
Esok harinya
Di sekolah
‘ Tumben Nalan sama sekali enggak jemput kerumah... biasanya... mungkin dia kesel karena aku sama sekali enggak ngabarin dia kalau yang ketemuan sama aku.. itu.. Alan’- Aina
“ Aina! huah... akhirnya bisa nyusul kamu...” teriak Luna sambil berlari kearah ku
“ ah, makasih dah ngejar...”
“ Jadi.. kemarin ternyata siapa?!” tanya Luna sambil membetulkan tasnya
“ Alan.. dari kelas 11 IPA1” jawabku datar
“ Woahh ternyata ketua OSIS... kamu.. beruntung banget bisa nge date sama dia!!!” kata Luna senang
“ iya sih.. tapi aku maunya sama Nalan..” jawabku serius
“ Anak itu mah... mending gak usah di ladenin deh. Apa sih kurangnya Alan? dia itu.. idaman cewek - cewek disini loh...” puji Luna
“ makanya.. karena itu aku sama sekali enggak mau berurusan dengan Alan.. kalau dia bukan Ketua OSIS atau jago apalah.. mungkin aku juga bakal suka sama dia...” jawabku lagi
“ Tunggu.. kamu gak suka sama... Alan?” tanya Luna kaget
“ Enggak, aku suka sama Nalan..” jawabku datar
‘ Gawat.. apa karena Aina terlalu deket sama Nalan sampai - sampai dia gak suka sama Alan? harus bilang gimana nih...’- Luna
“ Oh.. yodah, aku langsung ke kelas dulu yah.. PR nya belum aku kerjain sih...” kata Luna kemudian berlari meninggalkan ku
“ aneh” gumamku agak kesal karena ditinggal sendirian
Dikelas
Nalan tidak ada di kelas sama sekali. Memang ada tasnya.. tapi orangnya tidak ada.
Aku jadi merasa makin aneh dengannya hari ini.
“ Aina!” teriak seorang pria sambil berlari ke arahku
“ Alan? ngapain?” tanyaku bingung
“ nyapa lah.. terus ngapain lagi.. kan katamu kalau ketemu disekolah harus nyapa...” jawabnya santai
“ iya.. juga sih..”
“ mau kemana?” tanyaku basa basi
“ Hari ini guru rapat sampai jam 9. Mau ke perpus gak?” jawab Alan senang
“ yah.. oke.. aku mau taruh tas dulu..”
‘ Ini anak kesambet apa...?’- Aina
Aku langsung masuk menaruh tas kemudian membukanya karena beberapa hari yang lalu aku meminjam buku di perpus dan belum sempat aku kembalikan.
Aku menghampiri Alan yang masih berdiri di depan kelas dan langsung berjalan menuju perpus bersamanya.
Jarak perpus dari kelasku tidak terlalu jauh sih.. ada di sebelah Ruang Guru dekat Kelas 12 IPA3.
“ Biasanya.. kamu ke perpus hari apa aja?” tanya Alan basa - basi
“ Hari.. Senin, Rabu, Jumat. Terus.. pulang sekolah kadang ke perpus sebentar. Waktu istirahat.. atau.. kalau ada festival di sekolah. Aku lebih milih ke perpus..” jawabku santai
“ ada 3, Luna.., Axel.. sama Nalan. Kembaran mu” jawabku sambil melirik ke arahnya
“ kamu.. tau kalau aku kembaran sama Nalan?” tanyanya bingung
“ Iya, awalnya aku memang gak percaya rumor kalau kamu kembaran Nalan. Tapi.. makin di perhatiin kamu makin mirip sama Nalan. Cuma bedanya... gaya rambut, cara berjalan, cara berbicara, sifat dan lain lain” terangku dengan jelas
“ makanya, kalian bisa dibilang.. gak ada mirip - miripnya sama sekali... apalagi bagi cewek. Pastinya bakal milih kamu yang 5 kali kerasa lebih ganteng dari Nalan” lanjutku dengan mata tertuju di depan
“ Gak tau itu pujian atau bukan... tapi yah.. emang.. hubunganku sama Nalan enggak semulus itu sih..” jawab Alan canggung
“ hubungan apa? aku bisa mikir aneh - aneh kalau kamu cuma bilang setengah - setengah...” kataku sambil tersenyum mengejek
“ Hubungan kakak adik! bukan... hubungan yang lain...” jawabnya dengan nada agak naik
“ owalah.. rada kecewa sih..” kataku dengan ekspresi rada kecewa
“ Walaupun aku lahir lebih dulu dari Nalan.. tapi Nalan yang slalu ngalah.. daripada aku...”
“ Ngalah? ngalah dari...banyak hal gitu?” tanyaku agak bingung
“ Aku dan Nalan sering berganti peran..” jawabnya sambil menunduk
“ sudahlah.. daripada cerita tentang masa lalumu yang kelam, mending baca buku Fantasy aja.. kalau gak Action.. lebih seru..” ledekku sambil masuk ke perpus
“ kamu suka genre apa? biar aku rekomendasi.. aku udah baca banyak buku disini...”
“ Intinya jangan Genre horror.. atau Misteri”
Setelah itu.. hampir 2 jam kami berdua membaca buku bersama..
Daripada Nalan, Alan sepertinya lebih suka membaca buku daripada bermain game yang tidak jelas seperti Nalan.
Aku memang masih tidak paham dengan perkatannya yang mengatakan kalau mereka berdua sering berganti peran..atau yang Nalan lebih suka mengalah daripada Alan walau dia adik.
Menurutku pribadi, Alan punya sifat yang tenang saat ada masalah.., tapi terkadang dia lebih suka mengatakan kata- kata pedas untuk memprovokasi seseorang. Sedangkan Nalan agak bar - bar saat ada orang yang melawannya atau membuatnya tersinggung akan sesuatu. Dan kalau dilihat lebih dekat.. Alan sepertinya lebih ganteng daripada Nalan.
Dari semua tingkah lakunya.. dari berjalan.. maupun membaca atau membalikkan buku.. dia lebih rapi, tenang.. bahkan senyumannya juga terlihat lebih dewasa dari orang seumuran.
“ Kenapa melihatku terus?” tanyanya sambil melepas kacamata yang ia pakai
“ ah tidak.. aku cuma.. sedikit terpana saja...” jawabku gugup
“ kamu ini... anaknya blak - blakan yah?”
“ tergantung situasi. Ada kalanya aku sedikit berbohong, ada juga.. waktu aku harus menjawab dengan jujur..” jawabku sambil menutup buku yang aku baca
“ benar juga.. aku juga terkadang seperti itu. Aku tidak mau orang lain bingung dengan perkataan yang aku katakan...”
“ tadi kau berhasil membuatku berpikir aneh...” ejekku sambil tersenyum kecil
“ yah.. itu tidak disengaja...”
“ Apa kau punya pacar? kalau kau punya.. pasti dia akan sangat beruntung...” tanyaku sambil menaruh kepala diatas buku
“ beruntung... kenapa?”
“ Dilihat dari sisi manapun, kau terlihat sangat dewasa. Dari cara berjalan, melihat buku, membalikkan buku, menyapa seseroang, tersenyum, berbicara... seakan kalau kau sudah menjadi seorang eksekutif di sebuah perusahaan dan semua perilaku mu dinilai dan dituntut menjadi sempurna...” terangku dengan nada sedih
“ Lalu.. apa kau suka?”
“ Walaupun kau memang tipe ku.. aku sudah terlanjur menyukai seseorang...”