Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Perjalanan Yang Mencekam



Saat hati sudah tak sanggup menghadapi, mungkin hanya satu yang bisa dijadikan jalan keluar. Yaitu pergi meninggalkan segala yang menyebabkan rapuhnya hati. Hari itu, tepatnya di malam yang sunyi, aku benar - benar berencana ingin pergi dari rumah itu. Lagipula aku pun sudah lulus SMA dan sudah mendapat ijazah pula. Tak ada yang tau soal kepergianku di malam itu. Ketika semuanya sudah siap, dalam arti semua barang bawaanku sudah ku kemasi sekaligus tekadku sudah cukup mantap. Aku pun keluar diam - diam dari rumah itu tanpa sepengetahuan siapapun.


" Aku akan pergi, ayah, ibu, kakak, Pak Anto, teman - teman dan semuanya. Tapi suatu saat nanti aku pasti akan kembali dengan membawa senyuman, meskipun kalian telah membuatku pergi dengan membawa air mata," Batinku ketika berada di halaman rumah sembari menatap rumah mewah itu.


Langkahku di mulai dari sana, dari tempat yang bisa disebut neraka duniaku. Aku akan mencari keberadaan surgaku, setelah itu akan ku jadikan neraka itu menjadi surga. Itulah mimpiku, yang entah bisa terwujud atau tidak. Pukul 21.30. Sebuah malam yang sunyi, yang dipenuhi dengan suara binatang malam serta terpaan angin malam yang menusuk tulang. Aku berjalan meninggalkan rumah itu dengan rasa yang bercabang - cabang. Aku tak tau rasa apa itu, apa senang, sedih ataupun yang lainnya. Malam itu sungguh sepi, tak ada satupun manusia yang ku temui sepanjang jalanku.


Hingga ketika aku sampai di jalan raya, aku menunggu kendaraan yang lewat untuk ku tumpangi menuju tempat yang kutuju, yaitu rumah lamaku. Entah kenapa pikiranku menuntunku untuk kesana lagi. Jarak antara rumah baru dan rumah lamaku tak terlalu jauh, hanya beberapa kilo meter saja, nggak sampai puluhan. Namun sayang, malam itu benar - benar sunyi, bahkan kendaraan pun tak ada satupun yang lewat. Disitu aku berpikir, apa itu takdir dari sang pencipta supaya aku tetap tinggal bersama keluargaku di neraka dunia itu. Akan tetapi tekadku terlalu kuat, aku tetap memaksa untuk pergi walaupun harus berjalan kaki.


" Aneh, ada apa ini, tak seperti biasanya. Kenapa tak ada satupun kendaraan yang lewat ?" Batinku sambil terus melangkah menyusuri sepinya jalanan.


Tak kusangka, kaki yang sedari tadi berjalan sudah mulai penat. Rasanya ingin sekali istirahat. Namun di kanan kiri jalan hanyalah deretan pepohonan serta semak - semak yang begitu lebat. Aku termenung sejenak, rasanya aku mulai menyesal dengan keputusanku. Lalu kembali berjalan ditengah malam yang mencekam. Kulihat jam tanganku waktu itu sudah menunjukkan pukul 23.00. Hampir tengah malam, tapi aku masih berada di jalanan sepi yang tak ada satupun manusia yang lewat. Ketakutan menggerogoti hatiku dikala aku terbayang - bayang wajah hantu yang menyeramkan. Memang, ketika aku kesepian aku sering membayangkan hal - hal yang menakutkan, yang tidak seharusnya aku bayangkan. Dan satu lagi ketakutanku, yaitu jikalau ada orang jahat yang menghadangku.


" Bagaimana ini ? tak kusangka jalanan akan se sepi ini," Batinku.


Ke khawatiranku ternyata benar - benar terjadi, didepan sana ada 2 orang yang naik di satu motor. Awalnya kupikir mereka hanyalah orang biasa yang mungkin terjadi masalah dengan motornya, bahkan aku pun berniat membantunya. Namun badanku gemetar disaat aku menyadari bahwa 2 orang itu adalah begal yang membawa senjata tajam. Ketakutanku bertambah ketika mereka menyadari keberadaanku. Dengan pisau yang siap menikamku kapan saja itu mereka mengejarku. Aku lari dengan sisa tenaga yang ku punya, menerobos semak belukar dan rimbunnya pepohonan, hingga bersembunyi diantara semak dan pepohonan. Samar - samar ku dengar pembicaraan 2 begal yang sangat mengerikan itu.


" Sial, kemana larinya orang itu ?" Ucap satu begal yang bertubuh kekar. Meskipun gelap tapi masih terlihat bentuk tubuhnya.


" Ayo kita cari, mungkin masih berada di sekitar sini," Ucap begal yang satunya, yang memiliki tubuh yang tidak terlalu kekar tapi badannya sangat menjulang tinggi.


" Lebih baik kita berpencar !" Kata begal bertubuh kekar.


Dengan cepat mereka melesat mencari keberadaanku, aku sudah tidak bisa apa - apa. Pikiranku cuma malam itu adalah akhir dari hidupku. Mereka bisa saja mengepungku di 2 arah yang berbeda. Berbagai doa yang ku hafal ku lafalkan, hingga akhirnya 2 begal itu kembali ke tempat dimana mereka memutuskan untuk berpencar tadi.


" Ada nggak ?" Tanya begal bertubuh kekar.


" Nggak ada," Jawabnya.


" Sial," Umpat begal bertubuh kekar.


" Lebih baik kita kembali dan cari mangsa lagi !" Ajak begal yang satunya dan perlahan mulai berjalan menjauhi aku.


Hembusan nafas yang sedari tadi kutahan, akhirnya ku keluarkan. Suara nafas yang terengah - engah itu menghiasi sepinya malam waktu itu. Perlahan ku normalkan nafasku hingga sudah tidak tercipta bunyi terengah - engah. Hatiku sedikit lega dan mencoba bangkit untuk melanjutkan perjalanan lagi.


Aku memilih jalan yang berbeda agar terhindar dari 2 begal itu lagi. Meski harus melewati rerimbunan semak dan pepohonan yang berada di tepi jalanan. Tak ku hiraukan ketakutanku terhadap hantu. Tak ku hiraukan pula jikalau ada binatang buas, seperti ular yang bisa saja menggigitku. Hingga didepan sana, nampaklah cahaya terang yang mungkin berasal dari lampu - lampu rumah penduduk. Dengan perasaan lega, kuhampiri cahaya itu. Dan benar saja, aku sudah masuk area perumahan.


" Lebih baik aku istirahat dulu malam ini," Batinku.


Dugaanku ternyata benar, di masjid itu ada orang selain aku. Ketika aku selesai berdoa, aku dihampiri oleh lelaki yang kira - kira berumur 50 -an tahun yang berpakaian seperti ustad.


" Assalamualaikum," Ucap laki - laki berpeci itu.


" Waalaikum salam," Jawabku.


" Adik bukan orang sini ya ?" Tanyanya.


" Oh bukan Pak, perkenalkan, nama saya Candra, saya ini sedang dalam perjalanan ke suatu tempat," Ucapku sambil menyodorkan tanganku.


" Ohh iya nak Candra, nama saya Sobri, saya ustad disini. Tapi panggil saja Pak Sobri," Ucapnya sambil bersalaman denganku, dan sebagai tanda hormat dan sopanku aku pun mencium tangannya.


" Pak, bapak kan ustad, tapi kenapa nggak mau dipanggil ustad ?" Tanyaku terheran.


" Nak Candra, bapak itu tidak mencari julukan, tapi bapak mencari kemuliaan dari Allah SWT," Jawabnya sambil tersenyum.


Aku tersenyum mendengarnya, jarang sekali ada ustad yang nggak mau dipanggil ustad. Pembicaraanpun terus berlanjut hingga akhirnya Ustad Sobri pamit mau pulang.


" Ya sudah, nak Candra, bapak pamit pulang dulu," Pamitnya.


" Eh bentar pak, apa saya boleh menginap semalam saja di masjid ini ?" Pintaku.


" Ha ha ha, ya boleh lah. Kenapa nggak boleh ?. Masjid itu kan rumah allah, siapa saja boleh menempatinya, asalkan harus jaga adab," Ucap lelaki berjenggot panjang itu.


" Terima kasih pak," Ucapku sambil mencium tangannya berkali - kali.


" Iya, sama - sama. Kalau begitu, bapak pamit pulang dulu ya, assalamualaikum," Ucapnya.


" Waalaikum salam," Jawabku dan dia pun pergi menuju rumahnya.


Aku pun menginap di masjid besar itu. Hingga sebelum azan subuh berkumandang, aku sudah bangun dari tidur dan menanti azan subuh. Dan ketika azan sudah berkumandang, kulihat ustad Sobri juga datang untuk sholat berjamaah di masjid itu. Tak lama kemudian masjid besar itupun telah dipenuhi oleh orang - orang yang menunaikan sholat jamaah. Hingga pada akhirnya, sholat subuh telah selesai dan aku pun harus melanjutkan perjalananku. Sebelum itu tak lupa aku pamit pada Ustad Sobri sekaligus berterima kasih atas kebaikannya.


Pagi itu pun aku melanjutkan perjalanan. Dan tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah lamaku, hanya memakan waktu beberapa menit. Karena memang jaraknya yang tak terlalu jauh serta aku menempuhnya dengan naik angkot.