
Guyuran hujan telah berhenti, meski belum berhenti sepenuhnya dan masih menyisakan rintik - rintik kecil. Aku dan Sherly bersiap berangkat untuk mengemban tugas beratku. Langit masih menampakkan kesedihannya, pagi itu sinar sang mentari tak kunjung muncul. Namun ada keuntungan tersendiri untuk aku dan juga Sherly, dengan begitu kami tidak akan kepanasan ketika berjalan menuju semua tempat yang ingin kami datangi.
" Sherly."
" Hmm," Gumamnya menjawab panggilanku.
" Makasih ya," Ucapku.
" Makasih, buat apa ?" Tanyanya bingung.
" Kamu selalu ada untukku," Jawabku to the point.
" Santai aja," Jawabnya singkat.
Kami terdiam sejenak dan melanjutkan langkah kaki yang sempat terhenti. Lagi - lagi, mendung sudah mulai berkumpul, nampaknya akan terjadi hujan susulan.
" Sherly," Panggilku padanya sambil terus berjalan.
" Apa, Candra ?" Tanyanya.
" Nggak, cuma manggil aja," Jawabku.
" Ihhh Candra nyebelin deh," Ucapnya sambil memonyongkan bibirnya alias cemberut.
Aku tersenyum kecil melihat tingkah laku gadis cantik itu sembari tetap berjalan ke arah tujuan. Tak lama kami berjalan, didepan sana nampak sebuah rumah yang menjadi salah satu tujuan kami sekaligus rumah tujuan yang paling dekat dengan rumah Sherly.
" Rumah Alan ya?" Gumamku memandangi rumah itu dan agak sedikit teringat dengan perlakuannya yang tidak menyenangkan kepadaku dulu.
" Iya...." Jawab Sherly singkat seraya terus mendekati rumah itu.
Nampaknya rumah itu sangat sepi, seperti tak ada seorangpun disana. Namun apapun itu kami harus memastikannya terlebih dahulu. Sebelum itu, aku membuang jauh - jauh kebencian yang ada didalam diriku. Akupun mengetuk pintu kayu itu seraya mengucap salam. Dan ternyata dugaanku salah, hanya dengan beberapa ketuk ditambah dengan sebuah salam sudah membuat penghuninya sadar akan kedatangan seorang tamu.
" Waalaikum salam," Jawab seseorang dari dalam, dari nada suaranya seperti seorang wanita paruh baya.
" Cklekkkk" pintu terbuka sedikit demi sedikit, hingga seseorang telah terlihat dari balik pintu yang tertutup tadi. Tak salah lagi, orang itu adalah seorang wanita paruh baya yang mungkin adalah ibunya Alan. Wajar saja kalau aku tidak tau, karena selama 6 tahun masa - masa SD, aku sangat jarang berkunjung ke rumah teman - temanku. Apalagi teman yang selalu menyakitiku, malahan tak pernah sekalipun aku mengunjungi rumahnya meski aku tau letak rumahnya.
" Ehhh Sherly dan ini....."
" Candra tante, teman SD Alan dan Sherly," Ucapku dengan sopan.
" Kok tante gak pernah lihat kamu ?" Tanya ibu Alan kebingungan sambil terus menatapku.
" Ya wajar lah tante, orang ini dulunya males keluar rumah, makanya jarang orang yang mengenalinya," Jawab Sherly ceplas - ceplos sambil menunjuk kearahku.
Aku malu ketika mendengar ucapan Sherly. Aku cuma manggut - manggut menanggapi ucapan itu dengan hati yang malu.
" Oh ya Tan, Alan mana ?" Tanyaku membuang rasa maluku.
" Oh ya, sampai lupa, bentar tante panggilin," Ucapnya sambil berjalan masuk kedalam rumahnya.
Wanita paruh baya itupun sudah tak nampak lagi. Sambil menunggu kedatangan orang yang kami maksud, sejenak kamipun bercanda dan melepas tawa. Hingga pria yang bernama Alan itu telah berjalan kearah kami, namun ia sendirian, tanpa ada ibunya yang mengiringi ataupun mengikuti. Mungkin ibunya sedang sibuk di dapur.
" Hai, Alan," Sapa Sherly karena telah lama berdiam diri.
" Hai juga, Sherly," Jawabnya bingung.
Sherly menyenggol bahuku memberikan kode agar aku mempercepat misi yang telah kami rencanakan. Aku jelas peka dengan maksudnya itu, perlahan aku melangkahkan kakiku mendekati Alan, namun pria itu malah sedikit mundur. Entah apa yang ada dipikirannya, namun aku dengan cepat menahannya untuk tidak mundur terlalu jauh.
" Alan," Panggilku, namun tak ada jawaban dari dia.
" Masih ingatkah kau denganku ?" Tanyaku basa - basi yang dibalas dengan sebuah anggukan.
Aku menghela nafas berat, menyiapkan diri agar mampu mengucap kata maaf meski bukan aku yang bersalah. Rasanya ragu, tapi hal itu harus ku lakukan.
" Aku minta maaf."
" Tak seharusnya aku membenci kamu dan yang lain selama ini."
" Aku tak tau harus bicara apa lagi."
" Aku mau, aku, kita dan yang lain menjalin hubungan yang disebut dengan pertemanan. Tanpa adanya kebencian dan dendam," Ucapku panjang lebar.
Mata pria itu berkaca - kaca mencerna semua ucapan yang aku lontarkan kepadanya. Sejenak ia terdiam, mungkin mengingat kembali kejahatan yang pernah ia lakukan kepadaku dulu. Hingga tak berselang lama kemudian ia tidak langsung menjawab pernyataanku, melainkan menyuruh kami duduk di kursi yang berada di teras rumahnya.
" Alan," Panggilku lagi karena ia masih terdiam.
" Tak seharusnya kamu yang meminta maaf, seharusnya akulah yang harus minta maaf," Jawabnya.
Aku tersenyum kecil, begitu juga dengan Sherly. Nampaknya tujuanku untuk berdamai akan mencapai keberhasilan.
" Sudahlah soal itu gak usah dipikirin, jadi kita akan berteman kan ?" Tanyaku lagi.
Ia mengangguk tanda setuju. Aku tersenyum lagi dan merasakan perasaan lega, biarpun cuma sedikit. Karena masih ada beberapa teman yang akan aku perlakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan ke Alan.
Kami tak langsung melanjutkan perjalanan, melainkan masih bercakap - cakap di teras rumah Alan. Ekspresi Alanpun tak se kaku tadi. Dan dari percakapan yang lumayan panjang itu aku mengetahui bahkan kini Alan bekerja sebagai karyawan kecil. Aku tak memberitahukan tentang pangkatku karena takut membuatnya frustasi dan bertambah malu serta membuat rasa bersalahnya semakin besar.
Tak terasa sudah lumayan lama kami bercakap - cakap di rumah Alan. Mendung di langit itupun semakin tebal. Rasanya hujan akan segera turun lagi.
" Bentar - bentar. Kalian berdua ini pacaran ya ?" Tanya Alan tanpa ragu.
Kulihat wajah Sherly menjadi merah. Sama sepertiku juga, tak kusangka Alan akan melontarkan pertanyaan seperti itu.
" Udah mau hujan nih, lebih baik kita melanjutkan perjalanan," Ucapku mengalihkan pembicaraan serta mulai berdiri dari tempat dudukku.
" Hei - hei, jawab dulu pertanyaanku !" Pinta Alan.
Namun kami sudah siap untuk melangkah meninggalkan rumah Alan dan tak memperdulikan pertanyaan itu.
" Kami pamit dulu, kawan," Ucapku.
Kulihat tubuh pria itu terpaku sebelum kami melangkahkan kaki dan menjauh dari rumah itu.