ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 46



Alice sangat tidak puas, dia menarik selimut menutupi wajahnya, dia marah dan  berkata dengan manja: “Andrew, kemari, ada yang mau kutanyakan.”


“Sudah tidak usah ditutup, awas sakit hati sendiri,” Andrew Wijaya mengangkat alis dan tertawa pelan, sudut bibirnya terangkat dengan jahat, “Bagian mana yang tidak pernah kulihat?”


“Menyebalkan!” Alice menarik selimutnya lalu membungkus dirinya sendiri, dia naik dan duduk, “Aku bertanya padamu, dimana kamu mempelajari trik-trikmu? Sudah kamu praktekkan pada wanita mana saja? Jawab jujur, kalau tidak....”


“Kalau tidak bagaimana?” Andrew Wijaya balas bertanya dengan tenang.


“Kalau tidak aku akan...” Alice berpikir cukup lama, lalu melajutkan, “Aku hanya bisa membiarkan.”


Siapa suruh dirinya datang terlambat.


Tidak sempat berpartisipasi dalam masa lalunya.


Bagaimanapun dia adalah seorang pria yang normal, tidak dapat disalahkan jika dia pernah memiliki wanita lain.


Mendengar perkataannya yang menggemaskan, Andrew Wijaya tidak dapat menahan dirinya dan tertawa rendah, dirinya maju dan mengusap rambut wanita itu: “Mengapa begitu bodoh?”


Alice yang tidak senang mencibirnya: “Aku memang bodoh, setiap memikirkan dirimu pernah dekat dengan wanita lain, aku tidak tahan untuk tidak bersedih.”


“Tidak ada wanita lain.” Andrew Wijaya mencubit pelan wajahnya, “Bodoh, kemampuan ini dipelajari dari materi.”


“Materi? Materi apa?” tiba-tiba mata Alice berbinar, “Bisa kirimkan aku? Aku juga ingin belajar.”


Dia tidak ingin hanya dirinya yang tidak berdaya diganggu.


Dia ingin berbalik, membuat pria itu memohon ampun sepanjang malam!


“Kamu ingin belajar, aku sendiri yang akan mengajarimu.” Andrew Wijaya menatapnya, lalu bertanya, “Fokusmu hanya pada materi?”


“Tentu bukan, aku dengar, kamu bilang tidak ada wanita lain.” Alice mengangkat wajah mungilnya, dia menatap pria itu “Mengapa begitu?”


Dia seorang pria yang begitu tampan, kaya dan berpengaruh, dia juga seorang pria yang sangat maskulin, bagaimana mungkin tidak pernah berpacaran?”


Alice teringat, di data sistem tertulis bahwa pria ini sangat waspada pada wanita, dia tidak mempercayai wanita.


Mengapa?


“Seaneh itu?” Alice tidak mengerti, “Kamu pernah disakiti perempuan?”


“Tidak ada. Atau, aku selama ini sedang menanti seseorang.” Andrew Wijaya menyipitkan mata hitamnya, lalu matanya menerawang.


Seperti lingkaran karma, penantian yang tidak dapat dijelaskan.


Mungkin, penantiannya telah usai.


Bibir Alice membentuk sebuah senyuman: “Apakah menantiku? Ini aku sudah datang.”


Wanita itu mencondongkan tubuhnya ke arah Andrew Wijaya, mengulurkan tangannya memeluk pinggangnya yang ramping, pipinya dibenamkan di bahunya, dengan lembut berkata, “Berapa panjang umurku, aku akan menemanimu selama itu.”


Andrew Wijaya menurunkan kepalanya, lalu mencium rambutnya, dengan pelan mengiyakan.


Pria itu mengulurkan tangannya, memeluknya dengan erat.


Di dalam hatinya, sebuah tempat yang kosong, sepertinya telah terisi dengan menakjubkan.


Mereka berdua berpelukan dalam diam,Alice tiba-tiba bergetar sedikit.


 


 


Dalam benaknya, suara Shania terdengar.


“Ting tong! Selamat, tugas telah selesai 90%..... tetaplah berusaha untuk menyelesaikan 10% terakhir.”


Alice samar-samar merasakan ketegangan di hatinya, tanpa suara dirinya bertanya, “Setelah menyelesaikan 100%, akankah aku tetap tinggal di dunia ini dan menua atau aku akan segera meninggalkan dunia ini?”


Shania menjawab dengan lucu : “Pertanyaan ini di luar skema. Tetaplah berusaha, setelah berhasil 100%, pertanyaan ini akan terjawab dengan sendirinya, semangat, luar biasa!”


“Ada apa?” Andrew Wijaya menyadari hal yang berbeda padanya, menurunkan pandangannya dan bertanya, “Dingin?”


“Tidak ada apa-apa.” Geleng Alice, mengembangkan senyum hangat, “Aku pergi mandi, kamu memasak, bagaimana?”