ANGEL [ Mother To My Child ]

ANGEL [ Mother To My Child ]
14



" Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi "


Ben menurunkan dengan lemas ponselnya yang ada dikuping saat mendengar suara tersebut


" Apa aku benar-benar harus gantung diri? " Kata Ben lemah, dia berjalan menuju balkon dan menatap kearah bawah, di sana dia melihat Gloria sedang berenang di kolam renang


" Aku tidak bisa mengakhiri hidupku, jika itu aku lakukan Glory tidak akan mempunyai ayah lagi"


Ben masih menatap Gloria yang sedang berenang, Tiba-tiba dia tersenyum saat sebuah pemikiran hadir dikepalanya, dia dengan cepat keluar dari kamar dan berlari menuruni tangga, dan berhenti didekat Gloria yang sedang dikeringkan rambut oleh pelayan


" Papa" Kata Gloria saat dia melihat Ben mendekati nya


"Glory mau ketemu Mama? "


" Mama Angel? "


" Iya"


" Mau! " Gloria berlari kearah Ben, Dan Ben dengan cepat mengangkat Putri nya dan membawanya ke gendongan


" Kalau begitu hari ini kita ketempat Mama"


**


" Kakak" Angel menghembuskan nafasnya kecewa saat dia tahu itu Airca bukan Ben seperti yang dia harapan kan


" Airca" Kata Angel dengan pelan


" Kenapa kakak terdengar tidak bersemangat? "


" Kakak baik-baik saja, ada apa kamu menelpon? "


"Aku ingin mengundang kakak makan malam dirumahku malam ini"


" Hanya kakak? "


"Iya, aku mencoba resep baru dan ingin kakak mencobanya"


"Apa perlu mengajak Papa dan Mama juga? " Terdengar tawa Airca dari Seberang telpon


" Tidak perlu, aku hanya ingin kakak mencobanya, Papa dan Mama tidak perlu datang "


" Baiklah, ada yang mau aku cerita juga padamu "


" Cerita apa? "


" Mengenai Ben Daen"


" Apa! Ayo cepat cerita "Airca merasa sudah penasaran hanya dengan mendengar nama Ben disebutkan


" Malam nanti saja, ini masalah yang sedikit serius"


" Padahal aku sudah sangat penasaran, tapi baiklah, sampai jumpa kak"


" Sampai jumpa " Angel meletakkan kembali ponselnya diatas ranjang dan kembali menunggu telpon dari kekasihnya


30 menit sudah berlalu tapi Ben tidak juga kembali menelpon


" Kamu baru menelpon ku 299 kali apa kamu sudah menyerah"


**


Ben menelpon Liora sekretaris nya dikantor dan tak lama Liora mengangkat nya


" Hallo Tuan"


" Liora siap kan Jet pribadi, aku ingin ke London hari ini juga" Liora sempat terdiam sejenak sebelum dia kembali bicara


"Kalau begitu saya akan memberitahu Hilda untuk menyiapkan nya Tuan"


" Tidak, jangan beritahu dia" Ben sungguh tidak bisa kembali mempercayai Hilda setelah kejadian dia yang tertidur di apartemen Gisela


" Baik Tuan, kalau begitu saya akan mempersiapkan nya"


**


Angel sudah siap dengan pakaian rapi dan turun dari lantai atas, dia tidak meliha Cintya dan Louis dibawah


"Bibi Derma" Angel memanggil wanita paruh baya yang sedang membersihkan dapur, Bibi yang dipanggil oleh Angel tersebut mendekati Angel


" Iya Nona"


" Dimana Kedua orang tuaku?"


" Mereka memakai pakain yang rapi dan baru saja keluar Nona"


" Kemana? "


" Saya tidak tahu Nona, tapi saya sempat mendengar mereka membicarakan tentang pernikahan Cornelia"


Angel kaget mendengar nya


" Ya Tuhan, aku bahkan lupa kalau makan ini pesta perayaan pernikahan Bibi Cornelia dan suaminya "


" Apa ada lagi Nona? " Tanya Derma


Angel tersadar dan menatap Derma yang bertanya


" Tidak ada, Bibi bisa kembali bekerja" Angel langsung pergi dari sana dan berjalan menuju pintu keluar


"Papa dan Mama sudah ada disana seharusnya tidak masalah jika aku tidak datang, suasana hati ku juga sedang tidak baik karena Ben, aku butuh teman curhat dan hanya Airca yang bisa memahamiku"


Angel memutuskan untuk datang ke rumah Airca dan masuk kedalam mobil kesayangannya, didalam perjalanan dia kembali melihat layar ponselnya memastikan apa ada panggilan masuk dari Ben


" Dia benar-benar tidak menelpon ku lagi, apa dia marah karena ku mengabaikan nya? " Angel meletakkan kembali ponselnya kedalam tas dan menatap kedepan


" Tapi jika dia benar-benar mencintai ku, dia akan menelpon ku atau mengirim pesan padaku bahkan jika aku tidak mengangkat panggilan 1000 kali"


*


Angel turun dan melihat Airca yang sudah menunggu nya didepan pintu, Angel turun dan mendekati adiknya


" Maaf kakak sedikit lama datang nya"


" Tidak masalah, ayo" Airca menarik Angel dan membawanya masuk, mereka  sampai dimeja makan yang sudah duduk Antonsen dan Alfano disana, Alfano yang melihat Angel datang turun dari kursinya dan berlari menuju Angel


"Tante! " Angel tersenyum dan membawa Alfano ke gendongan


" Apa kamu merindukan tente Angel? " Tanya Angel sambil mengusap rambut Alfano


" Iya Alfan sudah menunggu Tante dari tadi, Papa marah -marah dan ingin makan lebih dulu tapi Mama melarangnya"


" Maaf ya" Kata Angel merasa bersalah


" Tidak apa-apa kakak, Antonsen memang tidak sabaran" Mendengar itu Antonsen menatap kesal istrinya


" Ayo kak kita duduk" Angel menurunkan  Alfano dan anak laki-laki itu kembali ke tempat duduknya, Angel duduk didepan Antonsen, sedangkan Airca memilih duduk di samping kakaknya


" Sayang duduk disamping ku" Antonsen menatap kesal Airca yang duduk disampai Angel


" Antonsen please jangan merusak suasana "


*


Setelah makan  malam yang lumayan menyenangkan, mereka sekarang sedang duduk diruang keluarga, Antonsen duduk dibawah sambil memangku Alfano menonton kartun


" Papa dan Mama datang keacara hari jadi pernikahan salah satu rekan kerja sama Papa sejak lama" Angel membuka pembicaraan


" Siapa? "


" Bibi Cornelia "


" Aku tidak kenal"


" Tentu saja kamu tidak kenal, kamu kan hanya pernah beberapa hari menjadi wakil direktur "


" Iya, aku sudah lama tidak bekerja, rasanya rindu"


" Kalau begitu kembali saja mengajar "


" Jangan mencoba menghasut istriku" Antonsen berbicara tanpa menatap istri nya dan Angel, Angel tersenyum dan menyentuh tangan Airca


" Kamu tidak perlu bekerja, aku yakin kamu pasti sudah sangat lelah melayani suamimu " Airca menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat mendengar perkataan ambigu dari kakak nya


" Tidak, aku tidak lelah, aku senang melakukannya" Antonsen menahan senyuman nya saat mendengar perkataan strinya


" Benarkah? Apa kalian melakukannya setiap malam? " Airca tertawa pelan dengan canggung


" Apa yang kakak bicara kan? disini ada Alfan"


Angel menatap Alfano yang sedang fokus menonton


" Kalau begitu, aku ingin kita bicara berdua saja ditempat yang nyaman "


Airca teringat akan Angel yang berkata akan bercerita tentang Ben dan langsung menarik Angel ketempat dimana Antonsen dan Alfano tidak dapat mendengar nya


" Sayang" Panggil Antonsen pada istrinya saat melihat Airca pergi dari sana


" Nanti ya sayang, kak Angel ingin curhat tentang kekasihnya "


**


Mereka sedang duduk dibangku taman dengan lampu yang berkelap-kelip indah menghiasi pohon -pohon kecil yang ada disana


" Ada apa dengan Ben Daen? " Angel tidak menjawab dan memilih menunjukkan foto kebersamaan Ben dan Gisela, Airca yang melihat itu menutup mulutnya menggunakan tangan merasa kaget


" Wanita itu sendiri yang mengirimkan nya padaku, dia juga berkata kalau dia calon istri Ben"


" Apa ini benar? "


" Aku juga tidak yakin, aku tidak bisa percaya pada wanita itu ataupun Ben" Angel menatap Airca dan menggenggam tangannya


" Menurut mu apa yang harus aku lakukan? " Airca menarik nafasnya dengan pelan dan membalas genggaman pada tangannya


" Tidak ada, bukankah sudah jelas dia tidak benar-benar serius padamu kak, bukankah ini yang kakak inginkan? Ini adalah cara agar dia tidak akan mengganggu kakak lagi"


Angel terdiam mendengar perkataan adiknya yang terkesan menusuk di hatinya


" Meskipun perkataan Airca benar, tapi kenapa ada rasa didalam hatiku yang tidak rela"


" Kakak apa kamu sudah jatuh cinta padanya? " tanya Airca setelah melihat wajah tidak bahagia kakaknya, Angel hanya diam tidak menjawab


" Kakak jawab? "


" Iya" Jawab Angel dengan pelan


" Jadi benar, kakak benar-benar jatuh cinta pada nya!" Airca merasa tidak percaya dan menepuk jidat nya


" Ini masalah, benar-benar masalah, kakak tidak seharusnya jatuh cinta padanya, ini akan semakin rumit "


" Tapi aku sungguh tidak bisa membohongi perasaan ku"


"Kakak bicara lah dengannya secara dewasa, ini tidak akan mendapatkan akhir jika kakak menghindari nya"


" Aku tahu, dia sudah menelpon ku sebanyak 299 kali dan mengirim satu pesan tapi tidak satupun yang aku Terima "


Airca memilih diam, membiarkan Angel melanjutkan perkataan nya


" Aku berniat mengangkat nya saat dia sudah menelpon ku 300 kali tapi malah kamu yang menelpon"


" Aku kira dia akan kembali menelpon, tapi hingga sekarang dia tidak kembali menelpon "


" Kakak, aku tidak pernah mengalami hal yang kamu alami sekarang, aku tidak tahu bagaimana kamu bisa masih mengharapkannya disaat dia telah berkhianat dibelakang mu"


"Aku.... Aku... Tidak tahu kenapa" jawab Angel gagu, Airca menyentuh tangan kakaknya


" Kakak, selama ini kamu paling benci akan kebohongan dan tidak senang jika seseorang sudah berkhianat tapi kenapa sekarang berubah"


" Airca, kamu masih mau menerima ku sebagai kakak bahkan setelah apa yang aku lakukan, aku tidak tahu sejak kapan pemikiran ku tentang kebohongan berubah, mungkin setelah kamu menerima ku kembali Airca "


"Sejak 5 tahun ini aku hanya mencoba untuk mempertahankan prinsipku agar orang lain tidak dapat mempermainkan ku tapi sesungguhnya aku sama sekali tidak bisa menghakimi kesalahan orang lain lagi, aku tidak menyalahkan Ben ataupun wanita yang tidur bersama Ben" lanjut Angel