
Andrew Wijaya mengantarkan Alice sampai ke apartemennya, tapi ia tidak masuk ke dalam, ia pergi begitu saja.
Sikap dinginnya ini melebihi orang-orang biasa.
Sama sekali tidak terlihat seperti pasangan pada umumnya.
Tetapi Alice malah terlihat gembira. Ia mengirimi pria itu pesan :
Dia nakal dan jahat.
Dengan cepat, Andrew Wijaya membalasnya:
Ketika wajah Alice memerah, ia malu-malu dan sangat lucu.
Tanpa ia sadari, sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Ketika sedang jatuh cinta, hatimu pun berbunga-bunga.
Meskipun, mereka baru memulainya.
Ia terus mengetik pesan.
Andrew Wijaya sudah malas meladeninya maka ia pun langsung mengiriminya pesan suara, ”Kalau Kamu punya nyali untuk mengangguku, maka jangan mundur nanti.”。
Sungguh lelaki yang tidak banyak bicara.
Alice hanya tertawa terkikik dan tidak membalas pesannya lagi. Ia pun pergi ke kamar mandi untuk membasuh diri.
Setelah selesai membersihkan diri, sambil merawat wajahnya, Alice menghubungi Eric.
“Alice? Kamu sudah sampai di rumah?”, Eric langsung mengangkat teleponnya.
“Ya.”jawab Alice datar, ”Ayo kita bertemu di pengadilan besok pukul 10 pagi. Bawalah dokumen-dokumen yang diperlukan, kita selesaikan perceraian ini.”
“Apa? Besok kita akan bercerai? Mengapa?!”
“Kamu sudah lupa, ya. Bukankah Kamu yang pertama kali meminta cerai?”
Ingatan Alice kembali ke masa ketika ia baru sampai di dunia ini. Pada saat itu, ketika Eric pulang ke rumah, ia dengan kejam melemparkan surat perceraian padanya.
Mengapa Ia masih juga bertanya?
“Alice, bukankah kita sudah pernah membicarakan hal ini, bahwa kita akan memulainya lagi dari awal?”Eric berusaha untuk mengulur waktu.
“Kapan kita pernah membicarakan hal ini? Kamu sendiri yang memutuskan seenaknya.”, jawab Alice dengan malas, ”Kalau Kamu ingin datang besok, datanglah, kalau tidak, sampai bertemu pada saat sidang.”
Eric terdiam.
Alice tidak menghiraukannya dan langsung menutup teleponnya.
Ia menggunakan masker wajah dan setelah selesai merawat wajahnya, tak lama kemudian, ia pun tidur.
Keesokan harinya adalah hari yang indah dan cerah.
Alice menyetir sendiri ke Pengadilan.
Di dalam kantor Pengadilan itu, sebagian besar adalah para pasangan bahagia yang baru menikah yang hendak membuat buku nikah.
Hanya terdapat segelintir pria yang duduk di pojokkan, mereka saling tidak peduli.
Sekali pandang sudah tahu, mereka adalah orang-orang yang akan menggugat cerai disini.
“Alice”
Eric sudah sampai lebih dulu.
Sepanjang malam ia tidak dapat tidur, ia terus kepikiran saat-saat awal ketika baru mengenal Alice.
Pada waktu itu, kesannya tidak terlalu dalam.
Tapi sekarang, sosoknya malah terus menghantui pikirannya.
Ia ingin mengusirnya dari pikirannya, namun, ia malah semakin teringat dengan jelas sosoknya itu.
“Lingkar hitam matamu…”, Alice terlihat sedikit kaget dengan kondisinya yang rapuh itu, tetapi ia tidak banyak bertanya, dan dengan tegas ia berkata, ”Ayo, kita selesaikan prosedurnya.”
Sebelumnya, keduanya sudah pernah menandatangani surat perceraian, maka dari itu, proses perceraian pun berlangsung dengan sangat cepat.
Tak sampai 20 menit, dua surat perceraian itu pun sudah jadi.
Alice mengenakan kembali kacamata hitamnya dan berjalan keluar dari kantor Pengadilan itu.
Eric mengikutinya dari belakang, perasaannya muram, ia berkata.”Alice, Kamu mau kemana? Aku akan mengantarmu.”
“Tidak perlu, aku menyetir sendiri kok”, Alice pun dengan santai melambai-lambaikan tangannya dan berlalu dari pria itu.
Ketika ia hendak pergi ke tempat ia memarkirkan mobilnya, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.
Ia menolehkan pandangannya ke arah datangnya suara tersebut, lalu ia menemukan ada sebuah mobil Bugatti Veyron hitam di tepi jalan.
Itu adalah sebuah mobil mewah yang jumlahnya terbatas sekali.
Orang-orang yang berlalu-lalang pun mencuri pandang sambil berbisik.
Kaca jendela mobil Bugatti Veyron itu pun terbuka, terlihat wajah pemiliknya yang seperti dipahat dengan sempurna, sungguh amat tampan.
Batang hidung pria itu tinggi terlihat menyandang kacamata hitam, karena itu, hanya terlihat bibir tipisnya yang menawan dan garis rahangnya yang tegas.