And You Are Mine

And You Are Mine
Episode 4



“ Ya sudahlah. Saya memang tau kalau kamu memang tau kalau kamu dari dulu emang udah nempel banget sama Aina. Udah sana. Tapi beneran kan kalian berdua... enggak ngapa-ngapain???” tanya Pak Sarip curiga


“ SAMA SEKALI ENGGAK!”


...----------------...


Kami berdua berlari sekencang mungkin menuju kelas setelah masuk ke BK untuk absen 'keterlambatan' hari ini. Setelah berada di depan pintu, Nalan mengetuk pintunya dengan pelan dan.... kami berdua disambut dengan tatapan heran oleh teman kelas. Sedangkang Bu Rohma, guru matematika. Dia terlihat biasa saja walau sepertinya dibalik kaca matanya itu dia merasa agak jengkel tapi juga heran kepada kami berdua.


“A- anu permisi.... bu....” kata Nalan mulai melangkahkan kakinya masuk ke kelas diikuti dengan langkah kakiku


“ kenapa bisa terlambat?” tanya Bu Rohma bingung


“ I- ini bu, surat dari BK” elak Nalan sambil menyodorkan secarik kertas yang berisikan nama serta pernyataan keterlambatan kami berdua


Bu Rohma menerima kertas yang diberikan Nalan kemudian membacanya sambil menyipitkan kedua matanya dan menjauhkan sedikit wajahnya dari kertas.


Setelah selesai membaca, Bu Rohma langsung menyingkirkan kertas dari hadapannya dan menatap wajah kami berdua secara bergantian.


Bu Rohma menghela nafas berat sambil memegang pelipisnya.


“ Saya kira kalian berdua anak rajin. Tapi ternyata anak rajin juga bisa datang terlambat” kata Bu Rohma sambil menggelengkan kepalanya


“ M- maaf bu...” kataku merasa bersalah


“ Nanti jangan pulang terlebih dahulu. Kalian berdua temui saya di kantor. Hukumannya nanti setelah pulang sekolah” sambung Bu Rohma sambil membalikkan badannya dan berjalan menuju meja untuk memberesi buku - bukunya yang ia bawa tadi


Tengg Tengggg


“ Baik, karena jam saya sudah cukup sampai disini. Silahkan beristirahat. Terimakasih” kata Bu Rohma mengakhiri pelajaran dan lanjut pergi meninggalkan ruang kelas


Antara lega dan merasa bersalah, aku dan Nalan hanya berdiri mematung di depan kelas berdua. Kemudian Luna dan Axel menghampiri kami berdua dan langsung menanyakan apa yang terjadi kenapa kami berdua bisa datang terlambat.


“ Huwaaa Aina... aku kira kamu bakal bolos hari ini...!!!” kata Luna sambil berlari ke arahku


“ m- mana mungkin aku bolos kan? toh juga hari ini hari sabtu, besok udah libur kan?” jawabku dengan nada agak canggung


Sedangkan Nalan sedang di interogasi secara blak-blakan dengan Axel. Nalan hanya membiarkan Axel mengoceh di depannya dan langsung pergi ke tempat duduknya. Aku juga menyusul Nalan dan duduk di sebelahnya.


Nalan langsung mengambil bekal makan berwarna hijau muda dan menggeserkannya ke meja ku.


“ Nih, udah ku bilang kan, aku bawa bekal 2. Satu buat kamu aja..”


Aku hanya terdiam, bingung ingin menerimanya atau tidak. Tapi karena kondisi perut memang sudah sangat lapar akhirnya aku menerima bekal yang dibawa Nalan walau agak ngerasa gak enak sih.


“M- makasih”


Aku hanya diam memandangi kotak bekalnya, bingung apakah mau membukanya atau tidak.


‘Setau ku sih.. Nalan slalu buat bekal sendiri. Ini... yang buat Nalan bukan ya?’- Aina


Nalan yang melihatku kebingungan langsung menanyaiku kenapa tidak membuka bekal yang ia bawakan. “ Kenapa?” tanyanya sambil menatap wajahku dengan curiga


“ A- anu... ini yang buat.. kamu kan?” tanyaku gugup


“ Iyalah, ya masa aku masih dibuatin sama Bunda. Gini gini juga aku pinter masak loh!” bangga Nalan memuji dirinya sendiri


“ O- okelah. Kamu... juga ikut makan tapi...” bujukku memohon


‘Tahan.... tahan... Inget pernah di tolak sama dia...


Tapi.... an**r malah make ekspresi imut’- Nalan


“ Iya deh iyaaa”


Aku perlahan membuka tutup bekalnya dan... melihat kalau makannya masih tersusun rapi walau daritadi sudah berlari kesana kemari bahkan hampir jatuh karena terburu - buru.


“ Kayaknya enak...” gumamku terdengar oleh Nalan


“ Heh, buatan ku itu pasti enak ya! situ coba...”


Nalan membuat telur gulung dan udang goreng yang diberi tepung, juga ada 2 potongan sosis yang dibuat gurita dengan porsi nasi yang biasa aku makan.


Tanpa sadar mataku berbinar-binar saat melihat isi bekal yang dibawa Nalan. Nalan hanya tersenyum melirikku yang sibuk memilih lauk mana yang akan aku makan.


‘Semalem aku sengaja maraton nonton anime yang Nana suka, menunya juga kaya gini dan udah ku buat sepersis mungkin. Aku memang paling tau selera Nana’- Nalan bangga dengan dirinya sendiri


‘Yah... padahal aku enggak suka anime sih, tapi demi Nana... Huhu.. sama sekali enggak paham omong apa’- Nalan tiba tiba teringat kalau dia tidak paham dengan obrolan di anime dan cuma fokus ke adegan istirahat sekolah


Nalan kemudian ikut makan bersama denganku. Luna dan Axel yang dari tadi melihat tingkah kami berdua masih ke heranan dan bingung.


Setelah selesai memakan bekal Nalan, aku berniat ingin langsung mencucinya di westafel sekolah tapi dicegah Nalan.


“ Udah gapapa, nanti biar aku cuci dirumah aja sekalian”


“ Ya enggak dong! mana mungkin aku yang udah dapet gratisan gini enggak membalas budi?!” protesku dengan nada agak naik


“ gini, nanti orang tuaku mau main ke rumahmu. Dan nyuruh aku masak makan malam dirumah mu nanti”


‘Mampus, dirumah enggak ada apa apa lagi’- Aina


“ Nanti sehabis pulang sekolah kita belanja sayuran dulu aja gimana? di Tario?” sambung Nalan dengan senyuman lebarnya


*Tario \= seperti Alf*mart tapi lebih lengkap


“ Aku lagi enggak punya uang. Lagian, kok orang taumu tumben mau ke rumahku?” jawabku sambil menurunkan nada


“ Aku juga enggak tau. Tenang, nanti aku yang bakal bayarin kok. Jadi.. mana sini wadah bekalnya” kata Nalan sambil mengambil wadahnya dari tanganku


“ Nalan, aku ngerasa kalau aku udah banyak ngerepotin kamu loh”


“ ha?”


“ Aku ngerasa kalau aku dah buanyak banget ngerepotin kamu. Kamu kira aku enggak sadar ya? kamu sengaja bawa 2 bekal ke sekolah karena tau akhir - akhir ini aku jarang bawa bekal. Semalem kamu ngajak aku jalan - jalan biar aku nge refresh in otak dari semua masalah yang aku pikirin”


“ Aku ngerasa makin aku dewasa aku malah makin ngerepotin kamu...” kataku sambil menatap wajah Nalan yang agak kaget


“ Nana... aku sama sekali enggak ngerasa direpotin kok. Malah seneng aku bisa bantu kamu. Kita keluarga, enggak usah sungkan” jawab Nalan sambil menenangkan aku yang hampir menangis


‘Bentar - bentar..., kayaknya ada kata yang salah. ' Kita Keluarga' spontan diucapin. Moga enggak sadar’- Nalan


Wajah Nalan terasa panas dan berubah menjadi warna merah. Nalan langsung memalingkan wajahnya dan bergegas pergi sambil menarik tangan Alex yang dari tadi masih mengobrol dengan teman sebangkunya.


“ Woy woy, mau ngapain lu??” tanya Alex bingung


“ anter gue ke kantin sekarang!” jawab Nalan tanpa memalingkan wajahnya ke belakang


“ bilang kek dari tadi.. buat orang kaget aja”


Luna langsung duduk di sebelahku dengan kegirangan karena akhirnya dia bisa duduk setelah penantian yang lama menunggu Nalan pergi dari bangkunya.


“ Huwaahhh... akhirnya Nalan pergi juga. Eh..? Nana?? ngapain? kok bengong???” kata Luna agak panik


“ H- Hah? bukan apa-apa kok. Mungkin karena semalem habis begadang kali ya?” jawabku sambil menyandarkan kepalaku di bahu Luna


“ Ah.. Nana ini... ada ada aja..”


‘Ibuk sama Bapak... kenapa enggak pulang - pulang? Padahal aku kangen banget sama mereka.. kedua nomer mereka di chat enggak bales - bales. Terakhir posting sosmed juga baru beberapa hari yang lalu tapi kalau aku komen di sosmed sama sekali enggak ada respon. Kenapa ya? mereka enggak bakal ngelupain aku kan?’- Aina


‘Aahhh mikirin apa sih aku. Jangan overthingking. Pikirin nanti mau buat makan malam sama apa. Mending mbuat makanan favorit Bunda sama Ayah aja deh’- Aina


* Aina dipaksa manggil mereka gitu


‘Sekarang masalahnya... masih belum tanya sama Nalan. Dia itu Alan yang kemarin bukan’- Aina


“ Nanaaaa dari tadi kamu dengerin aku cerita enggak sih?!” teriak Luna dengan wajah yang agak kesal tapi imut


“ dengerin kok. Ayo lanjutin” jawabku bohong


“ oke yaaa aku lanjutin.....”