
Pukul 8 lebih 5 menit kedua orang tua Nalan datang ke rumahku. Aku dan Nalan menyambutnya dengan senang.
“ Ainaaa udah lama banget enggak ketemu. Sekarang udah tambah mekar aja” sapa Bunda sambil memelukku dengan erat
“ Bunda juga tambah cantik aja...” sapaku membalas pelukan Bunda Rena
“ Aina inii mulutnya emang manis yaa” puji Bunda Rena melepas pelukannya
“ Ayah, Bunda. Duduk dulu gih, enggak capek berdiri terus?” tanya Nalan tidak sabar
“ Ini anak, dari tadi Bunda cariin ternyata udah langsung nyosor kesini aja yaa” jawab Bunda Rena langsung menjewer kuping Nalan
“ Loh, tadi Nalan bilang ke saya kalau Nalan disuruh bantu saya masak - masak disini” kataku bingung
“ Ini anak, makin lama modusnya makin besar aja” ledek Ayah Evan sambil duduk di ruang tamu
“ Saya buatin teh anget dulu ya... Nalan temenin Bunda sama Ayah mu dulu situ..”
Nalan hanya diam dan mengangguk kemudian ikut duduk berhadapan dengan kedua orangtuanya.
“ Nalan, inget. Aina itu... punya Alan. Jangan diambil” bisik Bundanya dengan nada lirih
“Bunda, kenapa sih bunda ngotot banget kalau Nana punya Alan. Kenapa enggak punyaku? aku yang udah nemenin Nana dari kecil sampai sekarang” protes Nalan tidak terima
“ Bukan itu masalahnya. Kamu tau juga kan, Alan itu anaknya...”
“ Bunda, kenapa Nalan gak bisa ikut suka sama Nana? emang aku salah kalau suka sama Nana?!” tanya Nalan menaikkan nada bicara
“ K- kamu suka sama Nana?! yang bener aja?? pokoknya kamu harus cepetan move on dari Aina!” pinta Bunda Rena kaget
“ kenapa sih?! dari dulu aku slalu ngalah buat Alan. Aku juga udah kasih waktu buat dia nyapa dan mendekatkan diri ke Nana. Tapi apa? dia sama sekali enggak pernah datang buat nyapa ataupun modus apalah.
Dia cuma memperhatikan aku sama Nana dari jauh dan itu mbuat aku kesal! kalo dia emang mau banget sama Nana, kenapa enggak datang langsung ke orangnya dan nyapa gitu. Dan malah ngebiarin aku main sama Nana, ngehibur Nana, deket sama Nana. Dan bahkan dia sama sekali enggak marah walaupun aku gandeng tangan Nana di depannya.
Dia itu kesannya, cuma.. cuma enggak peduli gitu sama Nana. Dia mau sama siapa kek, mau bareng siapa kek. Dia itu enggak peduli!.
Kalau dia gini terus, artinya dia ngebiarin lampu hijau buat aku sama Nana. Kalau Bunda emang serius maunya Alan sama Aina, kenapa Bunda enggak bantu bujuk Alan biar mau deket sama Aina?.
Intinya..., aku gak mau tau. Kalau sampai Alan enggak deket sama Aina dalam waktu 1 minggu kedepan. Aku anggap, aku dikasih lampu hijau buat nikung Alan. Udah itu aja” terang Nalan panjang lebar dengan suara lirih tapi mengintimidasi.
Aku yang baru saja membuat teh dari dapur tidak tau apa - apa.
Aku menyuguhi Ayah, Bunda dan Nalan teh biasa. Saat aku datang memang sepertinya mereka membicarakan sesuatu, tapi setelah aku kesana. Suasana menjadi hening dan canggung.
‘ Harus bilang apa?’- Aina
“ Nana, nana kenal sama saudaranya Nalan?” tanya Bunda Rena membuka pembicaraan
“ Loh, Nalan punya saudara??” tanyaku balik kaget
‘ Dia bahkan sampai tidak tau kalau Nalan punya kembaran?! Alan selama ini kenapa??’- Bunda Rena dan Ayah Evan
“ Jadi gini... Dulu Bunda hamil anak kembar 2. Dan yang satunya itu adiknya Nalan. Keduanya laki - laki” jawab Bunda Rena dengan wajah agak masam
“ Tapi Nalan sama sekali enggak pernah cerita ke aku kalau dia punya kembaran..”
“ ya maap, aku lupa terus”
“ kamu pernah ketemu sama dia?” tanya Bunda Rena penasaran
“ em... kayaknya pernah deh. Cuma satu kali doang sih di taman 2 hari yang lalu” jawabku sambil mengingat
“ namanya siapa?”
“ kalau enggak salah sih.. Alan... Alan... Alan Zacky? atau Alan siapa itu. Aku enggak terlalu ingat nama orang yang cuma ku temui 1 kali” jawabku blak - blakan
‘ cuma sekedar itu dia tau tentang Alan?!’- Bunda Rena
‘ Loh Nana pernah ketemu sama Alan?!’- Nalan
“ Sebenernya waktu itu aku pikir dia Nalan karena hampir mirip banget sama dia. Tapi sehabis denger nada bicaranya jadi sadar kalau dia orang lain..” sambungku sambil menutup mata
“ Habis itu kalian berdua ngobrol - ngobrol gitu gak?” tanya Ayah Evan tidak sabar
“ Iya..., tentang cita-cita sama hobi. Terus aku pamit pulang. Dia juga nganterin aku sampai depan rumah..” jawabku dengan tenang
“ kesan pertama waktu kamu ketemu sama dia gimana??” sekarang giliran Nalan yang kepo
“ anaknya misterius, gak terlalu terbuka. Senyumannya agak gimana gitu. Tapi dari bola matanya dia tipe ramah ke cewek. Mungkin...?” jawabku tidak yakin
‘ lampu merah buat Alan nih’- Nalan
“ belum.”
“ sama sekali belum?.”
“ iya, belum”
“ saya anaknya lebih suka dikelas buat nge hemat energi. Dikelas saya juga bisa tiduran, tapi terkadang saya ke perpus sekolah buat baca buku - buku”
“ pantas kamu ranking 1 di kelas” puji Bunda Rena dengan senyum kecil
“ oya, saya sudah masak makanan favorit Ayah sama Bunda loh. Ayo dimakan dulu keburu dingin...” ajakku mengubah topik pembicaraan sambil pergi ke meja makan
“ kebetulan saya memang laper banget. Aina ikut makan enggak?” kata Bunda Rena sambil duduk di kursi
“ eh saya? kan saya yang masak, biasanya kalau cewek udah masak malah jadi kenyang.. saya masih kenyang kok.. hehe” jawabku agak terbilit - bilit
‘ Jadi dugaanku salah kalau dia itu Nalan? ternyata Nalan punya kembaran.. tapi kenapa.. Nalan, Bunda maupun Ayah enggak pernah ngebahas dan malah baru bahas sekarang? dan lagi... se deketnya aku sama Nalan, dia sama sekali enggak pernah cerita kalau dia punya saudara, apalagi saudara kembar.
Walaupun aku main ke rumahnya, aku sama sekali enggak pernah lihat kalau ada orang lain selain pembantu, Bunda, Ayah sama Nalan.
Jadi, selama ini Alan...kemana?’- Aina
Nalan yang sadar kalau aku sedang melamun langsung memegang pundakku. Aku tersentak agak kaget dan langsung menghadap ke arah Nalan.
“ Bunda, aku mau nginep di rumah Nana dulu hari ini. Boleh gak?” tanya Nalan melirik kearah Bundanya
“ terserah sih. Aina nge bolehin enggak tuh?” tanya Bunda Rena balik dengan tatapan fokus ke masakanku
‘ masakan Aina emang paling the best.. kalau bisa jadi menantu, gak bakal aku pesen gofood tiap hari karena ga selera masakan Bi Ina’- pikir Bunda Rena
Nalan memberiku isyarat agar setuju dan membiarkan ku menginap dirumahnya malam ini.
“ Boleh, boleh aja kok. Nalan kan udah saya anggep ‘keluarga sendiri’. Masa enggak boleh nginep” jawabku sambil melirik bagaimana respon Bunda Rena juga Ayah Evan.
Bunda Rena berhenti mengunyah sebentar dan langsung bilang “ iya juga ya. Ya udah, khusus malem ini Nalan nginep aja dulu dirumah Aina. Aina enggak keberatan kan kalau Bunda titip Nalan disini??”
“ mana ada saya kerepotan. Malah Nalan banyak banget bantu saya disini..”
“ kalau gitu saya sudah tenang”
“ omong - omong. Masakan Nana emang paling enak disinia, anu.. saya udah ngehabisin buncisnya sama tahu saking enaknya...”
“ saya juga malah ngehabisin bergedel kentang sama kentang balado. Aina emang paling tau masakan kesukaan ya..”
“ Bunda sama Ayah ini gimana sih.. kalau mau dihabisin yang enggak papa, enggak usah sungkan. Anggap aja masih makan dirumah sendiri...” kataku sambil mengibaskan kedua tangan
“ Haha, oke oke...”
‘ Dari tadi aku sadar kalau Nana mikirin sesuatu. Apa dia mikirin tentang... Alan???’- Nalan melirikku dengan lirikan setajam silet.
Aku hanya pura pura tidak merasa kalau Nalan tidak sedang melirik ke arahku dengan lirikan itu. Nalan sama sekali belum pernah melirikku seperti saat ini.
‘ Nalan ini... kenapa sih?!’- pikirku terlalu bingung
08.47
“ kalau gitu.., Bunda sama Ayah pamit pulang dulu ya.. jaga diri baik-baik loh.. oya, kalau mau tidur pisah ranjangnya.. Nalan kalau tidur kayak jarum jam. Nanti kamu yang jatuh...” kata Bunda Rena memberi peringatan
“ Bunda.. saya ini anak gadis. Mana mungkin ngebiarin sembarangan cowok tidur seranjang sama saya...” kataku canggung
“ haha.. bener juga sih.. Bunda ini mikir kemana sih... habis.. biasanya kalau di film film gitu....”
“ udah Bunda ku... halunya tolong di kontrol malam ini... ayo ayo, Ayah udah capek..” potong Ayah Evan sambil menarik tangan Istrinya
“ pokoknya, hati - hati loh. Buat Nalan..” kata Bunda Rena kemudian pergi dari rumahku.
Sekarang dirumah ini hanya tinggal aku dan Nalan. Dia dari tadi terus menatapku dengan tatapan tajam. Dan itu membuatku agak merinding.
“ Nalan.. dari tadi kamu kenapa sih?” tanyaku sambil menatap wajah Nalan
Nalan hanya diam dan langsung menarikku masuk ke dalam rumah dan menguncinya. Aku yang tidak paham dengan sikapnya mencoba berfikir positif.
“ Nalan...?” tanyaku lagi
Nalan hanya diam kemudian memejamkan matanya sebentar dan menjawab
“ maaf, kayaknya aku dah capek banget.. langsung tidur aja..., mau gak?”