![ANGEL [ Mother To My Child ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/angel---mother-to-my-child--.webp)
Ben benar-benar tidak ingin melepaskan tangan wanita yang dia genggam sekarang
"Aku merasa tidak sanggup" Angel tersenyum dan melepaskan genggaman tangan Ben padanya
" Pesawat mu akan lepas landas sebentar lagi"
"Aku memakai jet pribadi ku sayang"
" Tapi kamu harus pulang sekarang, kamu bilang kamu memiliki pertemuan yang penting di New York " Ben mengerucut kan bibir nya sedih dan memeluk Angel untuk terakhir kalinya
"Entah kenapa perasaan ku tidak nyaman meninggal mu hari ini"
Angel mengusap punggung Ben agar pria itu tidak berpikiran yang tidak-tidak
"Kamu tenang saja, aku wanita yang percaya pada takdir Tuhan, jika kita berjodoh Tuhan akan memberikan jalan untuk kita bahkan jika semua orang didunia ini menentang kita"
Hilda yang berdiri tidak jauh dari dua orang yang sedang berpelukan tersebut terpaku ditempatnya saat mendengar kata-kata Angel untuk Tuanya
" Nona Angel benar, bagaimanapun cara yang aku dan Nona Gisela lakukan untuk memisahkan mereka, kami sama sekali tidak bisa menentang kehendak Tuhan yang menginginkan mereka bersama "
" Meskipun Tuhan menakdirkan kita bersama tapi bukanlah Tuhan juga bisa memberi ujian untuk cinta kita, kita tidak tahu kapan kita akan bersatu, itulah yang aku takut kan.... "
Ben mengeratkan pelukkan nya, Angel tidak menjawab apa-apa karena dia juga tidak dapat menjamin mereka akan bersatu
" Tuan, pesawat nya sudah siap " Hilda menghampiri Ben ketika dia mendapatkan kabar bila jet pribadi milik Ben sudah siap lepas landas
Angel melepaskan pelan pelukkan Ben, Ben menatap wajah Angel dengan spenuh hatinya
" Aku pasti akan merindukan wajah ini" Ben mendekatkan wajahnya dan mencium Angel untuk terakhir kali, Angel membalas ciuman tersebut dan dia juga yang mengakhiri ciuman tersebut
" Pergilah " Ben menarik nafas nya dengan berat
" Aku mencintaimu Angel, dengan sepenuh hatiku" Angel tertawa mendengar nya
" Berhentilah bersikap jika kita tidak akan bertemu lagi "
" Aku serius, aku sangat mencintaimu, kamu hanya perlu percaya padaku "
" Aku hanya percaya dengan apa yang aku lihat dan dengar Ben, kamu lupa aku wanita yang jelas dalam hal cinta dan benci, aku tidak bisa membenci dan mencintai dalam waktu bersamaan"
" Kenapa kamu membicarakan hal ini, merusak suasana saja" Ben mengerucut kan bibirnya kesal
"Baiklah sampai jumpa" Angel tersenyum dengan sangat manis dan melambaikan tangannya pada Ben, Ben juga tersenyum dan juga melambaikan tangannya dan berbalik untuk menaikkan jet pribadi nya, Ben berdiri didepan pintu pesawat dan beteriak pada Angel
" Sampai Jumpa My Angel! "
Angel tersenyum dan Ben masuk kedalam pesawat, Angel menghilang kan senyum dibibir nya saat pesawat tersebut terbang meninggalkan kawasan Bandara
"Aku harap Tuhan menakdirkan kita bersama Ben dan jikapun tidak, aku bisa apa? "
**
Didalam pesawat Hilda menatap Ben yang sedang sibuk dengan Laptop di pangkuannya, Hilda mengambil ponselnya dan memotret Ben secara diam-diam setelah itu dia mengirimkan gambar tersebut pada Gisela dengan caption
' Tuan Ben sudah berada di dalam perjalanan kembali ke New York '
Tak lama pesan balasan dari Gisela masuk
' Itu bagus, jalankan sesuai rencana'
'Baik Nona'
Setelah membalas pesan Gisela, Hilda menyandarkan punggung nya dan menatap keluar jendela
" Aku adalah Asisten Tuan Ben tapi malah menuruti keinginan Nona Gisela, aku seperti awan yang mendung ditempat ini tapi malah tertiup angin sehingga menjatuhkan hujan ditempat lain, apakah awan tersebut bisa disebut penghianat sedang kan itu bukanlah keinginan nya"
Hilda memejamkan matanya mencoba untuk menenangkan dirinya dari rasa bersalah yang tidak bisa dia hindari
**
Angel pulang ke rumah dan masuk kedalam kamarnya dan saat itu juga ada telepon dari Ben
" Hallo" Sapa Angel ketika dia sudah mengangkat nya
" Hallo sayang, maaf jika baru menelpon karena aku langsung menemui rekan kerja samaku saat tiba Di New York "
" Angel kenapa kamu bisa sangat pengertian denganku? " Angel mendudukkan dirinya disisi ranjang dan melepas sepatu nya
" Buka kah itu bagus? "
" Iya, tapi aku juga ingin dimarahi karena tidak memberi kabar pada kekasih nya" Angel tertawa mendengar perkataan Ben
"Kenapa aku harus marah, lagian kamu juga aneh dimarahi malah suka"
" Aku suka semua yang kamu lakukan padaku"
" Ok. Ok berhenti menggodaku, apa kamu tidak lelah? mandi, makan dan istirahat lah"
" Aku ingin kamu yang melayani ku, memandikan ku, menyuapi ku dan mengusap rambut ku hingga tertidur "
" Ben berapa umur mu? "
" 33 Tahun"
" Setua itu kenapa kamu begitu manja? mandi dan makan sendiri"
" Aku hanya manja padamu saja, dimata orang lain, aku pria yang sangat mandiri"
Mereka berbincang ditelpon hingga berjam-jam, tertawa diatas ranjang seperti orang yang baru mengenal cinta, hingga tak sadar mereka tertidur diranjang mereka masing-masing dengan panggilan telpon yang masih terhubung
**
Hilda menjenguk ibunya yang sudah menjalani operasi dengan lancar, Bimo berdiri dari kursi nya saat melihat Hilda datang dengan membawa banyak makanan di tangannya
" Kakak" Hilda tersenyum dan memeluk ibunya yang berbaring diatas ranjang rumah sakit
" Hilda " Hilda menahan air matanya dan melepaskan pelukkan nya, ibu Hilda menangis dengan kencang hingga tubuhnya bergetar, Hilda menarik nafasnya dengan panjang dan duduk disamping ibunya
" Ibu berhenti lah menangis "
" Terimakasih Hilda, Ibu selalu menyusahkan mu, dari kamu kecil hingga sekarang kamu menjadi tulang punggung keluarga kita " Hilda tidak bisa menahan air matanya lagi dan ikut menangis dengan kencang
" Hilda ikhlas Ibu, semuanya aku lakukan dengan sepenuh hatiku "
" Kakak " Bimo juga menangis dan memeluk kakaknya
" Maaf jika selama ini Bimo hanya bisa menyusahkan kakak, Bimo janji Bimo akan menjadi pria yang sukses hingga Kakak tidak perlu lagi bekerja keras untuk keluarga kita" Hilda mengusap air mata di pipi nya dan tersenyum dengan tegar
" Kamu hanya perlu belajar dengan rajin dan lulus kuliah dengan cepat, hanya itu yang kakak minta"
" Terimakasih kak Hilda, jika tanpa kakak aku dan ibu tidak tahu lagi bagaimana untuk menjalani hidup "
Flashback On
Hilda melihat ibunya yang sedang bertengkar dengan ayahnya
Ayah Hilda memukul Ibunya menggunakan tali pinggang, tidak ada air mata dimata wanita itu tapi dari suara Hilda Tahu itu sangat menyakitkan
" Kamu itu wanita tidak berguna, bagaimana kamu bisa lari dari sana, pria itu sudah membayar mu bodoh "
" Kamu yang suami tidak berguna! Bagaimana kamu bisa menjual ku pada temanmu? " Ibu Hilda berdiri dari lantai dan menjawab dengan berani, mata pria itu memerah karena marah, dia menggeram dengan keras dan menendang wanita itu hingga tersungkur dilantai, merasa belum puas, pria itu menginjak kepala istri nya berkali-kali hingga wanita itu pingsan
Sedangkan Hilda hanya bisa mengigit bibir nya agar tidak bersuara, air mata mengalir dengan deras di pipi nya, dia tidak berani mendekat karena jika itu dia lakukan dia juga akan mengalami hal yang sama dan itu sudah pernah terjadi berkali-kali
Ayah Hilda keluar dari kamar dan Hilda dengan cepat menyingkir dari pintu, dia Pura-pura tidak melihat kejadian tersebut, Ayah Hilda menatap Hilda yang sedang duduk di salah satu Kursi sambil membaca buku
" Tidak ada gunanya kamu membaca buku, lebih baik kamu itu cepat tumbuh dewasa hingga bisa melayani pria-pria kaya " Setelah mengatakan hal tersebut pria itu keluar dari rumah dengan membanting pintu rumah dengan keras
Melihat itu Hilda dengan cepat mendekati ibunya
" Ibu.. Ibu... " Hilda menyentuh pelan wajah ibunya yang memerah dengan bekas telapak tangan disana, Hilda juga mengusap lengan ibunya yang luka dan berdarah bekas cambukan ikat pinggang ayahnya, dia membawa ibunya untuk naik keatas ranjang, lalu dia beteriak memanggil Bimo
" Bimo! Bimo ! " Bimo yang masih bersembunyi didalam kamar ketika pertengkaran kedua orang tuanya keluar dari kamar dan mendekati kakak dan ibunya
" Kamu masukkan semua baju kamu dan ibu kedalam tas, kita pergi dari sini malam ini juga".
Flashback Oof