And You Are Mine

And You Are Mine
Episode 1



Ku kira hari itu adalah hari yang indah untukku. Aku memainkan alat musik seperti biasa bersama dengan anak - anak kecil sebagai pengiring musikku. Dan hari itu juga... aku bertemu dengannya.


Sepasang mata berpapasan di taman. Seperti kenal tapi tidak kenal. Mata itu menatapku heran dan kagum sembari mendengarkan alunan musik yang ku mainkan.


Setelah selesai mendengarkannya, anak - anak yang mengiringiku langsung menghampiri nya dan memeluk kakinya yang panjang sambil berteriak " Wahh, Kak Alan mau keluar rumah!!!". Dia hanya tersenyum dan mengelus-elus rambut anak - anak tadi.


Aku hendak menghampirinya tetapi dia sudah duluan menghampiriku sambil bertanya


“ Permainan musikmu sangat bagus dan indah. Apa kau ikut ekskul musik...?”


“ Terimakasih..., tapi aku sama sekali tidak ikut ekskul nya. Orang tuaku tidak mengizinkan aku masuk ke dunia musik”


Aku menjawabnya spontan sambil menjelaskan. Tidak ku kira kalau aku bisa berbicara lancar dengan seorang pria yang tidak ku kenal


Tubuhnya tinggi sekitar 174 cm, atau lebih...? dia memakai kaos biasa berwarna putih dan celana pendek di bawah lutut. Pergelangan tangan kanan nya memakai jam yang indah. Rambutnya agak kecoklatan dan bergoyang terkena sepoinya angin di siang menjelang sore hari. Matanya tertutup dan andeng - andeng kecil di sudut mata kiri bawah dan tersenyum ramah.


“Apa kau sedang menilaiku?.. jadi bagaimana menurutmu?,” dia bertanya sambil membuka matanya dan langsung menatap mataku


“Yah.. maaf, ini kebiasaanku. Aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya. Jadi.. yah...”


Aku terlalu gugup bahkan hanya untuk mencari alasan karena menatapnya terus menerus


“Baiklah. Tidak apa, hal itu wajar. Perkenalkan namaku Alan Zacky, kau bisa memanggilku Alan” sapa nya sambi mengulurkan tangan kanan dan sedikit tersenyum


“Namaku... Aina Sifa. Panggil saja Aina”.


Aku gugup karena jarang berkomunikasi dengan laki - laki. Kemudian aku menerima uluran tangan Alan.


’Diajak kenalan sama cowok emang beda ya rasanya...? gak jarang sih temen - temenku nyuruh kenalan sama cowok.


Yah... aku juga punya sih 1 temen cowok, tpi... argh. Intinya rasanya beda!‘ -Aina


“Nama yang indah”


“t- terimakasih...”


“Jadi... apa kau bisa menceritakan sedikit tentang alat musik itu...?,” tanya Alan memperhatikan pianika yang aku bawa daritadi


“ Ah.. anu... ini..., hanya alat musik biasa. Biasanya waktu SD suruh dibawa buat mengiringi lagu nasional atau rakyat..? aku.. aku tidak terlalu pandai bermain alat musik karen larangan orang tua. Jadi... aku tidak bisa sehebat temanku yang ada disekolah...”


Aku menjawabnya terlalu cepat mungkin dia tidak tau apa yang sedang aku katakan.


“Benarkah....? padahal ku kira kau sudah sangat mahir memainkannya...”


“k- kalau bisa sih... aku lebih nemilih bermain piano yang hampir mirip dengan pianika. Tetapi... ya.. begitulah..”


Aku menunduk karena mengungkit masalah alat musik yang ingin aku mainkan


“Kalau boleh.. aku ingin bertanya apa cita-cita mu..?”


“ Aku... aku sama sekali tidak punya cita-cita.. aku terlalu bingung untuk memilih...”


“ Ah... padahal akan sangat bagus kalau kau mau menceritakannya padaku... Tapi yah... sudahlah”


Dia terlihat agak kecewa dengan jawaban yang aku berikan.


“ Aku ingin menjadi pianis. Tapi... sepertinya sudah terlambat. Jadi... aku lebih memilih untuk menjadi yang lainnya saja..”


“contohnya...?”


“ yah.. seperti.... itu... argh... apa namanya...? Ah iya! Koki! Mungkin aku bisa mencobanya!,” sekali lagi aku menjawabnya dengan aneh. Mungkin dia tidak paham lagi. Tapi sepertinya dia paham.


“ Koki ya... kalau aku sih mau jadi tentara. Apa menurutmu aku cocok..???” dia bertanya sambil tersenyum lembut


“ Kalau kau ingin menjadi tentara, sebaiknya kurangi senyum - senyum ku itu dan bersikaplah lebih dewasa dikit. Diihat dari segi manapun, kau itu orang yang berhati lembut dan tidak mungkin bisa serius dalam waktu yang lama,” aku berkomentar sambil berjalan mendahului nya


“ aku mau pulang dulu, sudah jam 6 sore. Jika orang tuaku tau kalau aku tidak ada dirumah, aku bisa kena ceramahan nanti!”


Aku ingin langsung pergi dari hadapannya


“ Ah.. terimakasih atas pendapat mu. Walau agak nglekit sih”


‘Kok langsung berubah sifatnya?’-Alan


“Bagaimana kalau kita pulang bareng..? omong - omong jalan rumah kita se arah loh...”


Dia langsung mengikutiku sambil tersenyum


‘Lagi - lagi tersenyum’ - Aina


“ Yah... sudahlah. Kau sekolah dimana..?”


“Eh? apa kau sama sekali tidak mengenalku..? aku ini sekolah di tempat yang sama denganmu loh!,” dia menjawabnya dengan nada agak kaget dan tidak percaya


“ Maaf, aku tidak terlalu memperhatikan sekitar”


“ Padahal aku slalu melihatmu... sepertinya hanya aku yang melihatmu dan kau tidak...,” kali ini dia menjawabnya dengan nada agak murung


“Maaf saja.. aku ini anaknya jarang keluar kelas. Bagaimana kalau saat kau bertemu denganku, kau menyapaku...? mungkin aku bisa mengingat wajahmu nantinya...!”


“ baiklah. Tunggu, apa kau tidak bisa mengingat wajahku hari ini...? bagaimana kalau kau lupa besok!,” dia berbicara dengan nada panik


“ mungkin saja. Dah.. aku sudah sampai rumah. Hati - hati jangan sampai tersesat!”


Aku langsung masuk kerumah dan melambaikan punggung tangan kananku.


Aku sama sekali tidak menoleh kearahnya, karena aku tidak mau ada percakapan lagi dengannya.


Dia tersenyum kecil dan melambaikan tangannya, tetapi aku tidak melihatnya. Dan dia langsung pergi setelah melihatku masuk kedalam rumah.


Dia berdiri sejenak kemudian tersenyum kecil dan pergi setelahnya


--


Aku tidak akan mengira kalau ini adalah awal dari semuanya. Perasaan campur aduk yang tidak pernah aku rasakan. Mulai saat ini, perasaan itu perlahan - lahan muncul dengan sendirinya.


Bertemu dengan seorang 'Good Boy' yang langka dan jarang memiliki kepribadian yang seperti itu. Walau awalnya aku merasa aneh dan memiliki kesan yang agak buruk dengannya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai memahaminya. Kalau..., dia menjadi 'Good Boy’ hanya untuk menepati janjinya.