Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Dia Berubah ( Lagi )



Sang waktu yang terus - terusan berputar, membawaku ke sebuah masa yang begitu mendebarkan. Masa sekolah dengan jenjang tertinggi dan kelas tertinggi pula. Ketika itu pula sang kakak tengah berada di kehidupan yang sangat menakjubkan, dimana dengan kejeniusan, kepintaran dan ketangkasannya ia telah berhasil menjadi orang yang sangat dikagumi dan dihormati banyak orang. Di usianya yang masih cukup belia itu ia sudah menjadi seorang direktur di sebuah perusahaan besar. Padahal ia pun tak mengenyam bangku kuliah. Kakakku adalah orang pertama yang bisa menjadi direktur tanpa harus kuliah. Pantas memang, karena kejeniusannya, kepintarannya, ketangkasannya, pokoknya semua yang ada didalam dirinya sudah cukup untuk membuatnya menjadi sukses tanpa harus sekolah tinggi.


" Wahhh hebat ya kamu, Bal," Puji ibuku pada kakakku yang telah menjadi direktur.


" Iya, hebat. Di usiamu yang masih cukup muda kamu sudah bisa jadi direktur di perusahaan besar," Lanjut ayahku.


Tanpa diperintah, timbullah rasa iri di hatiku ketika mendengar segala bentuk pujian dari ayah dan ibuku kepada kakakku. Selain itu aku juga takut, takut kejadian 2 tahun silam terjadi lagi. Sebuah kejadian dimana aku selalu dibanding - bandingkan dengan kakakku. Benar - benar sangat menyakitkan, aku berharap itu hanya perasaanku saja. Karena aku sudah larut dalam ketakutan.


Namun ternyata, itu bukanlah ketakutan belaka. Itu adalah realita yang tak seharusnya ada. Ibuku, ayahku, dan bahkan orang - orang di sekitarku. Mereka semua kembali membanding - bandingkan aku dengan kakakku. Hampir seperti waktu itu, tapi malah lebih parah lagi.


" Ehh ibu - ibu, udah pada denger belum ?" Tanya seorang perempuan yang kira - kira sudah berumur 40 - an tahun saat belanja di tukang sayur.


" Denger apa ?" Tanya ibu - ibu yang lain.


" Itu lho, anaknya Pak Yono dan Bu Sarah, katanya udah jadi direktur sekarang," Jawabnya.


" Iqbal ya, hebat banget. Padahal baru lulus SMA 2 tahun yang lalu lho," Ucap ibu - ibu yang lain.


" Iya, beda ya sama adiknya. Saya pernah lihat lho kalau dirumah tu, adiknya Iqbal, si Candra itu lho selalu dimarahi oleh orang tuanya. Itu tandanya kan dia nakal," Ucapnya.


Nasib sial menimpaku, disaat pembicaraan yang menyakitkan buatku itu berlangsung, aku sedang berada tidak jauh dari sana. Bahkan akupun mendengar semua yang mereka bicarakan. Saat itu aku benar - benar kesal, rasanya tanganku ingin memukul mulut - mulut yang telah mencaciku. Namun hati kecilku sedang menangis dan tak sanggup untuk mendekati mereka. Akhirnya dengan perasaan yang tak karuan aku pun pulang.


" Kak, dipanggil ibu tu," Ucapku ke kakakku yang saat itu berada di kamarnya.


Namun apa yang ku dapat. Matanya hanya menatap fokus ke smartphone nya. Tak merespon kata - kataku sedikitpun. Padahal beberapa waktu yang lalu responnya dengan setiap perkataanku itu sangat cepat. Meskipun responnya kala itu sering dengan kata yang menyebalkan, tapi entah kenapa dengan kata - kata yang dia ucapkan, rasanya itu sangat menyenangkan. Sekarang ia sudah berubah drastis. Rasanya, raganya itu ada didekatku namun jiwanya berada jauh ditempat yang tak bisa ku temui.


" Huff, aku tau kak. Dunia kita sudah berbeda, dunia orang dewasa dan dunia anak remaja. Tapi bisakah kau sekali saja, kembali menjadi anak kecil bersamaku. Agar kita bisa bermain bersama lagi," Gumamku ketika berada di kamar.


Jujur aku kecewa dengan sifat kakakku kepadaku. Sejak menjadi direktur, dia semakin berbeda dari kakak yang ku kenal dulu. Iya, pasti itu penyebabnya. Apa dia merasa dirinya itu sudah menjadi yang paling hebat, sehingga dia menganggap orang lain itu hanya kumpulan sampah. Dan apa dia sudah melupakan kewajibannya sebagai seorang kakak. Aku selalu termenung memikirkan hal itu, berharap apa yang ada di pikiranku itu salah.


Namun setiap detik, setiap menit ataupun setiap jam, hubunganku dengan kakakku tetap sama saja. Seolah - olah dia adalah orang yang benar - benar tidak pernah ku kenal sebelumnya. Rasa sakit hati dan penderitaanku pun bertambah dikala orang tuaku dan orang - orang di sekitarku sering membanding - bandingkan aku dengan kakakku. Cuma Pak Anto, cuma dia yang selalu memberiku semangat agar aku mampu melalui semua itu.


" Aku berjanji dengan rasa sakit hatiku ini, aku akan menjadi orang yang jauh lebih hebat dari kakakku. Akan ku buktikan pada mulut - mulut yang telah berbicara seenaknya tentang aku. Akan ku buktikan bahwa aku bisa," Janjiku.


Kembali aku teringat dengan ucapan sang inspirator, yaitu kakekku. Ia pernah berkata bahwa kuat yang sebenarnya itu dari hati. Artinya, kalau aku bisa melewati semuanya berarti aku kuat. Namun tentu saja itu hal yang sulit bagiku. Sebuah hal yang rasanya cukup mustahil untuk bisa ku lakukan. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan untuk menghadapi hal yang sudah sekian kalinya kurasakan.


Aku ingin bebas, aku ingin bebas dari segala bentuk kata yang membuat hatiku sakit. Rasanya, keinginanku untuk meninggalkan semuanya semakin kuat. Aku ingin pergi ke suatu tempat dimana tidak ada cacian dan hinaan. Mungkin itulah jalan terbaik untuk mengakhiri segalanya. Namun aku masih sekolah, jikalau aku meninggalkan semuanya saat ini, lalu bagaimana dengan sekolahku. Paling tidak aku harus lulus dulu, baru aku akan benar - benar menjalankan rencanaku.


Namun tentu saja, di setiap hari yang ku lalui, aku selalu mendapat perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dari semuanya. Hal yang ku idam - idamkan dari dulu itu nampaknya telah sirna. Kebersamaan hanyalah omong kosong belaka, tak ada yang namanya kebersamaan ketika semua orang sibuk dengan dirinya masing - masing. Perlakuan mereka kepadaku telah membuat pola pikirku berubah. Lambat laun, dulu diri yang sangat menghargai suatu ikatan telah berubah ketika aku mendapat perlakuan yang menyakitkan dari mereka. Apalagi saat aku melihat teman - temanku yang terlalu terobsesi dengan kakakku.