
“ mau langsung tidur? ya udah aku mau siapin kasur dulu. Kunci kamar tamu ada di tas yang dibawa Ibu. Gak tau maksudnya apa kenapa harus dibawa dia padahal aku yang jaga rumah disini” kataku langsung beranjak pergi masuk ke kamar
‘ Apa Aina curiga sesuatu...? apa dia bingung karena selama ini aku sama sekali enggak pernah bahas tentang Alan?’- Nalan
Selang beberapa menit kemudian aku kembali ke ruang TV untuk mengajak Nalan tidur karena kasur kecilnya sudah aku siapkan.
Tapi malahan dia sudah tertidur duluan di depan TV yang menyala.
“ kebiasaan kalau nginep disini” gumamku sambil senyum kecil
‘ Nalan kalau tidur bisa seimut ini.. hehe... pingin aku cubit pipinya.. dia bakal bangun gak ya..?’- Aina
Aku mencoba menyentuh pipinya yang halus bak kulit bayi. Karena terlalu senang menyentuh pipinya, aku sampai tidak sadar kalau Nalan malah terbangun dan terus menatapku yang menyentuh pipinya sambil menutup mata.
Saat aku membuka mata, aku melihat mata ngantuk Nalan yang masih menatapku.
“ huwa...”
“ kamu udah bangun tah.. maap hehe.. ayo kasurnya udah aku siapin...” kataku ingin beranjak pergi tapi tangan ditarik Nalan
“ Dingin..” katanya lirih
‘ oya, Nalan kan punya alergi dingin...’- Aina
“ Yaudah ayo masuk dulu ke kamar. Aku punya selimut tebel.” ajakku lagi kemudian Nalan menuruti
Karena Nalan punya alergi dingin, aku jadi menyurunya tidur di kasurku yang single bed sedangkan aku tidur di bawahnya.
Nalan tidak terlaku pintar disekolah, tapi dia rajin mengerjakan tugas. Dia tipe anak yang tidak bisa banyak berfikir, kalau tidak... dia bakal... sakit dan rentan.
Dan sekarang..., Nalan. Demam. Dia punya banyak pikiran hari ini. Alasan kenapa dia memintaku agar setuju menginap, karena dia tau. Kalau dia bakal sakit.
Aku sudah menduga ini dari kemarin malam.
Dia tipe anak yang tidak tahan dengan udara dingin karena alerginya, tapi kemarin malam dia mengajakku jalan-jalan, dia punya maksud lain mengajakku jalan- jalan malam. Dan esoknya dia berlari karena mengejar waktu masuk sekolah, sampainya di sekolah dia malah berantem. Sorenya kita berdua disuruh berfikir + Nalan mendapat hukuman lari keliling lapangan 10 kali. Malamnya dia mengantarku belanja dan membawa semua barang belanjaan.
Hukuman dari Bu Rohma, Nalan sama sekali tidak paham. Apa itu yang membuatnya sakit?. Satu hal yang membuatku bingung
‘ Kapan Nalan selemah ini..?’- Aina
Jam sepuluh malam, aku masih begadang mengerjakan PR mtk ku dan Nalan. Sedangkan Nala daritadi membolak-balik jan tubuhnya dan kadang memanggil namaku.
Pukul setengah sebelas. Aku baru selesai mengerjakan PR dan hendak tidur di kasur bawah. Tapi Nalan tiba-tiba menarikku dan aku malah terjatuh ke badannya.
Badannya sangat panas, dan wajahnya penuh dengan keringat juga... air mata. Dia menangis, dia sedang mimpi buruk kali ini.
Aku mencoba bangun dari tubuhnya tetapi dia berbicara dengan nada serak “ jangan pergi... jangan pergi...”
“ gak, aku gak pergi. Cuma mau pindah, aku gak bisa nafas” jawabku sambil mengelus rambut Nalan pelan - pelan.
Nalan melepaskan tanganku dan lanjut tidur. Walau air matanya masih saja mengalir deras. Aku langsung mengambil tisu dan mengelap keringat maupun air mata Nalan.
Bug!!
Dia malah memelukku dan menyuruhku tidur di sebelahnya.
Sebenarnya tidak masalah aku tidur disebelahnya.., tapi.. ini kasur single bed! dan tubuh Nalan tuh.. ... ... Dada Nalan tub lapang banget! dengan ukuran singke bed ini.. mana mungkin aku bisa dapet tempat tidur!
Syut..
Brukkk
Nalan menarikku jatuh ke kasur dan langsung beranggapan kalau aku... guling. Nalan kalau tidur pas lagi sakit, imajinasinya bagus banget.
“ Daripada nangis lagi. Kek bayi...” gumam ku kemudian tertidur diatas telapak tangan Nalan sebagai bantal
‘ Alan itu... sebenarnya.. kenapa?’- Aina
Pukul 1 pagi, waktu aku masih tidur lelap. Nalan terbangun seperti mencari sesuatu.
“ Nana.. kamu dimana...” gumam Nalan lirih
“ eh? di sebelahku.... ”
“ oh.. Nana tidur di sebelah ku.. huft...”
“ jangan pergi tetep bareng aja sama aku... jangan sama Alan” kata Nalan kemudian memelukku dengan sangat erat
Pukul 7 pagi, demam Nalan masih belum turun. Sedangkan aku....
Nalan terus memelukku sampai pagi! bahkan sekarang akupun masih menjadi sandaran pelukan Nalan!.
“ Nalan.. aku laperr. Aku buatin bubur buat kamu dulu...” kataku mencoba lepas dari Nalan
“ nanti kamu hilang kalau aku lepas...” jawabnya dengan kondisi mata tertutup rapat
“ kata siapa sih?! udah ihh... lepasin enggak!” bentakku mulai kesal
“ gak!”
“ Mau aku kapain biar aku bisa pergi??” tanyaku memikirkan hal dengan tenang
“ peluk aku balik dulu.. hachiu.. habis itu baru boleh pergi...” jawabnya sambil menahan bersin
‘ kesempatan dalam kesempitan?!’- Aina
Aku menurutinya dan langsung memeluknya. Tak lama kemudian dia langsung tertidur lelap lagi.
‘ dah kan gitu doang? aman... dahlah, masih ngantuk sih.. tapi.. kasurku dikuasai bukan denganku’- Aina