
3 hari lamanya kakakku dirawat di rumah sakit. Keadaannya pun sudah mulai membaik. Benar saja, ia adalah sosok manusia yang kuat, yang seakan - akan tak pernah peduli dengan rasa sakitnya. Disamping anugerah dari sang kuasa, kuatnya tekad untuk bertahan hidup juga mempengaruhi kecepatan sembuh lukanya. Karena hal bodoh yang sering dilakukan manusia adalah berpikir yang seharusnya tidak ia pikirkan, dan pikiran itu akan menjadi sebuah kenyataan. Namun kakakku berbeda, ia selalu optimis dan tidak memikirkan yang bukan - bukan, alhasil kesembuhannya pun terasa sangat cepat.
" Candra, terima kasih darahnya, sebab darah ini aku masih bisa memandang alam semesta," Ucap kakakku dengan senyumannya meski masih terbaring lemas.
" Dan terima kasih atas tameng dari tubuhmu itu, sebab itu aku masih bisa merasakan indahnya kebersamaan yang selama ini ku idam - idamkan," Balasku.
" Hmmm, kamu hebat, Candra," Ucap kakakku.
Aku pun merasa percaya diri tingkat tinggi akibat kata - kata itu. Akhirnya kata - kata itu terucap lagi dari mulut orang yang selama ini sangat ingin kukalahkan.
" Tapi masih hebatan kakak," Sambungnya.
Senyumku berubah menjadi rasa murung, baru saja aku merasa percaya diri yang sangat tinggi. Namun rasa itu dalam sekejap menghilang akibat kata - kata menyebalkan itu. Sementara itu, sang kakak malah senyum - senyum nggak jelas sambil menatapku.
" Bercanda....., kamu hebat, lebih hebat dari kakak. Kakak akui itu," Ucapnya yang lagi - lagi mengubah ekspresiku.
" Jangan terlalu serius dalam menyikapi sebuah kehidupan, terkadang kita juga harus menjadi orang konyol untuk membuat hidup kita lebih berwarna," Tambahnya.
Entah apa yang terjadi, entah bagaimana air mata ini tiba - tiba menetes. Rasanya ingin sekali aku membuang semua air mataku. Sebuah rasa rindu yang akhirnya bisa terwujud.
" Setelah kakak sembuh, bertarunglah denganku lagi kak !" Ucapku sambil mengusapkan air mata dan mengubah ekspresi sedihku menjadi sebuah senyuman.
" Kamu benar - benar sudah tumbuh menjadi seorang laki - laki yang tangguh, Candra," Ucap kakakku kepadaku.
Waktu demi waktu keadaan kakakku pun sudah mulai membaik, namun dari pihak rumah sakit belum diperbolehkan pulang. Jelas saja, luka tusukan ditambah dengan tendangan keras ke kakinya mungkin akan sangat beresiko jika lolos dari pengawasan dokter. Ketika orang lain cemas dengan keadaannya, kakakku malah sangat santai. Terkadang aku pun berpikir, dari apa ia tercipta, hingga ia bisa sekuat itu. Bahkan ketika aku membayangkan tusukan pisau tajam itu seandainya menghujam tubuhku, aku pun menggigil ketakutan. Rasanya benar - benar tak bisa diungkapkan dengan kata - kata, padahal itu cuma bayangan, apalagi kalau kenyataan.
Di pagi hari yang cerah, lebih tepatnya di hari Minggu. Dikala langit pagi dihiasi dengan kabut yang lumayan tebal, sehingga sinar sang mentari pun tak ada yang bisa menembusnya. Saat itulah saat dimana sesuatu yang konyol terjadi, kebodohan dari kakakku yang mengajakku ke tempat dimana ia ditikam oleh kawanan penjahat itu. Aku tak tau maksud dan tujuan ia sebenarnya mengajakku ke tempat itu. Namun aku punya firasat tidak enak, apa ia akan mencari 3 penjahat itu disana dan membalaskan dendamnya ?. Namun tak mungkin, dia hanya bisa bergerak dengan bantuan kursi roda, mana mungkin ia akan melakukan pertarungan dengan keadaannya yang seperti itu.
" Candra...." Panggilnya.
" Ada apa kak ?" Tanyaku.
" Temenin kakak jalan - jalan, bosen tiduran terus," Keluhnya.
" Jalan - jalan kemana kak ?" Tanyaku lagi.
" Ya kemana aja, kalau bisa ke tempat dimana aku ditikam oleh para penjahat itu," Ucapnya serius.
" Mau apa kak ke tempat itu, bukannya sangat bahaya ya, apalagi keadaan diluar yang penuh dengan kabut. Pastinya tempat itu akan sangat sepi dan tak menutup kemungkinan jika akan ada banyak orang jahat disana. Lagipula apa kakak nggak trauma dengan tempat itu ?" Tanyaku dengan ucapan yang panjang lebar.
" Tenang saja, jangan berpikiran negatif dulu. Karena sesuatu itu akan terjadi disaat kamu berpikir bahwa itu pasti akan terjadi. Dan tujuan kita kan untuk jalan - jalan," Jawab kakakku.
Aku pun mendorong kursi roda tempat dimana kakak menaruh tubuhnya. Rasanya lama sekali tak merasakan kebersamaan bersamanya. Selama ini aku cuma bisa merasakannya lewat mimpi, entahlah, tak tau mengapa aku sering sekali memimpikan tentang kebersamaan bersama kakakku. Mungkin itulah yang disebut rindu, dan sang pencipta tau rasa itu. Karena itulah, dia membuat hambanya masuk kedalam mimpi yang layaknya sebuah kenyataan.
" Lama juga ya rasanya, dan sesuatu yang ku impi - impikan akhirnya terwujud," Ucapku sambil mendorong kursi roda yang ditempati kakakku.
" Tidak juga, selama sebuah nama abadi didalam hati seseorang maka selama itu juga orang itu akan terasa selalu bersamanya," Jawab kakakku.
" Heh, selalu saja ada jawaban ataupun kata - kata yang keluar dari mulut kakak yang membuatku tak bisa menyangkal itu," Ucapku.
Sontak tawa kecil terdengar dari mulut sang kakak. Sembari berjalan berkeliling tempat yang penuh dengan gelapnya kabut pagi itu kami bercanda bersama. Melakukan aktivitas yang sudah cukup lama tidak kami lakukan. Hingga pada akhirnya kakak menyuruhku menghentikan doronganku ke kursi rodanya disaat kami sampai di sebuah tempat. Sebuah tempat sepi yang cukup bersejarah buatku. Tempat dimana aku hampir kehilangan seseorang yang sangat berharga di hidupku.
Kabut tebal masih menyelimuti indahnya pagi, senyuman mentari pagi pun belum bisa terlihat seperti biasanya. Hanya hembusan sang angin yang menerpa tubuh hingga membuat rambut hitam lemasku acak - acakan. Kakakku menyuruhku untuk jalan lagi, dan ke khawatiranku itu benar - benar terjadi. Kawanan penjahat yang sama dengan penjahat penusuk kakakku itu nampak didepan sana, namun kali ini cuma 2 orang yang nampak, entah hipang kemana yang satunya, hingga mereka pun menyadari kehadiran kami.
" Dasar penantang maut," Celaku ke kakakku dengan sangat kesal.
Dia malah tertawa ketika mendengar ucapanku, aku yang tak sempat berbalik arah berhasil dihadang oleh mereka. Sang kakak malah sok - sokan ingin melawan mereka. Dia mulai berdiri dari kursi rodanya, namun ku cegah.
" Stop kak, biar aku yang melawan mereka. Lihatlah dan nikmati saja pertarunganku !" Ucapku dengan penuh percaya diri disamping wajah cemas kakakku.
" Jadi kalian lagi, dan lo, masih hidup ya lo ?" Tanya penjahat yang waktu itu menusuk perut kakakku.
Tanpa banyak bicara, aku langsung berada didepan 2 penjahat itu dan bersiap untuk melakukan pertarungan. Yang sangat ku syukuri adalah, untung saja mereka tak membawa senjata tajam seperti waktu itu. Hingga pertarungan sengit pun berakhir dengan kemenanganku. Kedua penjahat itupun lari terbirit - birit.
" Gila.... Kali pertama kamu memperlihatkan kehebatanmu didepan kakak," Ucap kakakku.
" Gimana, hebat kan ?" Ucapku membanggakan diri.
" Sombong," Cela kakakku.
" Jangan pernah menganggap orang yang selalu memperlihatkan kehebatannya itu adalah orang yang sombong. Karena bisa jadi ia adalah orang yang dulu selalu diremehkan oleh orang lain dan ia cuma ingin membuktikan bahwa dia bisa," Ucapku panjang lebar.
Wajah kakakku tiba - tiba berubah, mungkin kata - kataku itu membuat ia merasa bersalah dengan semua yang telah terjadi.
" Maafkan aku, maafkan kakakmu ini yang membuatmu merasa teremehkan," Ucapnya.
" Tidak masalah," Jawabku singkat.
Kami pun melanjutkan perjalanan berkeliling didalam gelapnya kabut yang menutupi daratan. Hingga ketika perlahan sang pagi sudah mulai menghilang, mentari pun berhasil menembus kabut itu. Dan saat itu pula kami kembali ke rumah sakit.