
“Uh... awas nasi gorengnya...” Alice memprotes, “Aku memasaknya dengan hati...”
“Salahku dirimu masih saja mengingat nasi goreng.” Andrew Wijaya menginvasi mulutmya, menyerap rasa manisnya, dengan arogan merampas udara yang dibutuhkannya untuk bernafas.
Seluruh wajah Alice memerah karena dicium, dia kehabisan nafas.
Wanita itu menyerah, tidak lagi berusaha memprotes dan bertahan, lalu mengubah pertahanannya menjadi serangan balasan, dia bergelayut pada leher pria itu, lalu membalasnya dengan berani.
Perlahan, nafas di dapur itu memburu.
Suara nafas pria itu tidak teratur.
Cukup lama, lalu Andrew Wijaya memaki pelan: “Sialan!”
Wanita itu baru saja menstruasi hari pertama, dia masih harus bertahan beberapa hari.
“Hihi.” Alice menggigit sudut bibir pria itu sekali, mengangkat wajah mungilnya yang mulus dan putih, tampak raut puas di wajahnya, “Konon, pria tidak menghargai hal yang mudah di dapatkan. Aku ingin membuatmu menahan diri beberapa hari.”
Bibirnya yang memerah karena diciumi dengan ganas tampak sangat menarik, tampangya yang tampak puas sangat lucu dan bersemangat, Andrew Wijaya yang melihatnya tergerak, mencubit dagu kecilnya, hendak melanjutkan lagi.
Alice tidak membiarkannya, dia mendorong dadanya supaya menjauh, lalu melompat turun dari meja: “Sayurnya sudah dingin, cepat makan.”
Andrew Wijaya tidak berdaya; “Kalimatmu , ‘pria tidak menghargai hal yang mudah didapatkan’ hanya sebuah paradoks, tidak semua pria seperti itu.”
Alice merapikan kemejanya yang berantakan, lalu menyajikan nasi goreng telur dan sup gambas udang kering ke atas meja makan, sambil berkata: “Semua pria berkata demikian sebelum memperolehnya.”
Andrew Wijaya tertawa marah: “Dari mana kamu mendengar hal tidak masuk akal ini?”
“Di telepon genggam, di internet banyak sekali kisah inspiratif seperti itu.” Alice mengambil telepon genggam dari atas meja dan menunjukkan pada Andrew Wijaya.
“Disita. Tidak usah melihat hal tidak berguna itu sepanjang hari, mengajari para gadis yang tidak-tidak saja.” Pria itu menyita telepon genggamnya.
“Ah, kembalikan....”
Baru saja Alice hendak merebutnya kembali, telepon genggamnya tiba-tiba berdering.
Di layar, tampak nama Eric muncul.
Andrew Wijaya menyipitkan mata hitamnya, lalu mengembalikan telepon genggamnya tanpa mengatakan apapun.
Alice menerima telepon: “Halo?”
“Alice, kamu tidak di apartemen?’ Eric yang berada di ujung telepon berkata: “Aku mengirimimu beberapa hadiah, sekarang sementara dititipkan di kantor agen properti, ingat ambil saat kamu kembali.”
“Hadiah? Mengapa memberiku hadiah?”
Alice terdiam, menoleh menatap pria yang ada di sebelahnya.
Ekspresi Andrew Wijaya tampak datar, sulit melihat perubahan pada dirinya.
Di ujung telepon, Eric melanjutkan, “Alice, mulai hari ini, aku mau mengejarmu secara formal, kamu boleh menolak, tetapi jangan membunuh hakku untuk mengejarmu.”
“Eric, sebenarnya...”
Belum sempat Alice menyelesaikan perkataannya, Eric merasakan penolakan wanita itu, lalu mengucapkan selamat tinggal dan menutup telepon.
Alice tidak memiliki jalan lain, dia mengangkat bahu, tidak berdaya.
Eric ingin mengejar, biarkan saja dia mengejar.
Yang jelas, dia tidak akan setuju.
Dia menyimpan telepon genggamnya, menoleh menatap Andrew Wijaya : “Kamu marah?”
Andrew Wijaya menyentil dahinya yg bersih dengan jarinya: “Apakah aku begitu mudah marah?”
Alice mengangguk dengan lega: “Baguslah kalau begitu.”
Pada saat itu dia masih belum menyadari bahwa dia terlalu cepat merasa lega.
Andrew Wijaya naik ke lantai atas dan selesai berganti pakaian, dia sangat bersemangat, dia memakan habis nasi goreng telur yang sudah dingin itu.
Alice tersenyum melihatnya.
Lalu Andrew Wijaya menyetir sendiri, mengantarnya kembali ke apartemen.
Pengurus properti di kompleks Alice terorganisir dengan baik, mengutus seseorang untuk mengantarkan hadiahnya.
“Sebanyak ini?”
Alice menatap dengan tercengang bunga mawar merah yang memenuhi beberapa gerobak dorong .
Ini pasti ribuan kuntum.
Eric tampaknya tidak tahu dia membuka toko bunga. Lebih baik jika ia datang dan membeli darinya.
“Benar, pacarmu sungguh memanjakanmu.” Puji laki-laki dari kantor properti itu, dia mengira pria di samping Alice yang mengantarnya.