
Mobil pun berhenti, aku langsung turun dari mobil sembari menggendong tubuh kakakku dan dibantu oleh sang pemilik mobil. Ku panggil dokter ataupun suster dengan teriakan - teriakan histeris. Tak tau gimana aku menggambarkan rasa panikku. Hingga dengan cekatan, dokter dan suster pun membawa kakakku ke kamar dan menangani lukanya. Aku menunggu diluar ruangan bersama dengan pemilik mobil yang telah menolongku.
" Mas, saya pamit dulu ya," Ucap sang pemilik mobil.
" Iya mas, terima kasih ya, kalau boleh tau siapa nama mas ?" Tanyaku.
" Nama saya Dito," Ucapnya.
" Saya Candra mas, sekali lagi terima kasih, saya nggak tau gimana cara membalas kebaikan mas," Ucapku.
" Udah, santai aja, sesama manusia harus saling tolong menolong kan, ya udah saya pamit dulu ya," Ucapnya sambil bersalaman denganku.
" Iya mas, hati - hati ya !" Ucapku ketika ia berlalu dari hadapanku.
" Aku harap suatu hari nanti aku bisa membalas semua kebaikanmu," Batinku.
Saking paniknya aku sampai lupa dengan pekerjaanku. Aku pun menelepon Bosku dan menceritakan semuanya padanya. Betapa bersyukurnya aku, bosku menyambut baik alasanku dan berencana akan menjenguk kakakku nantinya. Setelah itu ku hubungi ayahku agar ia datang bersama ibu dan juga Pak Anto ke rumah sakit. Mula - mula betapa hebohnya ayahku ketika tau bahwa yang menghubunginya adalah aku. Namun ketika aku memberitahu tentang keadaan kakakku, ia syok dan menjadi bersedih. Hingga akhirnya ia bersedia datang ke rumah sakit yang telah aku beri tahu.
" Suratnya....." Ucapku ketika teringat dengan surat yang diberikan kakakku kepadaku.
Aku langsung menyobek amplop yang membungkus surat itu dan langsung membaca sesuatu yang ada didalam amplop itu.
***Teruntuk kamu adik tersayangku
Ketika kebencianmu sudah mencapai puncaknya, ketahuilah bahwa kakak melakukan itu demi masa depanmu. Saat ayah dan ibu ataupun orang - orang meremehkanmu dan membanding - bandingkan dengan aku. Kakak buat semuanya agar menjadi semakin parah, kakak buat kamu semakin merasa tertekan. Karena kakak tau, ketika kamu merasa tertekan, maka kekuatan tersembunyi dalam dirimu akan muncul. Dan benar, malam itu, malam kepergianmu dari rumah. Kakak tak tau tentang kapan pergimu, tapi kakak yakin tentang tempat yang kamu tuju, yaitu rumah lama kita. Ketika ayah dan ibu sibuk mencarimu kesana kemari, kakak sibuk mengawasi segala aktivitasmu. Kakak tau kamu meminta Pak Anto untuk menyembunyikan keberadaanmu, kakak juga tau kamu bekerja sebagai marketing. Dan jikalau kamu merasa ada sesuatu yang mengawasimu, ketahuilah, selain sang pencipta, ada kakak juga yang selalu mengawasimu, adikku. Dan saat ayah dan ibu datang ke rumah lama kita, kakak yakin kamu akan melarikan diri lagi. Dan benar saja, kamu keluar dari rumah itu dan mengontrak di sebuah rumah kontrakan. Jangan pikir kakak tak tau tentang itu.
Dari kakak yang selalu menjagamu***
Si jenius itu benar - benar tau segalanya tentang aku, dan tak salah lagi, sesuatu yang selalu mengawasiku itu adalah kakakku. Dan orang dibalik semak belukar itu juga kakakku. Aku menangis telah beranggapan yang salah tentangnya. Sekarang aku tau segalanya tentang dia. Di masa lalu, ia melakukan kekerasan kepadaku untuk membuat fisikku kuat dan dimasa kini, ia menekan batinku dengan tujuan memperkuat mentalku. Ia kubenci, dan kuanggap sebagai kakak yang tak memperdulikan adiknya. Namun pengorbananny benar - benar besar.
Hingga tak lama kemudian sang dokter pun keluar dan memberitahukan keadaan kakakku.
" Kakakmu butuh donor darah secepatnya, ia sudah kehilangan banyak darah," Ucap sang dokter.
" Ya udah Dok, donorkan saja darahku !" Tawarku.
" Maafkan aku, ayah, ibu," Ucapku.
" Bukan salahmu, Candra. Tapi ini salah ayah dan ibu, kalau saja selama ini....."
" Sudah bu, jangan diteruskan, aku sudah melupakan semuanya," Potongku.
Tak lama setelah itu sang dokter keluar lagi dan memberitahukan tentang keadaan kakakku. Ia berkata bahwa kakakku telah sadar, betapa bahagianya aku mendengar semua itu. Aku langsung masuk ke ruangan itu bersama ayah, ibu dan Pak Anto untuk melihat keadaan kakak. Ia sudah membuka matanya dan tersenyum kearah kami.
" Kakak, maafin aku," Ucapku.
Ia hanya diam dengan selang oksigen yang terpasang. Ia memberikan senyumannya kepadaku, entah apa yang ada di pikirannya. Dalam keadaan seperti itupun ia seolah tak memperdulikan sakitnya.
" Kamu hebat, Candra, kamu pemimpin yang hebat," Ucap kakakku mengagetkanku.
Apa mungkin ia juga sudah tau tentang pangkatku yang sudah naik. Tak kusangka dia sejauh itu tau tentang aku. Kulihat wajah ayah dan ibuku kebingungan mendengar itu, namun tidak dengan Pak Anto yang memang sudah tau tentang itu. Kebingungan ayah dan ibuku pun pecah dikala kakak memberitahu tentang jabatanku saat ini. Mereka pun tersenyum mendengar hal itu, tanda bahwa mereka bangga kepadaku.
Tak berselang lama, seorang wanita cantik muncul dari balik pintu. Wanita itu adalah Sherly, aku tak tau kenapa ia bisa tau tentang kejadian itu, padahal aku pun tak memberitahunya. Hingga aku pun tau jawabannya bahwa ia mendengar semua itu dari ibuku yang kebetulan bertemu dijalan ketika ibuku sedang menuju ke rumah sakit.
" Candra, gimana keadaan kakak kamu ?" Tanyanya.
" Tenang saja, dia baik - baik saja. Kakakku kan kuat, iya kan kak ?" Ucapku yang membuat kakakku tersenyum.
" Oh ya, Ayah, ibu. Sebelumnya aku minta maaf ya telah membuat ayah dan ibu khawatir, dan inilah sosok manusia yang selalu menasehatiku disaat aku merasa sangat membenci kalian. Ucapku yang tak sempat kuucapkan dikarenakan kepanikan yang berlebihan.
" Oh ya, terima kasih ya, Sherly," Ucap ibuku.
" Iya Tan, sama - sama," Jawabnya.
Pembicaraan pun terus berlanjut hingga seseorang datang dan berniat untuk menjenguk kakakku. Orang itu tidak lain adalah Pak Ridho, bos ku. Dengan hormat ku sambut ia dengan senyuman dan jabatan tangan, sembari ku ceritakan kepada semuanya tentang siapa orang itu. Ia membawa buah - buahan segar sebagai buah tangannya.
Dikarenakan pekerjaan yang terlalu padat, Pak Ridho tak bisa berlama - lama di rumah sakit. Ia pun pamit ke semuanya dan kembali ke perusahaannya. Aku benar - benar bahagia mempunyai bos seperti dia. Ia tak pernah sombong dengan kedudukannya, sungguh manusia yang patut dijadikan teladan.
Sementara itu, kakakku yang terluka parah harus dirawat inap agar keadaannya bisa lebih membaik. Pekerjaannya pun sementara harus dihentikan, namun aku harus tetap bekerja meski Pak Ridho mengizinkanku untuk tidak bekerja dulu.