ANGEL [ Mother To My Child ]

ANGEL [ Mother To My Child ]
12



Ben turun dari lantai atas dan langsung memeluk Gloria yang sedang bermain bersama neneknya, Anna mengangkat alisnya saat melihat wajah cerah dari putranya


" Ada apa ? Wajahmu sangat cerah seperti matahari " Ben tertawa pelan mendengar perkataan ibunya, lalu dia menatap ayahnya yang sedang membaca majalah tidak jauh dari mereka


" Apa Papa marah mengenai aku yang pergi ke London?"


" Tentu saja, dia bahkan berkata dia akan memotong kepala mu jika kamu tidak membawa wanita yang kamu maksud itu kerumah " Ben tersenyum dan mencium Gloria


"Aku akan menemui Papa sekarang" Anna mengangguk dan Ben berjalan mendekati ayahnya


"Papa"


" Kamu pulang? Papa kira kamu tidak akan pulang lagi padahal Papa sudah ingin membuat surat pengeluaran kamu dari daftar keluarga " Ben tersenyum dia tahu Ayah nya hanya bercanda


"Aku akan melamar wanita itu 2 minggu lagi" Ayah Ben menutup majalah yang dia pegang dan menatap Ben serius


" Kamu tidak bohong kan? "


" Tidak "


" Itu bagus, Papa kira kamu tidak akan menikah lagi setelah pernikahan pertamamu yang penuh drama "


" Apa Papa menyetujui hubungan ku dan kekasih ku? "


" Tentu saja, sangat sulit mendapatkan wanita yang bisa membuat mu berkomitmen lagi, jangan tunggu waktu 2 minggu itu terlalu lama"


"Masih banyak yang harus aku urus diperusahaan"


" Kamu tenang saja, Papa akan mengambil alih perusahaan untuk sementara waktu "


" Benarkah?! "


" Ya" Ben sangat senang dan menyentuh tangan Ayah nya


" Terimakasih Papa "


**


Angel kaget saat mendapat pesan dari Ben jika pria itu akan kembali datang ke London dalam waktu 3 hari untuk melamar nya


Angel dengan cepat menelpon nomor Ben


" Hallo"


" Ya"


" Apa maksud dari pesan yang kamu kirim padaku? "


" Apa pesan itu belum jelas? "


" Maksudku, kenapa... Kenapa tiba-tiba? "


"Itu permintaan kedua orang tuanku" Anak terdiam dan menyentuh dadanya yang berdebar


" Orang Tuanya yang meminta? Apa itu Arti nya aku diterima di kelurga nya"


Angel tersenyum dan kembali bicara


" Aku senang mendengar nya"


" Aku sangat ingin melihat wajahmu sekarang"


" Aku juga"


" Aku sungguh ingin berbicara panjang lebar bersama mu tapi aku masih ada meeting sebentar lagi"


" Aku mengerti, sampai jumpa "


" Sampai jumpa My Angel "


Tak lama setelah Ben memutuskan telponnya, Hilda masuk kedalam ruangan nya


" Ruangan sudah siapa Tuan" Ben berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar


" Apa semua sudah disana? "


" Sudah Tuan" Jawab Hilda sambil mengikuti Ben dibelakangnya


Setelah meeting selama satu Jam, Ben hanya duduk dikursi nya menyelesaikan semua tugas yang dia tinggalkan selama di London, dia menatap jam ditangannya


09:00 PM


Ben mendesah dan menyandarkan punggung nya


" Masih ada tiga dokumen lagi yang harus aku selesai kan"


**


Hilda menatap ruangan dimana Ben berada di dalamnya, dia berdiri dan mengetuk pintu ruangan tersebut


Tok... Tok...


" Masuk " Hilda masuk dan mendekati Ben yang sibuk dengan dokumen diatas meja


" Apa Tuan butuh Secangkir kopi? " Ben mengangkat kepala nya


" Ya, jangan terlalu manis"


" Baik Tuan " Hilda berjalan menuju sisi ruangan tersebut, dimana disana terdapat mesin kopi beserta alat-alat dan bahannya, Hilda mulai membuat kopi dan memasukkan setengah sacet kedalam cangkir yang sudah berisi kopi, Hilda melirik kearah Ben, disana Ben masih fokus dengan pekerjaan nya


Hilda menarik nafas nya dengan panjang dan mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, dia menuangkan benda tersebut kedalam minuman dan mengaduk nya dengan pelan


" Ini Tuan" Hilda meletakkan gelas kopi tersebut diatas meja


" Terimakasih "


" Baiklah Tuan, kalau begitu saya permisi"


Tanpa menunggu jawaban Ben, Hilda keluar dan dengan cepat menghembuskan berat nafas nya, dia duduk dikursi nya dan menelpon Gisela


" Hallo Nona, saya sudah menjalankan rencana sesuai perintah Nona"


**


Ben menyentuh kepalanya yang terasa sedikit pusing


" Apa ini karena aku terlalu lama bekerja? " Ben memejamkan matanya sambil tangan kanannya memijit pelipisnya yang berdenyut


Ben menutup laptop miliknya dan berdiri dari kursi


" Lebih baik aku pulang dari pada aku pingsan disini "


Ben keluar dan melihat Hilda yang masih duduk dikursinya


" Kamu masih disini? " Tanya Ben setelah melihat Hilda masih ada di sana, padahal Ben sudah membolehkan wanita itu untuk pulang lebih dulu


" Apa Tuan tidak dalam kondisinya baik, kalau begitu saya akan mengantarkan anda pulang Tuan"


Ben mengangguk dan lebih dulu berjalan menuju lift


**


Didalam perjalanan Hilda menatap Ben yang memejamkan matanya melalui spion mobil


" Tuan? "


"....... "


" Tuan? "


"..... "


Setelah tidak mendapat jawaban dari Ben, Hilda kembali menelpon Gisela


" Nona, saya sedang dalam perjalanan menuju ke sana"


" Bagus, lebih cepat "


" Baik Nona"


Hilda menambah laju mobilnya dan berhenti didepan sebuah bangunan apartemen yang mewah, setengah dia membuka pintu berberapa pria datang membawa Ben untuk masuk kedalam gedung


Hilda mengikuti dua pria yang membawa Ben kedalam Lift, dia menatap lantai yang salah satu pria tersebut tekan


25


Mereka sudah sampai dan keluar dari Lift, mereka berhenti didepan kamar apartemen dengan nomor 222


Tok... Tok...


Gisela membuka pintu dari dalam dan dua pria tersebut membawakan Ben masuk kedalam apartemen milik Gisela


" Kamu juga masuk" Hilda menurut dan masuk kedalam


Dua pria yang membawa Ben sudah keluar dan Gisela langsung naik ke atas ranjang, dia menatap Ben yang terpejam dengan damai


"Kamu hanya perlu memotret, mengerti "


" Baik Nona"


Gisela mulai membuka baju yang dikenakan pria itu hingga dada bidangnya terlihat, Hilda memalingkan wajahnya melihat hal tersebut


" Tuan Ben, aku mohon maafkan aku"


Gisela juga membuka pakaian nya hingga hanya menyisakan Underwear dan Bra ditubuh nya, dia menarik selimut dan menutupi bagian bawah Ben yang masih menggunakan celana, lalu dia juga masuk dan memeluk Ben dengan mesra


" Sekarang foto"


**


Ben membuka matanya dengan pelan dan mendudukkan dirinya


" Aku dimana? "


" Di apartemen ku" Ben dengan cepat menatap Gisela yang berdiri didepan balkon dengan hanya menggunakan kemeja putih terang hingga Ben bisa melihat warna Bra yang wanita itu kenakan


Ben berdiri dengan cepat dari ranjang dan menatap penampilan nya, dia merasa lega saat dia masih menggunakan jelana miliknya


" Kenapa aku bisa ada disini? " Tanya Ben sambil memasang baju kemejanya


" Kamu datang sendiri "


Ben tidak ingin menanggapi perkataan Gisela, dia yakin perkataan wanita itu adalah kebohongan, jangankan untuk datang ke apartemen wanita itu, dia bahkan tidak tahu dimana wanita itu tinggal


" Gisela, aku tidak tahu bagaimana aku bisa ada disini dan apa yang kamu rencanakan, aku hanya berharap kamu tidak melakukan sesuatu yang akan membuat mu menyesalinya "


Ben sudah memakai sepatunya, dia keluar dan menutup pintu apartemen wanita itu dengan keras, Gisela hanya menatap kepergian Ben lalu dia menatap keluar balkon


"Lihat apa yang akan aku lakukan Ben, aku akan membuat wanita yang kamu cintai itu tidak ingin lagi menatap mu"