
Siang harinya
Drrrtt drtt
“ Halo?”
“ Ainaa, bisa bantu aku gak?”
“ Bantu apa lun?”
“ Itu.... aku ke rumahmu aja ya? susah jelasinnya...”
“ oke... da”
Tu Tut
‘ Tumben Luna kena masalah...’- Aina
“ Siapa yang telpon?” tanya Nalan sambil memakan bubur buatanku
“ Luna, kayaknya ada masalah sih. Dari nada bicara aja udah khawatir banget”
“ oh, aku lanjut di kamar aja”
“ ok”
Nalan masuk ke kamarku, sedangkan aku duduk di depan TV sambil memakan jajanan yang kemarin Nalan beli untukku.
Ting Tong
‘ cepet juga...’- Aina
Kriettt
“ Ada apa lun?” tanyaku setelah membukakan pintu
“ Nana... aku minta tolong plissssss” kata Luna langsung memelukku
“ eh.. kenapa? ayo masuk dulu aja...” ajakku sambil menarik tangan Luna yang agak dingin
“ Jadi gini... semalem aku masih belajar, tapi tiba-tiba ada orang yang chat aku kalau dia minta ketemuan. Tapi dia sama sekali enggak mau nyebut namanya, nih coba lihat... aku takut bangettt. Dia minta ketemuan jam 10...” terang Luna sambil menyerahkan handphone-nya
‘ ... Luna kan anaknya... pemalu. Dia juga gak punya banyak kontak di hp nya... agak aneh gak si... tapi...’- Aina
“ kalau kamu takut, biar aku aja gimana yang kesana?” tanyaku mencoba menenangkan Luna
“ eh?! kalau kamu yang kenapa - napa gimana???”
“ aku coba bawa beberapa benda keras aja kali ya. Kalau dia macem - macem, aku masih bisa ngelawan” kataku sambil menepuk pundak Luna
“ eh.. beneran?! tapi....”
“ gak ada tapi tapi. Kita kan temen, ngapain masih sungkan”
“ oke... deh...”
“ kalau gitu... aku pulang dulu ya, pokoknya hati - hati” kata Luna sambil pergi ke arah pintu
‘ ... ada yang aneh’- Aina
Di Kamar
“ Bahas apa tadi? singkat amat” kata Nalan dengan mata fokus memainkan handphone nya
“ ada orang yang ngajak dia ketemuan. Tapi takut, akhirnya aku yang bakal ketemuan sama orang itu..” jawabku sambil memberesi kamar
“ orang.. gak dikenal gitu?” tanya Nalan lagi
“ ya iyalah. Kalo misal Luna kenal, ngapain repot-repot jelasin ke aku??”
“ beneran kamu mau kesana? aku tinggal dirumah sendiri dong” kata Nalan langsung memindahkan bola matanya ke arahku
“ paling cuma sampe jam 1?” jawabku sambil duduk berhadapan di kursi
“ gak mungkin ya, orang ngajak ketemuan cuma beberapa jam doang. Pasti ya sampe malem lah” kata Nalan kesal
‘ padahal bilangnya gak mau kemana-mana’- Nalan
“ dari jam 10 sampe jam 1 itu kan... 3 jam kan? bukannya udah lama ya? ngapain sampe malem malem gitu?” tanyaku ikutan kesal
“ iiihhhh, Nanaa. Kamu kok.. ,ih!. Mana ada orang ngajak ketemuan cuma 3 jam doang, kecuali orang yang diajak ketemuan itu..... rada... rada.. gitulah” jawab Nalan sambil mengangkat tangan kanannya
“ gitu ya... jam berapa sekarang?”
“ udah jam 9, mau ngapain?”
“ ya mandi lah. Kan mau ketemuan...”
Aku pergi mengambil anduk dan langsung ke wc sebelah dapur. Nalan dikamar masih bingung, apa yang harus dilakukan.
“ Gimana, udah bilang?” tanya seorang pria dari telpon Luna
“ Udah. Jangan aneh-aneh sama Aina. Kalau enggak, awas aja kamu...” jawab Luna dengan nada mengancam
“ tenang aja, mana mungkin aku ngapa ngapain Aina kan?”
“ ya udah. Siap - siap aja dulu sana. Aina pasti lagi siap - siap”
Tu Tut
‘ Aina... maaf’- Luna
Pukul 10 siang, aku sudah datang ke tempat pertemuan. Taman Indah. Walau jaraknya agak jauh, aku masih harus datang karena menggantikan Luna.
Di dalam tas, aku membawa handphone, payung, P3K kecil dan beberapa benda tajam lainnya.
‘ .... masih belum dateng ya?’- Aina
Tiba tiba seorang pria berbadan tinggi menggunakan topi berwarna hitam. Datang ke arahku sambi menunduk.
“ Luna ya...?” tanyanya sambil menghadap ke arahku
“ Aku temannya Luna. Dia sedang sakit, jadi aku yang menggantikan nya. Tidak masalah?” tanyaku balik
“ ah.. baiklah. Bagaimana kalau kita duduk terlebih dahulu? pasti kau sudah lama menunggu kan?” katanya sambil berjalan kearah bangku dengan meja dan payung ditengahnya
Aku hanya diam dan mengikuti langkah kakinya. Kemudian duduk berhadapan dengannya. Dia melepaskan topinya dan memakai kacamata bundarnya.
“ maaf, perkenalkan namaku Alan Zacky dari kelas 11 IPA1”
‘ Alan! k- kenapa dia...’- Aina
“ kamu! kenapa kamu...” kataku agak kaget
“ kaget ya? haha, padahal aku mau ketemuan sama Luna. Tapi malah.. kamu yang datang ya udah deh gak papa” jawabnya dengan tenang
‘ Tunggu..., kenapa... ada yang aneh..’- Aina
“ Maaf, kalau kamu memperkenalkan diri lebih awal. Mungkin Luna juga bakal mau ketemuan sama kamu” kataku ikutan tenang
“ haha, sekarang malah jadi kita berdua yang ketemuan.. karena diluar agak panas, gimana kalau kita jalan - jalan ke Mall??” ajaknya dengan senyuman yang biasa ia perlihatkan kepadaku
“ aku ini anaknya enggak se- kaya kamu... aku gak punya uang buat main kesana...” jawabku terus terang
“ tidak apa. Kalau kau tidak mau shopping, kita bermain game saja?” tanyanya mencoba usul baru
“ okelah. Percumah juga kalau kita udah ketemuan tapi gak ngapa-ngapain” jawabku kemudian berdiri.
Dia memasukkan topinya ke tas yang ia bawa dan menata lagi rambutnya.
‘ kalau dilihat-lihat... emang mirip sama Nalan sih.. cuma bedanya.. dia lebih... tipe, cewek?’- Aina
Aku melihatnya sebentar karena merasa ada yang aneh dengannya. Seperti ada sesuatu yang kurang dari dirinya.
‘ Apa ya?’- Aina
“ kenapa lihatin terus? aku emang ganteng kok” katanya percaya diri
“ iya iya. Tau. Kamu emang ganteng...” jawabku terus terang.
Dia hanya terdiam dan wajahnya agak memerah sedikit. Dia langsung memalingkan wajahnya dan menarik tanganku dengan cepat.
“ mau langsung main atau ke bioskop dulu aja? aku ingat hari ini ada film baru...”
“ genre-nya apa?” tanyaku penasaran
“ ... adventure.. horror?”
“ ke bioskop aja ih.. aku mau nonton!” jawabku dengan senang
“ k- kamu suka sama genre itu ya...?” tanyanya agak ragu
“ lumayan sih.... biasanya aku nonton itu bareng sama temen cowokku” jawabku sambil melirik ke arahnya karena ingin melihat bagaimana reaksinya
‘ Nalan ya...’- Alan
“ ternyata kamu juga punya temen cowok” gumamnya tanpa menoleh ke arahku
“ maaf, tadi kamu bilang apa?” tanyaku bingung
“ bukan apa. Karena bioskopnya deket, gak usah pake motor ya..”
‘jalan kaki lebih sehat. Ngapain pake motor?’- Aina
“ oke”