
Malam itu Nalan menghibur ku seperti biasa. Sifatnya memang seperti itu, kadang ngeselin kadang ya gitu deh. Gak jelas. Tapi yah... cuma dia sih yang bisa jadi tempat curhatku. Karena terpaksa enggak punya siapapun dirumah.
...----------------...
Malam terus berlanjut sampai kami sadar kalau jam sudah menunjukkan angka 11 malam. Aku meminta Nalan untuk mengantarkan ku ke rumah seperti biasa.
Bagiku, Nalan sudah seperti 'saudara' maupun 'keluarga' ku sendiri. Memang, Nalan pernah menembakku waktu kita masih kelas 2 SMP. Tapi aku menolaknya karena saat itu aku masih belum 'dekat' dengannya. Berbeda dengan sekarang, aku sudah sangat dekat.
Aku sudah mengenal Nalan dari TK. Ibu yang mengenalkanku padanya. Nalan dari dulu suka bermain dengan ku. Tapi kemudian aku menjauh darinya karena awalnya aku tidak terlalu nyaman dengan sifatnya. Dan sekarang, kami malah mendekat lagi setelah aku menolak Nalan. Saat bersamanya... terkadang aku merasa bersalah karena aku pernah menolaknya.
“Kau mau memandangiku sampai kapan...? kita sudah sampai di depan rumahmu” kata Nalan sambil mengelus-elus rambutku
“ eh..? ah... itu... maaf, aku melamun lagi..” jawabku sambil memalingkan wajah
“ masih mikirin 'rasa bersalah' mu karena menolakku? kan aku udah bilang... enggak usah dipikirin lagi” sambung Nalan menghela nafas berat
“ kata siapa aku mikirin masalah kaya gitu hah? toh juga itu dah berlalu, ngapain masih aku pikirin. Kaya enggak ada masalah lain yang harus di kerjain..” jawabku mengelak perkataan Nalan
“ Mungkin aja...”
“ kamu kan... Baperan...” kata Nalan sambil memotong kalimat
“ Terserah. Dah, makasih. Mood ku jelek lagi”
Kemudian aku langsung masuk ke rumah dan langsung mengunci pintu.
Nalan masih berdiri di depan rumahku sambil memandangi pintu kayu yang di depannya. Entah apa yang dia pikirkan, dia hanya tersenyum kecil dan langsung pergi menjauh dari rumahku.
'Anak ini.... kenapa senyam senyum sendiri sih?! di depan rumahku lagi. Buat orang salah paham'- Aina
“Mood ku ini... masih bisa disebut berantakan enggak sih? w- wajahku malah merah lagi gara gara ngintip Nalan dari jendela...” kataku mengangkat wajah yang merah karena apa ya? mungkin... terpesona dengan senyuman Nalan? Hah! enggakkk....
Sedangkan itu di rumah Nalan
Nalan berjalan masuk ke dalam rumah dengan santai. Bunda dan Ayahnya sedang menunggu di ruang tamu karena khawatir kalau Nalan pulang malam dari jam ini.
“Habis kemana aja? kok lama banget... katanya cuma mau sebentar..” tanya Bunda Rena ( Bundanya Nalan ) khawatir
“ Tau lah... Nana kena PHP lagi sama Ibu Bapaknya..., jadi cuman mau ngehibur dia sedikit. Udah 2 bulan enggak ketemu orang tuanya. Gimana coba, Nana udah kaya orang enggak keurus” jawab Nalan sambil duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya
“ bener juga sih... dia udah lama enggak ketemu sama orang tuanya. Tapi kok Bu Eva sama Pak Damar tega banget ya.. ninggalin Nana sendirian dirumah. Kerjanya juga di luar kota.. apa sama sekali enggak mikirin perasaan Nana disini.. atau gimana...??” tanya Bunda Rena khawatir dengan Aina
“ Kita enggak tau isi pikiran mereka berdua. Apa ada konflik sama Aina atau gimana” jawab Ayah Evan ( Ayah Nalan ) singkat
“ Tapi ya yah... walau orang tua marah sama anaknya. Enggak mungkin kan mereka sampai tega ninggalin anaknya dirumah sendirian selama 2 bulan ini. Dan lagi.., Nana 1 bulan terakhir sama sekali enggak bawa bekal maupun beli jajan disekolah. Kayaknya uangnya udah mau habis? Walaupun Nana memang jarang beli jajan disekolah, tapi biasanya dia bakal bawa bekal ke sekolah” terang Nalan dengan nada panik dan bingung
“ Loh.. Bunda kira mereka juga bakal ngirimin uang ke Nana walau enggak dirumah...” kata Bunda Rena kaget
“ Nalan juga agak kurang paham sih... tapi kayaknya gitu deh” kata Nalan menghela nafas berat lagi
“ Besok kamu tanya dulu coba ke Nana. Kalau misal dia emang enggak punya uang,... nih Ayah kasih segini. Moga aja sih cukup buat Nana” jawab Ayah Evan sambil mengambil beberapa lembar uang merah dari sakunya
“ Nana itu pinter ngatur keuangan kok. Serahin aja ini ke aku” kata Nalan bangga kemudian pergi masuk ke kamarnya
“ Besok malam kita mampir ke rumah Nana aja gimana..? sekalian silaturahmi kesana. Kita udah lama enggak kerumahnya kan?” saran Ayah Evan menenangkan istrinya
“ .. oke”
Esok harinya
“ Intinya.... ini... gara gara kamu... Nalan.... AKU TERLAMBAT!!” teriakku sambil berlari ke arah Nalan yang masih nunggu aku di depan rumah
“ Aku temenin kok. Udah kunci dulu pintunya baru ngomel - ngomel sambil jalan” jawab Nalan santai
“ Cih, lain kali kalau ngajak jalan. Sambil lihat jam kek, biar enggak lupa waktu sampai harus telat masuk sekolahh. Mana hari ini Matematika jam pertama” keluhku sambil mengunci pintu dan langsung memasukkan kunci ke dalam tas
“ Oya, udah sarapan na?” tanya Nalan kepo
“ Hah? mana mungkin aku sempet sarapan??? lagian udah enggak ada lauk sama sayuran di kulkas. Cuma ada teh sama 1 susu beruang” karena kesal aku tidak sengaja mengatakan hal pribadi yang seharusnya tidak aku ungkit dengan Nalan
“ Oh... gitu ya? nanti waktu istirahat mau makan bareng? kayaknya aku enggak sengaja mbawa bekal Ayah” kata Nalan sambil membuka tasnya
‘Sengaja sih mbuat 2 bekal, sekalian buat Nana’- Nalan
“ Kan itu punya Ayahmu, kenapa kasih ke aku? enggak sopan tau.!!” elakku merasa enggak enak
“ Gak papa. Nanti makan bareng aja ya? udah berapa hari enggak makan siang kamu. Udah kaya anak kost aja” jawab Nalan sambil mengelus - elus rambutku
“ Terserah. Ayo ih, udah jam setengah delapan!!!! ya gilaaaa malah ke bawa suasana gara - gara makan doang!!” kataku panik sambil menarik tangan Nalan dengan erat
Di Depan Gerbang Sekolah
“P- Pak... biarin... kita berdua... masuk dong...” kataku lagi dengan nafas terputus putus
“ Iya.. pak... ini... pertama... kalinya.. kita... terlambat... kasih diskon kek ... biar bisa... masuk” sambung Nalan sambil memegang gerbang
“ emang sih, enggak pernah lihat muka kalian berdua terlambat. Tapi masalah nya... ini udah hampir jam istirahat pertama dan kalian berdua baru masuk sekarang!? ngapain aja sih semalem!?” kata Pak Sarip protes ( penjaga sekolah )
“ Pak... ayolah gapapa ya?” tanyaku memelas
“ Kalian berdua... semalem habis ngapain hayo? jawab jujur dulu baru bisa saya kasih masuk” tanya Pak Sarip curiga
“ PAKKK, SEMALEM SAYA CUMA JALAN JALAN NYARI ANGIN KARENA TUGAS GURU MBUAT SAYA PUSING, TAPI KARENA KEBLABLASAN NYARI ANGIN SAYA SAMPAI LUPA WAKTUUUU” teriak ku karena sudah tidak sabar ingin masuk ke kelas
‘Lah... lah kok enggak bawa namaku!?’- Nalan
“ Oke, kalau gitu Aina boleh masuk duluan. Sekarang, Nalan. Jelasin kenapa kamu bisa terlambat” kata Pak Sarip dengan tatapan tajam
“Alasan saya hampir sama kaya Aina loh pak, coba tanya ke Bunda saya. Saya ini anak baik hati dan jujur serta tidak pernah berbohong. Toh juga habis ini bakal langsung dikasih hukuman sama Bu Rohma karena terlambat. Boleh masuk ya pak???” terang Nalan tidak sabar karena aku sudah masuk duluan
“ Ya sudahlah. Saya memang tau kalau kamu memang tau kalau kamu dari dulu emang udah nempel banget sama Aina. Udah sana. Tapi beneran kan kalian berdua... enggak ngapa-ngapain???” tanya Pak Sarip curiga
“ SAMA SEKALI ENGGAK!”