
Kedua orang itu keluar dari restoran elit itu dan kembali ke mobil mereka.
Alice bertanya kepadanya, ”Setelah ini, kemana kita akan pergi sekarang?”
Andrew Wijaya menjawab, ”Aku akan membawamu ke tempat yang special.”
Alice menjadi penasaran, ”Dimana?”
“Kamu akan tahu setelah sampai disana.”
Alice menggerutu karena Andrew Wijaya tidak memberinya jawaban, ”Misterius sekali.’
Ia menjadi sedikit penasaran, sebab hari ini adalah hari kencan resmi pertama mereka, kemana ia akan membawanya pergi?
Restoran mewah atau makan malam romantis?
Ataukah taman bermain dan naik bianglala?
Atau jangan-jangan, mendaki gunung untuk melihat pemandangan malam?
Alice pun menyimpan rasa penasarannya dan dengan mata berbinar-binar melihat ke pemandangan di luar jendela mobil.
Mobil pun melaju semakin menjauh dari hiruk-pikuk pusat kota, perlahan-lahan mereka memasuki daerah lapang.
“Bukankah daerah ini adalah daerah maksiat seperti yang dirumorkan?”, sontak Alice bertanya.
Dahulu ia pernah mendengar rumor bahwa di kota ini ada daerah liar yang tidak patuh pada hukum dan peraturan yang ada.
Dalam 10 tahun belakangan ini, orang-orang menjuluki daerah ini, daerah maksiat.
Bukan hanya prostitusi, disini juga terjadi perjudian, penyelundupan barang, tawuran dan lainnya, tempat ini sungguh liar dan kacau.
Sepertinya Andrew Wijaya tumbuh besar disini.
“Apakah Kamu akan membawaku ke tempat dimana Kamu tumbuh besar?”, tanya Alice.
“Aku ingin Kamu mengenal diriku yang sesungguhnya”, nada bicara Andrew Wijaya ringan dan santai, ”Agar Kamu tidak menyesal nantinya.”
Mobil Buggati Veyron yang mewah itu pun berhenti di depan sebuah gang yang kumuh dan terlihat tidak tertata dengan baik.
Di tepi jalan, terlihat anak-anak berpakaian compang-camping yang melihat-lihat penasaran, anak-anak itu pun menghampiri mereka.
“Turunlah.” Andrew Wijaya membukakan pintu untuk Alice.
“Dulu, aku dan dia bernasib sama.” Andrew Wijaya menunjuk pada beberapa anak itu. ”Aku bermain-main di jalanan ini. Setelah usiaku bertambah, aku mulai berjualan rokok untuk para pejudi disini.
Setelah Alice melihat anak-anak yang kurus kering dan memakai pakaian compang-camping ini, ia menjadi sulit untuk membayangkan masa kecil Andrew Wijaya yang demikian sulit.
“Pada waktu itu, Kamu tinggal dengan siapa?”, tanyanya.
“Dengan Ibuku.” Andrew Wijaya memegang tangannya dan membawa masuk ke gang tersebut. Ia membawanya menaiki tangga di sebuah gedung tua, sambil berkata, ”Sebelum usiaku 12 tahun, Ibuku dan aku saling bergantung untuk dapat bertahan hidup. Kami tinggal di lantai 5 gedung ini.”
Setelah naik ke lantai 5, Alice melihat plat neon aneh yang terpampang di kedua belah pintu kamar yang berhadapan.
Masing-masing tertulis “Tuan Muda sudah datang” dan “Selamat datang di kamar cinta”.
Ia langsung mengerti bahwa tempat ini adalah kamar para pekerja ****.
Ia mengalihkan pandangan matanya kepada pria tampan nan tinggi di sebelahnya.
Raut wajah Andrew Wijaya terlihat apatis, pandangan matanya beralih ke plat neon itu, dengan datar, ia berkata, ”Saat Ibuku akan ‘bekerja’, ia akan menyuruhku turun dan bermain sendiri. Ada saat ketika ibuku harus ‘bekerja’ semalaman, pada saat tersebut, aku hanya akan tidur di bangku yang ada di tepi jalan.
Hati Alice tercekat, hatinya tertusuk.
Ia pun mengenggam erat tangan pria itu, dengan pelan, ia berkata, ”Semua sudah berlalu, Kamu sudah bertumbuh dengan baik.”
“Bukan begitu, Alice. Aku membawamu kemari bukan bermaksud untuk membuatmu bersimpati padaku.”
Andrew Wijaya kembali mengalihkan pandangannya dan menatap wanita itu lekat-lekat, ”Aku ingin Kamu paham bahwa aku bukanlah seseorang dengan kedudukan tinggi dan bukan juga seorang konglomerat elit.”
Dengan suara beratnya itu ia berkata, ”Saat umurku 10 tahun, aku bergabung di dalam sebuah geng dan berkelahi terus, hidupku tidak karuan. Saat usiaku 12 tahun, Ibuku jatuh sakit dan meninggal, demi mempertahankan kamar ini dan bertahan hidup, apapun akan kukerjakan.”
Alice hanya diam dan mendengarkannya.
Ia menggenggam erat tangannya dan tidak melepaskannya.
“Pada saat usiaku 14 tahun, seseorang dari keluarga Wijaya datang mencariku. Setelah tes DNA, mereka memastikan bahwa aku adalah anak kandung keluarga Wijaya yang telah lama berkeliaran di luar.”
Bibir Andrew Wijaya terangkat membentuk senyum sinis, ”Ternyata ayahku sudah lupa bahwa ia pernah tidur dengan seorang perempuan muda. Ibukulah yang mengirimi surat untuk keluarga Wijaya sebelum hari kematiannya. Untunglah yang menerima surat itu adalah kakekku, sehingga aku bisa menikmati kehidupan ini.