ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 20



Di ruang yang tertutup dan sempit, suara nafas dapat terdengar dengan jelas.


Tidak teratur dan memburu.


Wajah Alice memerah, dia nyaris kehabisan nafas karena dicium.


“Andrew Wijaya....” siku wanita itu diletakkan di dadanya, “Ng, aku bersalah...”


“Salahmu dimana.” Andrew Wijaya menjauhkan bibirnya sedikit, menurunkan pandangannya dan mentap wanita itu dari dekat, “Katakan.”


“Aku tidak seharusnya mengatakan bahwa kamu bukan seorang pria.” Alice menjawab dengan suara lemah, sepertinya malu-malu, “Kamu tentu seorang pria, pria yang sangat hebat.”


Andrew Wijaya merasa sungkan dan konyol mendengar perkataannya.


Pria itu hanya mengikuti provokasi wanita itu, lalu mencium wanitanya.


Wanita itu malah mengatainya seolah dia telah melakukan sesuatu padanya.


Mulut kecil itu sungguh tiada ampun.


Tidak sudi merugi.


“Pria atau bukannya aku, tidak perlu dibuktikan olehmu.” Andrew Wijaya menatap sekilas bibir wanita itu yang bengkak memerah karena ciumannya, hasratnya diam-diam memancar.


Rasa wanita itu jauh lebih manis dari yang dia bayangkan.


“Mulut berkata begitu tetapi hati berkata lain.” Alice tidak percaya, “Lalu saat aku membujukmu dengan kata-kata, mengapa berhasil?”


“Tentunya bukan kata-kata yang menyenangkanku.”


Dia hanya tiba-tiba ingin mencium wanita itu.


“Lalu karena apa?” Alice memiringkan kepalanya, mengangkat pandangan dan menatapnya.


Andrew Wijaya malahan tidak menjawab, mengulurkan tangan dan mendudukkan wanita itu, merapikan kemejanya yang mengkerut di bagian dada, lalu kembali ke posturnya yang dingin dan menahan diri.


“Andrew Wijaya.” Alice mengerjap-ngerjapkan matanya, “Apakah kamu memikirkan statusku yang sudah menikah? Aku dan Eric sudah sepakat bercerai, jika kamu merasa tidak terima, besok aku akan ke Catatan Sipil untuk mengurus prosedur perceraian.”


“Kamu bercerai atau tidak apa hubungannya denganku.” Kata Andrew Wijaya tanpa ekspresi.


“Karena kamu berkata begitu...” Alice bergumam, “Aku tidak cerai dulu.”


Wanita itu ingin melihat berapa lama pria itu akan tetap keras kepala.


Wanita itu memang pemberontak sejati.


Dia memperlakukannya begitu lembut, namun pria itu tidak juga menghargai kebaikannya.


Lebih baik wanita itu membuatnya tidak suka.


Alice tidak lagi mempedulikan pria itu, dia mengancingkan kemejanya lalu berbalik menghadap jendela mobil.


Tidak lama, supir di kursi pengemudi memberi tahu: “Tuan, kita sudah sampai rumah sakit.”


Rumah sakit ini adalah rumah sakit waktu dia dirawat akibat terluka oleh pisau.


Dokter yang telah mengetahui kabar kedatangannya telah menunggu.


“Nona Qu, lukanya akan diberi obat dan diperban ulang, hati-hati jangan kena air lagi.” Dokter wanita itu menjelaskan dengan ramah, “Hasil tes darah akan segera keluar, silahkan menunggu.”


Alice duduk di ruang khusus perawatan, dengan enggan mengangguk.


Racunnya telah terdetoks seluruhnya.


Di hasil tes darah pasti tidak menemukan apapun.


Berdasarkan kepribadian Andrew Wijaya yang penuh curiga, pria itu pasti akan mencurigainya lagi.


Setengah jam kemudian.


Di tangan Andrew Wijaya tergenggam sebuah laporan, dengan kakinya yang jenjang dia berjalan masuk.


Alice yang sudah tahu malah sengaja bertanya : “Hasil tesku baik-baik saja?”


Wajah Andrew Wijaya tanpa ekspresi, sulit menerka perasaanya, dia berkata datar: “Baik, sangat baik.”


“Kalau tidak ada masalah aku jadi lega.” Alice bangkit berdiri, seraya hendak berjalan keluar ruang perawatan.


Belum sempat dirinya mencapai pintu, pinggangnya mengencang, tangan pria itu dengan penuh tenaga meraih pinggangnya yang ramping.


“Kenapa buru-buru.” Andrew Wijaya menurunkan pandangannya, tatapannya yang dingin memaku pada wajah kecil wanita itu, “Merasa bersalah?”


“Mengapa harus merasa bersalah?” tanya Alice menatapnya, tidak mengelak.


“Kamu tahu, racun baru seperti ini, selain diberi penawar yang tepat, tidak akan dapat hilang dalam semalam.”


Tatapan Andrew Wijaya dingin.


Walaupun pria itu tidak menemukan keanehan pada wanita itu, tetapi hal itu justru mencurigakan.


“Oh...” Alice sengaja menarik ujung perkataanya, menggodanya sedikit. “Aku tahu, kamu curiga aku berpura-pura, menyuruh orang untuk membunuhmu, lalu aku akan menyelamatkanmu, lalu kamu akan memandangku dengan berbeda, bukankah begitu?”


Andrew Wijaya menutup bibir tipisnya dengan rapat.


Sesungguhnya dia telah berspekulasi akan kemungkinan seperti itu.


Beberapa tahun ini, begitu banyak musuhnya yang memerangkapnya dengan wanita cantik.


“Karena kamu menganggap aku yang merencanakan semua ini, mengira aku memiliki obat penawar, ya sudah anggap saja begitu adanya.” Alice tidak ingin dan tidak sangup menjelaskan.


Wanita itu melepas belenggu pria itu, “Cepat atau lambat kamu akan tahu, aku tidak melakukan apapun.”


Wanita itu membuka pintu, melangkah pergi dengan bangga.