
Esok hari yang ku nantikan pun tiba, dikala sang fajar telah menampakan cahayanya, serta embun pagi yang teramat jernih membasahi bumi, aku sudah bersiap - siap untuk memulai hari bersejarahku. Sebuah hari yang akan menjadi langkah awalku menuju kehidupan yang lebih baik. Pagi itu, aku sudah bersiap, lengkap dengan baju yang rapi dan surat - surat yang ada di genggaman tanganku. Ketika itu ku lihat Pak Anto yang telah datang ke rumah lamaku.
" Eh Pak Anto, udah dateng aja nih kesini," Sapaku.
" Iya lah Den......... Lho, Den mau kemana kok rapi amat ?" Tanyanya.
" Mau cari kerja pak," Jawabku.
" Hah, cari kerja ? Beneran nih Den ?" Tanyanya terkaget.
" Iya pak..... Oh ya, soal keberadaanku, bapak nggak ngasih tau keluargaku kan ?" Tanyaku balik.
" Tenang aja Den, semuanya aman," Jawab Pak Anto sembari memberikan senyumannya.
" Huff, baguslah pak, ya udah aku berangkat dulu ya," Ucapku sambil memakai jaket.
" Iya Den, semoga dapat pekerjaan ya," Jawabnya.
" Iya pak, assalamualaikum," Ucapku sambil berlalu pergi.
" Waalaikum salam," Jawab Pak Anto.
Aku berjalan keluar dari pintu pagar rumah itu. Dengan tekad dan keyakinan yang kuat, aku akan berusaha untuk mewujudkan semua angan, mimpi dan cita - citaku. Petualangan akan dimulai, sebuah petualangan mencari secuil harapan untuk meraih suatu impian. Semua dimulai dari depan pintu pagar itu, pintu pagar dari sebuah rumah kenangan. Aku berjalan tanpa ada seorang tetanggapun yang sadar bahwa itu aku.
Ketika raga yang sudah dirasuki tekad yang kuat ini sampai di jalan raya, kini tibalah saatnya aku berjuang demi sebuah impian. Setiap tempat kerja ku datangi, namun tak ada yang butuh pegawai. Tapi aku tak menyerah, tak peduli sesakit apapun tubuhku nanti, aku harus bisa membuktikan kalau aku bisa hudup tanpa mengandalkan harta orang tuaku.
" Permisi pak," Sapaku pada seorang satpam di sebuah perusahaan.
" Ya, ada yang bisa saya bantu ?" Tanyanya.
" Di perusahaan ini, apa masih ada lowongan kerja, pak ?" Tanyaku pada satpam bertubuh gempal itu.
" Ohhh.... Kalau itu saya kurang tau, mas. Tapi mas nya bisa langsung tanya ke bos perusahaan ini," Ucapnya.
" Emm, kalau boleh tau, dimana ya ruangannya ?" Tanyaku.
" Di lantai 2, ruangan paling ujung kanan," Jawabnya.
" Ohhh ya udah terima kasih pak, saya permisi dulu," Ucapku sambil berlalu pergi meninggalkan satpam itu.
Ku berjalan menaiki tangga, meskipun ada lift tapi tak pantas rasanya seorang tamu begitu saja menggunakan fasilitas orang lain. Lagipula, entah kenapa aku selalu merasa ketakutan ketika berada di lift, apalagi saat sendirian. Aku sudah sampai di lantai 2, dan terlihat sebuah ruangan yang dimaksud oleh pak satpam. Pintu itu, mungkin itulah pintu untukku masuk dan meraih segala impian dan cita - cita. Namun bisa saja, itu adalah pintu dimana sedikit dari secuil harapan itu hilang.
" Masuk...." Jawab seorang wanita yang berada didalam sana.
Perasaan ragu menyelimuti hatiku, namun aku buang jauh - jauh perasaan itu dan mencoba untuk membuka pintu ruangan itu. Dan nampaklah seorang wanita muda nan cantik dengan rambut yang menjuntai kebawah. Ia langsung mempersilahkan aku duduk dan bersalaman denganku. Dengan suara yang melengking, dia memperkenalkan dirinya. Nama wanita itu adalah Rita, dan biasa dipanggil dengan sebutan Bu Rita. Benar saja, dia adalah bos di perusahaan itu.
" Ada yang bisa saya bantu ?" Tanyanya dengan sangat ramah, bahkan diselingi dengan sebuah senyuman manis.
" Gini Bu, saya sedang mencari pekerjaan, apa disini masih ada lowongan ?" Tanyaku.
" Sebelumnya maaf ya mas, tapi perusahaan ini karyawannya sudah full, jadi kami sudah tidak membutuhkan karyawan lagi," Jawabnya.
" Gitu ya bu, ya udah nggak apa - apa. Terima kasih bu," Ucapku sambil bersalaman dengannya dan beranjak pergi.
Sedikit dari secuil harapanku telah hilang, namun tekadku tak bisa hilang. Aku terus mencari, beberapa kali aku naik turun angkot, dan beberapa kali pula aku keluar masuk tempat dimana sebuah pekerjaan itu ada. Hingga saat di sore hari, aku melihat sebuah perusahaan besar. Tanpa basa - basi ku temui bos perusahaan itu yang sebelumnya ku dapat informasi keberadaan bos perusahaan itu dari seorang karyawan.
" Permisi Pak," Ucapku pada seorang lelaki yang sudah berumur itu.
Dengan sapaan dan tatapan ramah, dia menyuruhku duduk dan menyalamiku.
" Ada yang bisa saya bantu ?" Tanyanya.
" Saya mau melamar pekerjaan pak, oh ini surat - suratnya," Ucapku sambil menyodorkan lembaran - lembaran itu.
Dia pun membaca setiap kata yang ada didalamnya, bagai seorang peneliti, ia membaca itu dengan sangat teliti.
" Ijazah SMA ya, tapi nggak apa - apa, saya sedang butuh karyawan marketing, apa anda mau ?" Tanyanya kepadaku.
" Mau pak, mau," Jawabku dengan penuh semangat.
" Ya sudah, besok kamu sudah bisa kerja," Ucap lelaki itu.
" Baik pak, kalau begitu saya pamit dulu," Ucapku dan kemudian menyalaminya lalu beranjak dari tempat itu.
Ternyata secuil harapan itu benar - benar ada, biarpun kecil tapi bermakna besar. Aku berjalan dengan penuh rasa senang, dibawah indahnya warna jingga senja. Petualanganku telah berakhir, harapan itupun sudah ku dapat. Tinggal bagaimana membuat harapan itu menjadi sebuah cita - cita besar.
Warna jingga senja telah redup, aku masih berada di perjalanan pulang. Terkadang aku berpikir, aku selalu ingin berpetualang dibawah sinar senja sampai munculnya sinar bulan. Namun petualangan yang ku maksud adalah petualangan yang benar - benar petualangan, bukan hanya perjalanan panjang dengan atau tanpa tujuan.
Sampai dirumah, pintu pagar tak terkunci, namun pintu rumah telah dikunci oleh Pak Anto. Dengan menggunakan kunci yang diberikan Pak Anto kepadaku, aku pun membuka pintu itu.
Malam itu di kamarku, aku tak bisa tidur, memikirkan sebuah hal yang teramat penting didalam hidupku. Esok hari adalah hari dimana aku mulai menjalani kehidupanku layaknya orang dewasa. Tak peduli apapun pekerjaanku, tak peduli berapapun gajinya. Yang penting pekerjaan itu halal dan aku bisa membuktikan pada dunia tentang tekad pantang menyerah yang ada didalam diriku.