ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 44



Setelah selesai mengurus prosedur untuk meninggalkan rumah sakit, Andrew Wijaya membawa Alice ke villanya.


Kali ini, tidak ada seorang pun yang menghalanginya.


“Wow, kamar tidurmu sangat besar.” Alice melihat-lihat kamar utama, menyuarakan kekagetannya, “Selain hitam putih, tidak ada warna lain, kamu tidak merasa suram?”


“Kamu ingin menambah warna apa?” Andrew Wijaya menggandeng tangannya, berkeliling kamar, membawanya ke kamar mandi, “Kamu mandi dulu, aku akan minta pembantu untuk mengantar jubah mandi yang baru.”


“Aku ingin warna merah muda.” Alice tersenyum memiringkan kepalanya, sengaja mempersulitnya, “Wallpapernya diganti warna merah muda saja bagaimana?”


Andrew Wijaya mencubit hidungnya, “Nakal. Kalau ingin kamar warna merah muda, aku bisa mengubah kamar kosong di sebelah sesuai keinginanmu.”


“Uh... tidak bisa bernafas....” Alice tidak dapat bernafas karena hidungnya dicubit, dia terpaksa bernafas lewat mulut.


Tepat ketika dia membuka mulut, pria itu menciumnya.


Ujung lidahnya masuk.


“Uh... jahat....”


Segala keluh kesah wanita itu ditelannya.


Pria itu ketagihan mengganggunya, menciumnya terus hingga mendekati sampai nyaris kehabisan nafas, setelah itu barulah memberinya kesempatan menghela nafas.


Baru saja udara segar memasuki rongga dadanya, pria itu melanjutkannya kembali, merampas rasanya yang manis.


Alice ‘disiksa’nya hingga seluruh wajahnya memerah.


Pria ini mengapa begitu jahat!


“Andrew....” dengan susah payah dia meraih celah untuk berbicara, “Aku mau mandi! Kamu tunggu....”


“Baik, untuk sementara aku melepasmu.” Andrew Wijaya menarik diri dari bibirnya, melepasnya, “Mandilah, aku mandi di kamar mandi kamar sebelah.”


Sikapnya ini menunjukkan malam ini dia akan ‘memakannya’.


Alice mendengus pelan, memutar tubuhnya dan menuju kamar mandi.


Malam ini dia akan membuat pria itu mengerti, siapa yang sesungguhnya lebih jahat.


Di dalam kamar mandi yang besar dan mewah itu Alice beraktivitas cukup lama, setelah mandi dia mengeringkan rambutnya, baru dengan perlahan mengenakan jubah mandi putihnya dan berjalan keluar.


Andrew Wijaya telah duduk di sofa di sebelah tempat tidur, membaca dokumen di ipadnya.


Mendengar suara langkahnya, pria itu menoleh dan melihat.


Di pinggangnya terikat sabuk jubah mandi, yang tampak begitu rapuh, seolah dapat diputuskan dengan mudah.


Jubah itu menampakkan sepotong kaki mungil yang putih, kulitnya putih dan halus, sangat putih menarik mata.


“Kesini.” suara Andrew Wijaya sedikit parau.


“Kamu sedang melihat apa...”


Alice mendekat sembari berbicara, belum selesai berbicara, ikat pinggang jubah mandinya ditarik pria itu.


Dengan bertenaga ditariknya wanita itu, tubuhnya jatuh ke dalam pelukannya.


“Kamu sedang apa?” Alice bertanya, sedikit kesal.


“Mengerjaimu.” Jawabnya.


Alice untuk sesaat tidak memahami jawabannya.


Dia berpikir beberapa saat, seketika dia paham.


Dia sedang.... menggodanya!


“Tidak perlu dikatakan.” Wanita itu mengulurkan tangannya menutup mulut pria itu, “Hanya aku yang boleh bicara.”


Mata Andrew Wijaya yang hitam bagai batu obsidian berkilau, lalu tersenyum tapi tidak tersenyum: “Kalau begitu katakan, aku dengar.”


Alice membalikkan badan, menghadapnya dan duduk di atas pahanya sambil mengangkangi kakinya, lalu mendekati telinganya dan berbisik, “Kak Andrew... begini... begitu....”


Suara kecil dan pelan, Andrew Wijaya tidak mendengar jelas apa yang dikatakannya.


“Katakan sekali lagi.” Katanya mengerutkan alis.


“Tidak, perkataan baik hanya diucapkan sekali.” Alice turun dari kaki pria itu, wajahnya dihiasi senyum licik, “Mau dengar lagi, mohon dulu padaku.”


“Hm?” Andrew Wijaya merendahkan intonasi akhirnya, suaranya terdengar berbahaya, “Siapa yang memohon siapa?”


Alice mundur perlahan, berdiri menjauh darinya, tertawa memprovokasinya: “Memohonlah padaku, aku akan katakan sekali lagi.”


Andrew Wijaya bangkit berdiri, tubuhnya yang tinggi tampak memaksa, mendekati wanita itu selangkah demi selangkah.


“Tidak perlu, tidak apa jika aku tidak dengar.” Lalu dengan tidak terburu-buru berkata, “Langsung saja.”