul, namun rasa panasnya belum juga terasa. Wajar saja, masih ada kumpulan awan putih yang sekejap menutupinya.
" Sherly, sekarang biarkan aku memberikan sesuatu padamu. Hanya sebuah kata - kata, namun sangat langka."
" Sepatah kata yang tak pernah diberikan seorang Candra kepada orang lain," Ucapku sambil menggenggam tangannya erat.
" I love you." Sambungku.
Hanya dengan sepatah kata itu saja wajah Sherly menjadi memerah. Ia tak mampu berkata - kata apapun untuk membalas pernyataanku.
" Cie - cie."
Sebuah suara tiba - tiba terdengar dari balik pohon yang berada tidak jauh dari bangku yang kami duduki. Sudah bisa ku tebak siapa sosok dibalik suara itu. Dan benar saja, seorang kakak yang menyebalkan itu muncul dari balik pohon dan memamerkam sebuah kamera.
" Kenangan kedua sudah terabadikan," Ucapnya.
Akupun tersadar bahwa ia telah merekam kejadian tadi. Dan seperti masa - masa kecil dulu, akupun mengejar kakakku sembari bertengkar dengan canda.
" Maaf jika marahku membuatmu terpukul, karena itu adalah caraku untuk membuatmu kuat akan kerasnya kehidupan. Maaf jika sifat dinginku membuatmu bingung, karena itu adalah caraku untuk mendidik mentalmu. Dan maaf pula jika candaku membuatmu geram, karena itu adalah caraku untuk membuatmu tertawa." - Iqbal -