
Lamunan panjangku terhenti disaat aku mendengarkan merdunya suara azan. Tak kusadari, ternyata aku sudah beberapa jam melamun, dari pagi hingga azan dhuhur berkumandang. Aku masih memegang foto berbingkai itu. Lalu meletakkannya di tempat semula. Pak Anto yang masih berada di rumah itu pun mengajakku untuk sholat dhuhur berjamaah di mushola dekat rumah.
" Pak, bener ya, jangan beri tau semuanya kalau aku ada disini," Pintaku kepada Pak Anto setelah menunaikan sholat dhuhur berjamaah.
" Iya Den, tenang saja, bapak nggak akan bagi tau siapapun kok," Jawabnya dengan senyumannya.
" Hmmm, aku percaya pada bapak," Ucapku dengan tersenyum.
Aku harap Pak Anto tidak membocorkan tentang keberadaanku. Aku tak mau ada yang tau. Bahkan tetangga - tetanggaku di rumah lama itu pun tak ada yang tau kalau aku tinggal disana lagi. Lagipula, jarak antara rumahku dengan rumah para tetangga berada cukup jauh. Dan satu lagi, aku tak yakin mereka bisa mengenaliku meskipun melihat langsung, karena perubahan fisik dan mentalku yang sangat pesat. Tapi untuk jaga - jaga, aku berusaha untuk tidak bertatapan langsung dengan orang - orang yang ku kenal ataupun yang kenal denganku. Setiap kali keluar rumah, aku selalu memakai jaket yang berkupluk agar mereka tak bisa mengenaliku. Namun cepat atau lambat, suatu saat nanti akan ada yang tau tentang keberadaanku.
Siang itu di rumah lamaku, aku sendirian, karena Pak Anto pun harus kembali ke rumah baruku. Rasanya sepi sekali, tak ada yang menemani. Tapi bagiku, kesepian itu lebih baik dibandingkan dengan penghinaan dan cacian. Akupun teringat dengan tujuanku pergi dari rumah itu. Yaitu untuk mencari keberadaan semua mimpi dan cita - citaku, serta untuk membuktikan pada semua orang bahwa aku adalah orang yang tak bisa diremehkan. Langsung ku ambil laptopku dan membuat surat lamaran kerja. Aku tak peduli dengan pekerjaan apa yang ku dapat nantinya, yang penting itu halal dan gajinya cukup untuk kebutuhanku sehari - hari.
" Hufff akhirnya selesai juga," Ucapku setelah selesai membuat surat lamaran pekerjaan.
Siang itu pula aku langsung mencetak surat lamaran pekerjaan yang ku buat. Aku berharap semua akan berjalan seperti ekspektasiku. Jalan hidup ini sudah ku ambil, dan aku sudah keluar dari zona nyaman. Tapi nyaman dalam hal harta saja, bukan nyaman dalam perasaan. Meskipun cuma sementara, tapi aku berjanji akan menghadapi segalanya sendirian.
Aku menuju tempat percetakan yang lumayan jauh dari rumahku, agar nantinya tidak ada yang tau kalau aku sedang berada di rumah lamaku. Dengan memakai jaket berkupluk, ku berjalan menyusuri jalanan masa kecilku dulu. Beberapa rumah tetangga pun ku lalui. Dan wajah - wajah lama yang terlihat itu masih bisa ku kenali. Tak pernah kusangka aku bisa kembali berada di sekitar mereka. Bagai sebuah masa lalu yang terulang kembali, namun aku hanya bisa melihat dan merasakannya.
Akhirnya sampai pun aku di tempat percetakan, letaknya di pinggiran jalan raya yang selalu dilalui oleh kendaraan. Aku pun langsung menyodorkan flashdisk ku ke pelayan tempat percetakan itu. Dengan cekatan gadis muda berambut panjang itupun mencetak surat lamaran kerja ku.
" Berapa mbak ?" Tanyaku setelah semuanya beres.
" Semuanya jadi 5 ribu saja," Jawabnya.
" Ini mbak uangnya," Ucapku sambil memberikan selembar uang 5000 kepadanya.
Langkah pertamaku sudah selesai, aku hanya tinggal mengikuti langkah - langkah selanjutnya. Sebuah langkah yang akan membawaku menemui mimpi dan cita - citaku. Disat itu, ketika perjalanan pulang dari tempat percetakan. Aku melihat seorang gadis cantik dengan rambut terurainya ketika sang angin menerpa. Aku yakin sekali siapa gadis itu, gadis itu adalah Sherly, teman SD ku dulu. Tak kusangka dia tumbuh menjadi gadis yang benar - benar sangat cantik nan manis, maklum saja, sudah bertahun - tahun aku tidak pernah bertemu dengan dia. Bukan dia saja, tapi semua teman SD ku. Usahaku tuk menutupi wajahku gagal, aku tak sempat menutupinya. Hingga ia pun menyapaku.
" Kamu..... Candra ya ?" Tanyanya sedikit ragu.
" Iya, kamu siapa ya ?" Tanyaku pura - pura tidak tau.
" Aku Sherly, teman SD kamu." Jawabnya.
" Ooo Sherly, apa kabar ?" Tanyaku lagi.
" Baik kok, kalau kamu ?" Tanyanya balik.
" Syukurlah kalau gitu. Oh ya.... Rumah barumu itu se kompleks sama Yanto dan Ferdi kan, gimana keadaan mereka ?" Tanyanya.
" Sama.... Baik juga," Jawabku singkat.
" Hmmm, lalu kamu ngapain, kok ada disini ?" Tanyanya lagi.
" Ohhh, aku cuma berkunjung ke rumahku yang lama," Jawabku.
" Kamu.... makin cantik aja," Pujiku.
Pujian itu membuat Sherly tersenyum. Kulihat pipinya yang mulai memerah menahan malu. Aku juga tak tau kenapa mulutku bisa mengucapkan pertanyaan itu, tapi sepertinya pertanyaan itu dikatakan oleh hatiku lewat perantara mulut.
" Ah... Bisa aja kamu, kamu juga makin gentle aja, nggak seperti dulu. Culun, ha ha ha," Ledeknya dengan tawa manis.
" Hmm, ngledek. Oh ya, kamu mau kemana ?" Tanyaku.
" Ohhh, nih mau beli bubur di ujung jalan sana, oh ya itu apa ?" Tanyanya sambil menunjuk lembar kertas surat lamaran kerjaku.
" Ini... Ini surat lamaran pekerjaan," Jawabku.
" Wihhh, mau kerja nih. Nggak kuliah ?" Tanyanya.
" Enggak, kerja aja. Kalau kamu ?" Tanyaku balik.
" Aku mau kuliah, ya deket - deket aja sih, yang penting bisa sekolah tinggi," Jawabnya.
" Ohh, ya udah ya, aku mau pulang dulu," Ucapku sambil senyum.
" Iya, sampai ketemu lagi," Kata Sherly.
Aku pun berlalu dari hadapannya, aku rasa hatiku sedang memendam sebuah perasaan cinta. Namun percuma saja, aku tidak ingin merasakan sakit hati lagi. Meskipun aku juga belum tau bagaimana perasaan Sherly kepadaku.
Sore itu, aku berada di rumah. Pak Anto pun berada disana, dan sebelum ia kembali ke rumah baruku, ia memberikan sebuah kunci rumah kepadaku. Benar saja, sebelumnya rumah lamaku itu tak pernah dikunci, karena memang sudah tak ada barang - barang berharganya. Kalaupun ada, itu cuma barang - barang tua yang sudah lama tidak terurus.
Dan di malam hari yang sunyi, aku sendirian dirumah itu. Hanya hembusan angin malam yang bisa menemaniku. Hingga aku tertidur pulas di kamar kenangan itu, menantikan cerahnya esok hari.