Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Dia Adalah Kakakku



Ancaman dari Pak Tono, guru gendut yang menyebalkan itu, memaksa otakku untuk berfikir keras. Jujur aku takut kalau harus meminta kakakku untuk datang. Dan kalau harus meminta kakekku ya tidak mungkin juga. Karena kakekku sudah tua renta, tidak mungkin ia harus pergi jauh - jauh.


" Kak, besok kakak disuruh ke sekolahanku, harusnya sih ayah atau ibu. Tapi kan kakak tau sendiri gimana kesibukan mereka, kalau kakek ya tidak mungkin juga," Ucapku yang akhirnya memutuskan untuk meminta kakak datang ke sekolahanku.


" Jam berapa ?" Tanyanya dengan wajah dingin.


" Sekitar jam 08.30 lah kak," Jawabku.


" Ohhh... Iya," Jawabnya singkat.


Tanpa bertanya ada urusan apa, kenapa ia harus datang ke sekolahku atau apa, ia langsung pergi begitu saja meninggalkan aku.


Tatapan mata itu sangat tajam, seakan menunjukkan kebencian yang luar biasa kepadaku. Padahal saat didepan teman - temannya dia adalah seorang yang humoris. Benar - benar sifat seorang kakak yang sangat membingungkan. Terkadang ia peduli tapi terkadang juga benci kepadaku.


Saat itu, ketika pagi menjelang siang. Seorang manusia gagah nan tangguh itu benar - benar datang mengabulkan permintaan sang adik. Mungkin ia izin untuk keluar sebentar dari sekolahannya, karena memang masih waktunya kegiatan belajar mengajar. Ia langsung menuju kantor dan menemui Pak Tono. Rasa takut bercampur penasaran merasuk ke hatiku. Saking penasarannya, aku minta izin pergi ke toilet karena memang masih waktunya kegiatan belajar mengajar. Padahal sejatinya aku cuma mau menguping pembicaraan mereka. Dan secara kebetulan jarak kantor dan kelasku berada lumayan jauh, meskipun berada di satu lantai. Yaitu lantai paling bawah.


" Selamat pagi, ini Pak Tono ya, gurunya Candra ?" Tanya kakakku sambil menyodorkan tangannya. Memang kakakku sudah ku beri tahu nama dan ciri - ciri Pak Tonom


" Ohhh... Iya saya Pak Tono." Jawabnya sambil bersalaman dengan kakakku.


" Saya Iqbal Pak, kakaknya Candra," Ucap kakakku.


" Ohhh iya, silahkan duduk," Kata Pak Tono mempersilahkan.


Si gendut itu menceritakan dengan detail apa yang sebenarnya terjadi. Ku lihat wajah dingin kakakku yang bertambah dingin. Kurasa dia amat marah mendengar apa yang telah ku perbuat dari mulut orang lain. Kalau dia benar - benar marah maka hancurlah aku dirumah nanti.


" Tapi pak, tidak mungkin kalau adikku yang memulainya," Ucap kakakku setelah mendengar cerita dari Pak Tono.


" Kenapa kamu bisa se yakin itu ?." Tanya Pak Tono.


" Karena dia adikku........"


Sontak perasaanku pun menjadi hangat, diliputi kesenangan dan kebahagiaan. Seorang kakak yang selalu menampakkan kebenciannya, dan seorang kakak yang kupikir bukan kakakku ternyata menganggapku benar - benar sebagai adiknya.


Pembicaraanpun terus berlanjut, akan tetapi aku sudah tidak mendengarkan lagi. Karena aku sudah terlalu lama keluar dari kelas. Entah apa yang mereka bicarakan setelah itu, yang pasti aku sudah mendengar pengakuan yang amat menggembirakan dari kakakku sendiri.


Sore hari........


Perasaan cemas menggerogoti hatiku ketika aku menanti sang kakak pulang sekolah. Aku takut ia akan marah kepadaku, takut sekali. Untuk menghilangkan rasa cemas itu, kuhampiri Pak Anto yang sedang bekerja dengan tujuan membantunya. Tidak salah juga jika seorang anak majikan membantu pembantunya menyelesaikan pekerjaan.


Awalnya Pak Anto menolak tawaranku, tapi sifat keras kepalaku yang tiba - tiba munculpun tak dapat dihentikannya. Layaknya seorang ayah dan anak, kami berdua bercanda dan tertawa bersama sambil mencabuti rumput. Suasana seperti itulah yang benar - benar sangat kuidam - idamkan terjadi padaku dan ayah kandungku. Tapi pekerjaan mengubah segalanya, mempersempit jarak pandangku pada ayahku, bahkan ibuku juga. Kulihat dari jauh seorang kakek yang tua renta menyaksika kedekatanku dengan Pak Anto. Dia tersenyum ketika aku menatapnya, akupun membalasnya dengan senyuman pula.


Dan tibalah waktunya kepulangan sang kakak. Hatiku berdebar kencang ketika melihat sosok gagah itu menuju ke arahku. Dan sialnya saat itu Pak Anto sudah tidak bersamaku lagi.


" Candra..... Kau hebat," Ucap kakakku dengan senyumannya sambil mengacungkan jempolnya.


Sebuah hal yang istimewa datang, ketika kakakku untuk pertama kalinya tersenyum saat aku melakukan kesalahan. Benar - benar sangat aneh. Jangankan melakukan kesalahan, sebelumnya bahkan melakukan hal yang benar pun ia masih jarang tersenyum padaku. Kata " hebat " itu, kata yang tidak pernah sama sekali diucapkan kakakku kepadaku sebelumnya. Sebuah pujian dari seorang manusia yang amat ku kagumi sekaligus ku takuti. Perlahan ketakutan yang aku rasakan sedari tadi pun hilang.


" He.... Hebat.... Maksudnya kak ?" Tanyaku bingung hingga membuat sebuah nada yang gagap.


" Kamu telah membuktikan pada kakak bahwa kamu itu bukan seorang penakut ataupun pecundang. Bahkan bukan pada kakak saja, pada teman - temanmu dan juga semuanya yang telah menyaksikan peristiwa itu," Ucap kakakku masih dengan senyumannya.


Peristiwa itu...... Mungkin maksudnya adalah perkelahianku dengan Indra. Apakah ini yang diinginkan kakakku selama ini dariku ?. Tapi mana mungkin. Tapi juga mungkin saja, kakakku ngin melihatku sebagai pribadi yang kuat. Pribadi yang bisa melawan ketika ditindas. Mungkin itulah alasannya kenapa dari dulu ketika aku ditindas dan akhirnya menangis ia tidak pernah menolongku. Malahan ia memarahiku dengan suara khasnya. Aku sadar, ia ingin diriku berusaha melawannya sendiri tanpa harus bergantung pada bantuan orang lain.


" Lalu apa yang dikatakan Pak Anto kak ?" Tanyaku.


" Dia memintaku supaya menghukummu agar kamu jera," Jawabnya.


" Lalu..... Apa kakak akan melakukannya ?" Tanyaku.


" Hahahaha..... Kenapa juga aku harus menuruti perintah gurumu itu, inilah yang ku inginkan darimu dari dulu," Ucapnya yang hanya ku balas dengan senyuman.


Dugaanku ternyata benar, itu adalah hal yang selalu diinginkan kakakku dari dulu. Bukan perkelahiannya, tapi tentang keluarnya sebuah keberanian dari dalam diriku. Benar - benar seorang kakak yang menunjukkan kepeduliannya dengan cara yang berbeda.