
Petang itu, setelah aku mengantarkan Sherly pulang, aku dan kakakku pun memutuskan untuk pulang ke rumah baru kami yang letaknya lumayan jauh. Sebuah hari yang istimewa telah tercipta. Kakakku lah yang menjadi kreator itu semua. Aku benar - benar sudah cukup puas dengan hari spesial itu.
Petang hari sebelum berkumandangnya azan magrib, aku dan kakakku sudah mulai berangkat menuju rumah baru kami. Dan alhasil, tak butuh waktu yang lama, tepat ketika azan berkumandang kami sudah sampai di rumah. Kalau diingat - ingat, perjalanan itu jauh lebih baik daripada perjalanan pertamaku menuju rumah lamaku kala itu. Sebuah perjalanan malam mencekam yang tak kan pernah terlupakan.
Saat dirumah entah kenapa hatiku terketuk untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid. Setelah sebelumnya aku selalu sholat di rumah. Akupun menuju masjid terdekat dari rumahku, yang meskipun juga tidak dekat, melainkan lumayan jauh dari rumahku.
Setelah melakukan sholat magrib berjamaah, aku tidak langsung pulang. Di mimbar sana berdiri seorang ustad yang mungkin setiap harinya selalu memberikan tausiyahnya kepada para jamaah. Entah disengaja atau tidak, tausiyahnya itu seolah - olah menyinggungku. Penggalan - penggalan kata yang terucap dari mulutnya seakan - akan memaksaku untuk mengikutinya. Tausiyah yang disampaikan olehnya adalah tentang pertemanan dan akibat dari memutuskan hubungan pertemanan. Jelas hal itu menyinggungku karena aku sudah benar - benar memutuskan pertemananku dengan teman - teman yang pernah menyakitiku dulu.
" Bahkan marahan sama teman hanya dalam waktu 3 hari saja tidak boleh. Terus bagaimana denganku yang telah menyimpan dendam selama bertahun - tahun. Berapa banyakkah dosaku ?" Batinku ketika mendengar tausiyah dari sang ustad.
Aku terus memikirkan hal itu, bahkan sampai sang ustad mengakhiri tausiyahnya. Aku masih berada di masjid beberapa saat dan kemudian pulang. Lewat hal yang demikian itu, aku benar - benar mendapat kesan yang berarti.
" Nampaknya aku harus memperbaiki ikatanku dengan mereka. Tak peduli meski merekalah yang bersalah. Yang penting aku tidak mendapat dosa besar," Ucapku sambil memandang langit malam yang dipenuhi bintang - bintang.
Esok hari di Hari Minggu, aku memantapkan niatku untuk mengunjungi satu persatu rumah teman - teman yang dulu pernah berbuat buruk kepadaku. Namun aku butuh teman untuk menemaniku berkunjung ke banyak rumah. Aku mencoba untuk mengajak kakakku melakukan misi mulia itu.
" Kak...." Panggilku sembari mengetuk pintu kamarnya.
Akan tetapi tak ada jawaban darinya. Ku coba mengetuk pintu dan memanggilnya lagi, namun tetap tidak ada jawaban. Karena kesal, ku gedor - gedor pintu itu hingga tercipta bunyi yang teramat keras, dan ketika lintu ku gedor - gedor, pintu itu terbuka dengan sendirinya.
" Hadeh, nggak dikunci ya?" Gumamku yang kemudian membuka dengan lebar pintu yang baru terbuka separuh itu.
Aku mulai memasuki kamarnya. Di tempat tidur sana nampaklah kakakku tengah tidur dengan pulasnya. Aku tau dia udah bangun, tapi itulah pekerjaan kakakku ketika hari libur. Bangun pagi dan tidur lagi, seakan - akan telah menjadi kebiasaannya.
" Tak bisa dipercaya dia bisa jadi Direktur," Gumamku sambil memandangnya.
Karena ia tak bisa diharapkan, akupun memutuskan untuk pergi sendirian bersilaturrahmi ke rumah teman - temanku. Saat sampai di kompleks perumahan rumah lamaku, aku teringat dengan sosok wanita yang selalu ada untukku disaat suka maupun duka. Aku berinisiatif untuk memintanya menemaniku bersilaturrahmi ke rumah teman - teman. Lagipula temanku itu, temannya juga. Karena memang dulu kami satu sekolahan.
Aku melangkahkan kakiku menuju rumahnya, kala itu cuaca sedang tidak bersahabat. Mendung hitam menghiasi indahnya pagi. Namun mau tidak mau aku harus melaksanakan misi mulia itu, karena aku juga tak tau gimana keadaan hari di hari - hari esok.
" Assalamualaikum," Ucapku sambil mengetuk pintu rumah Sherly.
" Waalaikum salam," Suara perempuan tua menjawab salamku. Mungkin ia adalah nenek Sherly, karena memang hanya ada 3 orang di rumah itu yaitu, kakek dan nenek Sherly dan juga Sherly sendiri.
Tak lama kemudian, sebuah tarikan dari dalam membuka pintu kayu itu. Dan nampaklah seorang wanita tua yang tidak lain adalah nenek Sherly. Aku langsung mencium tangannya sembari menanyakan keberadaan Sherly.
" Sherlynya ada nggak Nek ?" Tanyaku padanya.
"Sherly sedang mandi, kamu tunggu aja didalam," Jawab Nenek Sherly dengan suara serak khasnya.
" Nggak usah Nek, makasih, saya nunggu diluar aja," Balasku.
" Iya nek," Jawabku.
Nenek itu kemudian masuk kedalam rumahnya, meninggalkan aku yang sendirian diteras itu. Kulihat langit yang semakin gelap di pagi itu. Nampaknya hujan akan turun. Dan benar saja, disaat gadis cantik itu keluar menemuiku, gerimis sudah melanda tanah itu. Nampaknya bongkahan es diatas sana sudah mulai mencair dan menghasilkan titik - titik air yang bertambah deras.
" Aduh, pakai hujan lagi," Keluhku.
" Huss... Jangan bicara seperti itu, hujan tu anugerah dari sang pencipta. Seharusnya kamu mensyukurinya !" Balas Sherly.
" Iya Ustadzah cantik," Pujiku padanya.
Tak kusangka hujan semakin menjadi - jadi. Tetesan air itu telah berubah menjadi guyuran deras yang membasahi hampir seluruh area itu. Sang angin pun tidak kalah dari air, ia menghembuskan dan menerbangkan dedaunan dan benda - benda kecil diluar sana. Tanpa kami sadari, air sudah mulai membasahi teras rumah kecil itu. Sherly pun tanpa pikir panjang mengajakku masuk ke rumahnya.
" Makin deras nih, didalam aja yuk !" Ajaknya.
" Aku disini aja, tak pantas rasanya jika seorang lelaki berduaan dengan perempuan yang bukan muhrimnya didalam rumah," Ucapku sok alim.
" Siapa bilang berduaan, kan ada kakek dan nenek, ayolah masuk," Ajaknya lagi.
Aku tak dapat menolak permintaannya untuk yang kedua kalinya. Jujur, aku baru pertama kali melihat area dalam rumah Sherly. Benar - benar jauh dari kata modern. Rumah kayu itu sudah mulai lapuk, perabotannya pun masih sangat sederhana.
Aku dipersilahkan untuk duduk di kursi kayu tua yang berada di ruang tamunya. Dengan ditemani kakek dan neneknya, kamipun saling berbincang termasuk membicarakan tentang maksud kedatanganku kesana.
" Jadi..... Selama ini kalian belum berdamai ?" Tanya Sherly setelah aku bercerita.
" Meski aku sudah memaafkannya, tapi sakit hati itu selalu ada. Karena itulah, aku selalu memiliki rasa dendam pada mereka sampai saat ini. Tapi aku sudah sadar bahwa dendam itu tak ada gunanya, karena itu aku ingin menjalin perdamaian untuk menciptakan ikatan persahabatan," Ucapku panjang lebar.
" Benar itu Nak Candra, sebaiknya kamu memperbaiki pertemananmu dengan mereka !" Sahut Kakek Sherly.
" Iya kek, pasti," Jawabku singkat.
Tak lama kemudian, guyuran air deras yang menerpa bumi itu sudah menandakan akan berakhir. Hanya terdengar suara rintik air yang jatuh ke berbagai atap rumah warga.
" Hujan sudah berhenti, lebih baik kita berangkat sekarang," Ajak Sherly.
" Baiklah, Kek, Nek, kami pamit dulu ya," Ucapku berpamitan dengan Kakek dan Neneknya Sherly seraya mencium tangannya.
Hari itu nampaknya akan menjadi hari perdamaian antara aku dengan semua teman yang pernah membullyku dulu. Sebuah perdamaian abadi yang akan menciptakan persahabatan sejati. Walau itu masih menjadi sebuah harapanku saja, tapi aku yakin hal itu akan terjadi.