ANGEL [ Mother To My Child ]

ANGEL [ Mother To My Child ]
7



Ben memasuki perusahaan terbesar di kota London, semua mata menatap kearah nya yang tampak bersinar seakan pria itu seorang model yang sedang berjalan di atas Catwalk


" Wahhh dia tampan sekali" Dua resepsionis wanita yang duduk ditempatnya menatap kagum Ben yang berhenti didepan mereka


" Tanya diamana ruangan Antonsen Carl" Ben berbicara pada Hilda, Hilda yang mendapat perintah tersebut langsung bertanya pada resepsionis


" Maaf, diamana ruangan Tuan Antonsen Carl? " Tanya Hilda dengan sopan


" Ada di lantai 62 Nona"


" Terimakasih " Hilda kembali mendekati Ben


" Di lantai 62 Tuan" Ben tidak menjawab dan berjalan lebih dulu menuju lift, orang-orang yang dengan sendirinya menyingkir dari jalan, Ben dengan santainya masuk kedalam lift mewah khusus Direktur disusul Hilda dibelakang nya


Didalam Lift Ben hanya memasang wajah datarnya, dia menatap nomor lantai saat ini


" Lantai 34" Ben mendesah kesal didalam hati karena ruangan Antonsen berada di lantai yang cukup tinggi


Tinggg


Lift berhenti di lantai 62 dan Ben keluar dari lift, Hilda yang berada di belakang Ben dengan cepat menemui sekretaris Antonsen yang duduk didepan ruangan Direktur


" Apa Tuan Antonsen ada didalam? "


" Ya, apa anda orang Tuan Ben Daen? "


" Iya"


" Tuan Antonsen sedang menunggu didalam, silahkan masuk"


" Terima kasih" Hilda kembali mendekati Ben


" Silahkan Tuan" Ben melangkah kan kakaknya dan masuk kedalam ruangan Antara tanpa mengetuk nya


" Hai! " Kata Antonsen dengan kuat saat melihat Ben masuk keruangan nya


" Hai" Antonsen berdiri dari kursi kebesaran nya dan mendekati Ben


" Senang bertemu denganmu lagi Tuan Ben" Antonsen menjulurkan tanganya dan Ben menerima jabatan tangan Antonsen


" Aku juga senang bertemu dengamu"


" Oh ayolah kenapa wajahmu terlihat tidak senang begitu " Antonsen merangkul Ben dan membawa nya duduk disofa


Setelah mereka duduk, Ben menatap Hilda yang masih berdiri


" Hilda "


" Ya Tuan"


" Kamu pergilah keluar lebih dulu "


" Baik Tuan" Hilda berpamitan dan keluar dari ruangan Antonsen


" Dimana Leo? " Tanya Ben


" Dia akan datang sebentar lagi" Antonsen melihat Ben yang terus-terusan menghela nafasnya


" Ada apa? " Tanya Antonsen


" Tidak ada"


" Aku tahu dirimu, kamu tidak akan datang Ke London jika tidak ada urusan yang sangat penting" Ben menatap Antonsen dan memposisikan dirinya menghadap pria tersebut


" Antonsen sebenarnya aku kesini karena.... "


" Sayang! " Ben menghentikan ucapannya saat seorang wanita masuk kedalam ruangan Antonsen


Antonsen berdiri saat melihat Airca masuk kedalam ruangan nya, Airca terdiam didepan pintu ketika dia melihat suaminya memiliki tamu


" Kenapa kamu kesini? " Tanya Antonsen saat dia sampai didekat istrinya


" Maaf" Airca merasa bersalah karena mengganggu suaminya


" Untuk apa? "


" Kamu mempunyai tamu, kalau begitu aku akan pergi saja, nanti aku kembali lagi" Airca sudah akan pergi tapi terhenti ketika Antonsen menahan nya


" Dia hanya seorang teman" Antonsen tersenyum dan membawa Airca mendekati Ben yang masih duduk di kursi nya


" Perkanalkan dia Airca istriku" Kata Antonsen setelah dia dan Airca duduk, Ben menatap Airca dan tersenyum


"Salam kenal namaku Ben Daen" Senyum Airca yang tadi ada tiba-tiba hilang ketika mendengar nama tersebut


"Ben Daen? Apa pria ini yang di maksud kak Angel"


Antonsen menatap kesal Airca yang terdiam menatap lurus pada Ben


" Sayang" Kata Antonsen dengan nada penuh tekanan, dia menyentuh paha Airca dan meremas nya, Airca tersadar dan menepuk tangan Antonsen di pahanya


" Ada apa? "


" Memangnya kenapa dengan mataku? "


" Mata itu milikku " Ben tersenyum melihat tingkah Antonsen yang sedang cemburu


" Lalu? "


" Maka hanya boleh melihatku" Airca yang paham akan situasi nya menghembuskan nafasnya berat


" Apa anda benar-benar Tuan Ben Daen yang berasal dari New York? " Tanya Airca memastikan


" Iya" Jawab Ben


" Sayang lebih baik kamu pulang sekarang, Nick akan mengantarmu " Antonsen tidak tahu bagaimana istrinya bisa tahu dimana Ben tinggal dan itu membuat nya cemburu, dia menarik Airca dan membawanya keluar


" Antonsen " Kata Airca dengan kesal ketika suaminya tersebut membawanya menuju lift


Cup


Antonsen tidak menjawab dan malah mencium bibir Airca


" Nick sudah menunggu dibawah" Antonsen menekan tombol satu dan saat lift akan tertutup Antonsen kembali mengecup beberapa kali bibir istrinya sebelum dia keluar dari lift.


Airca yang berada sendiri di dalam lift berpikir dengan keras tentang Ben dan Angel


"Jika Ben Daen yang dimaksud kak Angel itu teman Antonsen, maka ini akan semakin sulit " Airca memijit kening nya merasa pusing


" Sebaiknya aku bicara kan dengan kak Angel lebih dulu "


Airca mengeluarkan ponselnya dari tas dan menelpon Angel


" Hallo kak"


" Ya"


" Kita harus bertemu hari ini, aku tunggu kakak di kafe Flower Farfell "


" Ada apa? "


" Kakak datang saja, ini sangat penting "


" Baiklah "


**


Airca menatap Angel yang masuk kedalam kafe sambil tangannya melambai pada Airca


" Maaf kakak datang terlambat "


" Tidak masalah aku mengerti "


" Jadi ada apa? " Tanya Angel sambil memanggil pelayan


" Ini mengenai Ben Daen" Angel menatap Airca dengan serius setelah dia memesan minuman


" Aku melihat nya hari ini di ruangan Suamiku " Angel sedikit kaget mendengar nya


" Bagaimana mungkin? Apa kamu sudah membahasnya dengan Antonsen? "


" Belum, aku datang kesana untuk membahas tentang Dana itu tapi Ben Daen itu sudah ada disana "


" Sepertinya mereka rekan kerja sama" Angel menyadarkan punggung nya ke kursi merasa semakin stress


" Bukan tapi mereka berteman "


Mendengar itu seketika tubuh Angel menjadi lemas, dia menatap pasrah pada adiknya


" Ini semakin sulit, Antonsen pasti mendukung temannya " Airca menyentuh tangan Angel yang berada diatas meja


" Kakak terima saja, tampaknya dia pria yang baik" Angel mengangkat wajah menatap Airca


" Tapi bagaimana kalau kami tidak cocok? "


" Kita tidak akan tahu kalau belum mencobanya "


" Airca benar, Ben Daen pria yang baik, dia mengurus putrinya dengan sangat baik"


" Kamu benar, aku akan mencoba untuk menerima dia"


" Itu bagus, tidak ada gunanya menghindari pria itu, jika menghindar dia malah akan semakin mengejar kakak"


" Tapi aku takut dia tidak bisa menerima aku yang penuh kekurangan ini dan mencampakkan ku"


" Kakak, jika dia tidak bisa menerima kakak ya sudah, toh dia yang mendekati kakak, tidak ada ruginya bagi kakak, bukankah itu lebih bagus dia pergi atas keinginannya sendiri"


"