ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 9



Andrew Wijaya mengkerutkan alisnya, dia berkata dengan suara rendah: “Mungkin mata pisaunya diolesi obat tertentu.”


Alice bersandar dalam pelukannya, suaranya sediki bergetar karena sakit: “Apakah beracun? Apakah dapat membunuh?”


Andrew Wijaya hanya menjawab: “Harus diperiksa di rumah sakit dulu baru kita akan tahu. Takut mati?”


Separuh wajah Alice menempel pada dada kemejanya, gumamnya dengan pelan: “Takut. Siapa yang tidak takut mati?”


Andrew Wijaya mengangkat tangan, lalu mengusap serampangan bibir wanita itu dengan jemarinya yang panjang: “Mulut ini akhirnya dapat mengucapkan sebuah kalimat yang jujur.”


Dengan tidak bersemangat Alice membenamkan wajahnya, tidak berkata sepatah kata pun.


Sebenarnya dia takut mati, namun dalam dunia Anderson dia tidak dapat mati, terkecuali dia telah memenuhi tugasnya barulah dia dapat pergi dengan lancar.


Tetapi, rasa sakitnya nyata.


“Jika takut mati, mengapa mempertaruhkan nyawa.” Andrew Wijaya menatapnya, karena kesakitan keringatnya mengalir dan rambutnya yang basah menempel ke sisi wajahnya, memperjelas wajah mungilnya yang pucat, “Kamu menginginkan apa dariku?”


Alice menengadah sedikit, menyamakan tinggi pandangan pria itu, menjawab dengan jujur: “Aku menginginkan cintamu.”


Selain menginginkan Eric menyesal, hatinya juga ingin merasakan cinta yang sesungguhnya.


Pemilik aslinya pun tidak memaksa harus mendapatkan cinta Eric, jadi dia memutuskan untuk memilih pria yang jauh lebih baik.


“Cintaku?” mencibir dengan dingin, “Lebih baik kamu meminta uang atau rumah, lebih dapat diwujudkan.”


“Tidak, aku tidak mau uangmu, sepeser pun tidak.”


 


Mata Alice yang bersinar menatapnya, dengan serius berkata, : “Jika kamu butuh, aku sanggup menghidupimu. Tetapi harus berhemat sedikit, uangku tidak banyak.”


“Kamu mau menghidupiku?” Andrew Wijaya mengangkat alisnya.


“Ya, berapa uang yang dibutuhkan untuk menghidupimu setahun?” Wanita itu bertanya dengan tulus.


Andrew Wijaya tertawa dengan suara rendah, otot-otot dadanya yang kencang bergetar karena tawanya.


Alice yang bersandar padanya menjadi tidak nyaman, bergumam lalu berkata terus terang, “Apa yang kamu tertawakan? Sangat mahal? Kamu bukalah harga, biar aku lihat apa aku mampu bayar.”


“Tuan, kugendong nona ini turun?”


“Tidak perlu.” Andrew Wijaya meraih pinggangnya dan menggendongnya, dia sendiri yang menggendong wanita itu memasuki rumah sakit.


Supirnya, Andy tercengang.


Dia telah mengabdi pada Andrew Wijaya begitu lama, baru kali ini dia melihatnya mengendong seorang wanita!


Rumah sakit ini, kebetulan merupakan milik sahabat baik Andrew Wijaya, Stanley.


Alice dengan cepat diantar ke ruang gawat darurat.


Lukanya tidak parah, setelah pisaunya dikeluarkan, lukanya diberi obat dan dibalut, tidak perlu dioperasi.


Tetapi darahnya yang mengalir berwarna kehitaman, penyebabnya baru akan diketahui setelah diperiksa.


Setengah jam kemudian, Luka Alice telah selesai diperban, dirinya diantar perawat ke ruang perawatan kelas satu.


Dia berbaring bersandar pada tempat tidur, dia mendengar suara percakapan dua orang pria di luar.


“Andrew Wijaya kita yang terkenal dingin, ternyata menggendong seorang wanita masuk ke rumah sakit, tahu tidak jika berita ini tersebar berapa wanita yang akan patah hati.”


“Omong kosong. Hasil tes darahnya sudah keluar belum?”


“Sebentar lagi. Ai, Kak Andrew, aku penasaran, wanita ini memiliki sihir apa sampai dirimu membuat pengecualian?” Stanley meletakkan tangannya ke bahu Andrew Wijaya siap memulai gosip, “Beri aku bocoran, aku tidak akan memberi tahu wanita-wanita yang mengejarmu.”


Andrew Wijaya menepis tangannya, dengan gamblang menjawab : “Seorang wanita yang menawarkan untuk menghidupiku, menurutmu punya trik semacam apa?”


“Pffttt....!”


Stanley baru saja meneguk seteguk kopi, nyaris saja disemburkannya.


Lelucon besar macam apa yang baru saja didengarnya?


Tidak disangka ada seorang wanita yang berani mendeklarasikan akan membiayai hidup Andrew Wijaya yang memiliki sisi hitam dan putih ini!