
Tepat beberapa menit setelah kepergian Alice, seorang bawahan Andrew Wijaya datang melapor.
“Lapor tuan, pelaku di balik layar pembunuhan bersenjata itu telah diketahui.”
Andrew Wijaya menyipitkan matanya: “Katakan!”
“Setengah tahun lalu, kita membeli sebidang tanah besar di timur kota dan membangun taman hiburan besar. Proyek ini pada mulanya sedang dirundingkan Keluarga Li dan Pejabat Z, lalu akhirnya kita yang memperolehnya lebih dulu. Keluarga Li memang dari kalangan dunia hitam, terhadap Anda Tuan... selalu sentimen.”
Bawahannya menjelaskan dengan tereperinci, dilengkapi pula dengan video hasil rekaman kamera pengawas lalu lintas.
Andrew Wijaya melihatnya, wajah tampannya dingin, dia tidak berkata sepatah kata pun.
Sekujur tubuhnya memancarkan aura dingin, bawahannya bergetar ketakutan, “Tuan, bagaimana jika saya mengatur orang, gigi ganti gigi?”
Andrew Wijaya dengan dinginnya membuka mulut, suaranya terdengar haus darah : “Berani menginginkan nyawaku, bagaimana bisa semudah gigi ganti gigi. Hidup, lebih mengerikan dari mati.”
Bawahannya berdiri tegak dengan takzim: “Siap! Mengerti! Sekarang juga dilaksanakan!”
“Tunggu.” Andrew Wijaya mengerutkan alisnya, terdiam sesaat, lalu tiba-tiba berkata: “Suruh seseorang untuk mengikuti Alice.”
Sekarang tampaknya dia mulai berprasangka pada wanita itu.
……
Alice meninggalkan rumah sakit, karena malas kembali ke Hotel Four Season untuk mengambil mobil, dia memilih untuk naik taksi dan kembali ke Apartemen Central Park.
Setibanya di luar komplek perumahan, dia turun dari mobil.
Waktu sudah lumayan larut, malam mulai turun, bayangan pepohonan di berbagai penjuru memberikan kesan yang menyeramkan.
Alice berdiri di tempatnya, kepalanya menoleh menatap sekeliling.
Instingnya terhadap bahaya selalu sangat tajam.
Tampaknya seseorang telah mengikutinya, mengawasinya diam-diam.
“Shania, keluarlah.” Dia memanggil asisten sistemnya, “Periksa sekelilingku apakah ada yang mengawasiku.”
Shania segera mengakses data global, dia menemukan sepotong data yang diambil dari pengawas lalu lintas terdekat, lalu memunculkannya pada di layar cahaya: “Tuan, ada yang mengikuti Anda.”
Alice dapat mengakses data dan gambar itu di benaknya.
Ada dua orang yang sedang mengikutinya.
Yang satunya tampak begitu rahasia, tidak dikenal.
“Periksa identitas orang ini.” Alice menunjuk orang kedua.
“Laki-laki ini bernama Steven, seorang penjahat, mencuri, memukul orang, menculik, memperkosa, semuanya dia lakukan.”
“Ck, tampaknya ada yang benci padaku.”
Di dunia ini, selain Rose “saingan cintanya”, siapa lagi yang membencinya sampai berniat menculiknya
Alice memutar matanya, sebuah nama muncuk di hatinya.
Jennie Putri.
“Pemilik, apakah mau melapor polisi?” tanya Shania.
“Lapor polisi apanya?” Alice menggeleng, sebuah senyum penuh arti tersungging di bibirnya, “Sampai sekarang belum melakukan apapun demi ini. Kita harus lebih bermurah hati, berikan orang lain kesempatan.”
……
Alice beristirahat beberapa hari, lalu berpergian keluar dengan santai, dia menemukan sebuah toko yang pas lalu membuka toko bunga.
Dia menyukai tanaman dan bunga.
Yang lebih penting adalah lokasinya yang terpencil dan pada malam hari tenang dan tidak berpenghuni.
Jalan raya di depan toko kebetulan tidak ada kamera pengawas.
Sangat cocok bagi orang jahat untuk melancarkan niatnya.
Alice merasa dirinya sangat pengertian, membantu orang jahat memperoleh kesempatan.
Malam ini, dia menyuruh nona penjaga tokonya pulang terlebih dahulu, tinggal dirinya sendiri menutup pintu toko.
“Mawar mawar~ aku cinta padamu.” Dia bersenandung, mematikan lampu toko.
Toko menjadi gelap.
Dia masih belum keluar dari toko, dari luar tiba-tiba seorang pria dengan pakaian hitam masuk ke dalam, tangannya menggenggam sebilah pisau panjang, berteriak keras dan jahat: “Angkat tangan!”