Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Titik Terendah



Hari itu, hari dimana pengumumam kelulusan untuk jenjang SMA. Kakakku, dia berhasil meraih nilai tertinggi se kota Bandung. Maklum saja, dia itu jenius, seorang laki - laki yang mempunyai kepandaian diatas rata - rata. Banyak orang menyanjung dirinya. Segala pujian dilontarkan kepadanya, hingga timbullah rasa iri di hatiku.


Beberapa Minggu kemudian datanglah pengumuman kelulusan untuk jenjang SMP. Tapi sayang, aku tak sanggup mengalahkan ataupun menyamai kakakku. Bahkan untuk satu sekolah saja, aku masih berada di peringkat 5. Tak ada yang menyanjungku, tak ada yang memujiku. Malah cibiran, cacian dan hinaan yang ku dapat.


" Candra, apa ini, kamu itu sudah di sekolahin, tapi hasilnya malah gini. Lihat tu kakakmu, dia peringkat pertama se kota, lha kamu satu sekolah aja gak bisa," Ucap ayahku dengan nada tinggi sambil meletakkan, bukan meletakkan, tapi membanting lembaran kertas yang berisikan nilaiku itu di meja. Lalu ia pergi.


Kesal, marah, sedih, kecewa, semuanya berkumpul jadi satu. Entah gimana menggambarkan suasana hatiku. Seolah - olah aku sedang berada di titik terendah dalam hidupku. Sebuah keadaan yang sangat memilukan di hidupku, dan parahnya lagi sang inspirator sekaligus sang pemberi semangat telah tiada. Aku hanya sendiri, menanti sang pahlawan baru. Dan pahlawan baru yang sebenarnya adalah diriku sendiri.


" Kalau aku tidak bisa mengalahkanmu, setidaknya aku bisa menyamaimu, kak," Ucapku ketika berada di kamar.


Benar juga, ketika seseorang berada pada titik terendah di dalam hidupnya, yang bisa mengakhiri hal itu hanyalah diri sendiri. Mungkin meskipun kakek masih hidup, aku tak yakin beliau bisa mengakhirinya.


Sejak saat itu, aku benar - benar tidak betah dirumah, selalu dimarahi dan dibanding - bandingkan dengan kakakku. Ingin sekali aku pergi dari rumah itu, tapi aku sadar bahwa aku tak bisa hidup sendiri. Mau tidak mau, suka tidak suka aku harus menjalani kehidupanku didalam neraka dunia itu.


" Candra....." Panggil kakakku.


" Mau apa kak, mau menghina aku, seperti yang dilakukan ayah dan ibu ?" Tanyaku yang masih tersulut emosi.


" Dasar payah, seorang laki - laki itu pantang untuk meneteskan air matanya. Kalau hanya soal dimarahi, itu hal yang wajar, Candra," Bentak kakakku.


Perlahan, aku turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke arah kakakku yang berdiri di depan pintu.


" Apa kakak pernah merasakan hal yang benar - benar tidak ingin kakak rasakan ?" Ucapku tepat didepan wajah kakakku.


Ia hanya diam, entah apa yang dipikirkan si jenius itu. Tidak biasanya kakakku diam seperti itu, apa mungkin ada yang ia rencanakan ?. Tapi tidak, mungkin ia tidak bisa menjawab pertanyaanku itu. Karena tak ada jawaban darinya, aku pun berjalan keluar kamar, turun dan menuju teras rumah. Mungkin disana hatiku bisa lebih damai dengan melihat untaian bunga yang indah dan harum.


Semilir angin sejuk menemani kesendirianku. Menerpa rambut indah nan lemas ku hingga berkibar bagai bendera. Tempat itu memang berisi neraka, tapi keindahannya adalah surga. Ku coba berfikir, berfikir bagaimana cara mengubah pola pikir yang sudah terlanjur frustasi dengan kehidupan. Tak tau mengapa, aku selalu ingin berada jauh dari keramaian, namun aku selalu ketakutan dalam kesepian. Ternyata hidup memang rumit, hanya orang - orang yang kuat lah yang bisa menjalaninya sampai akhir dengan selalu tersenyum.


" Den, kenapa ? Kok kayak sedih gitu ?" Tanya Pak Anto.


" Tidak apa - apa Pak," Jawabku.


" Bukan soal nilainya Pak, tapi soal diriku ini yang payah dalam segala hal," Ujarku dengan nada sedih.


" Gampang lah Den, Den Candra cuma harus mengubah semua itu," Nasehat Pak Anto.


" Walau bagaimanapun juga, mengubah hal yang sudah terjadi itu sangatlah sulit pak," Jawabku.


" Bapak juga tau, tapi kalau Den Candra tidak berusaha untuk mengubahnya, sama saja Den tidak mau keluar dari neraka dunia. Percayalah Den, ketika seseorang selalu dianggap lemah dan payah maka selama itu juga tidak akan ada seorang pun yang akan peduli dengan ucapannya," Ucap Pak Anto panjang lebar.


" Hmmm," Gumamku dengan senyuman.


" Benar juga ya Pak. Tapi Pak, panggil aja Candra. Nggak usah ada Den nya," Pintaku.


" Tapi kan Den....."


" Suuutttt.... Candra aja," Potongku.


" Iya Den," Jawabnya.


" Pak Anto...... Candra aja pak, nggak usah pakai Den," Pintaku.


Iya, Candra," Ucapnya yang akhirnya mau memanggilku tanpa kata " Den".


Itulah kali pertama aku meminta pembantu / tukang kebunku untuk memanggilku dengan nama biasa, tanpa adanya kata yang terlihat kalau pangkatku lebih tinggi dari dia. Karena aku sudah menganggap Pak Anto sebagai bapakku sendiri, tanpa menggantikan posisi ayahku sebagai orang tua. Dan apakah pantas seorang anak dipanggil begitu oleh orang tuanya ?. Ya pasti tidak, karena itulah aku meminta Pak Anto untuk memanggilku dengan nama biasa.


Namun Pak Anto tak sanggup untuk memanggilku dengan nama biasa. Ia bersikeras memanggilku dengan kata " Den". Katanya, meskipun aku sudah menganggapnya sebagai bapakku, begitu juga sebaliknya, dia juga sudah menganggapku sebagai anaknya tetap saja kenyataannya dia hanya seorang pembantu. Ia tak ingin bertindak semena - mena dengan anak majikannya. Dan sekeras apapun aku mencoba untuk membujuknya, tetap saja gagal.


Hari menyedihkan dan menyakitkan itu terjadi berulang kali. Orang tuaku selalu memarahiku dan membandingkan aku dengan kakakku hanya soal nilai ujian itu. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena seiring berjalannya sang waktu kejadian itupun bisa terlupakan. Ayahku, ibuku sudah kembali seperti dulu lagi. Tak pernah mereka mengungkit - ungkit tentang nilai ujianku.


Tapi bagiku, setiap hal yang telah terjadi, apalagi yang berhubungan dengan hati. Hal itu tak akan pernah bisa aku lupakan. Layaknya sebuah kenangan yang terpampang didalam sebuah kehidupan. Aku akan mengingat itu selamanya, tentang bentakan - bentakan itu. Tentang hinaan - hinaan itu, mungkin aku bisa memaafkan semuanya, tapi rasa sakit itu akan selalu ada didalam hatiku. Dan di masa depan nanti, orang yang lemah mentalnya mungkin akan melakukan hal yang sama dengan apa yang pernah orang lain lakukan kepadanya. Dalam arti membalas rasa sakit kepada orang yang berbeda. Dan aku tak tau, apa aku termasuk didalamnya atau bahkan bisa mengganti rasa sakit itu menjadi sebuah kasih sayang.