
“Kamu pasti sangat menyanyangi ibumu, bukan?”, Alice bertanya.
Saat mendengar hal ini, ia teringat bahwa meski ibunya adalah seseorang yang terpaksa harus menjual dirinya sendiri, namun ibunya pasti sangat menyayanginya.
“Ya”, Bola mata Andrew Wijaya menjadi lebih kelam, dengan suara pelan, ia berkata,”Temperamen ibuku buruk,ia sering memarahi dan memukuliku, tapi aku paham bahwa itu semua untuk kebaikanku, agar kelak aku tak mengulangi ataupun terus hidup menyedihkan sepertinya.”
“Kamu sudah bekerja keras.”,Alice pun berjinjit dan mencium pelan bibir pria itu,” Kamu sudah bekerja keras Frans. Kalau saja aku datang lebih cepat, jika demikian, semua akan menjadi lebih naik.”
Namun, Andrew Wijaya tidak memahami maksud sebenarnya dari perkataannya itu, wajahnya kelam dan murung, dengan tenang ia berkata,”Sekarang Kamu tahu pacarmu ini adalah orang yang seperti apa. Apa Kamu menyesal?”
“Mengapa aku harus menyesal? Mau sekelam apapun masa lalumu, mau sesuram apapun masa lalumu, aku tidak peduli akan semua hal itu.”
“Lantas, apa yang Kamu pedulikan?”
Andrew Wijaya memperhatikan wanita itu.
Dalam bola mata pria itu terefleksikan kesungguhan wanita itu yang terpancar dari wajahnya yang elok.
“Aku hanya peduli pada kebahagiaanmu sekarang.”
Alice mengulurkan lengannya dan melingkarkannya pada pinggang ramping pria itu, bibir merahnya itu menciumi kedua belah bibir pria itu sebelum akhirnya turun dan menciumi dagunya.
“Aku juga peduli, apakah Kamu bahagia denganku?”, ciumannya pun berpindah ke jakun pria itu.
“Mulai hari ini sampai seterusnya, aku hanya ingin Kamu melewatinya dengan bahagia.”, ia berkata dengan lembut.
Jakun Andrew Wijaya sedikit bergidik, gemetar saat bersentuhan dengan bibir wanita itu.
Tiba-tiba saja muncul api hasrat di dalam hatinya, panas dan membara, ingin sekali ia membenamkan wanita itu ke dalam pelukannya.
Wanita ini sungguh seperti seorang wanita penggoda, wanita ini telah mengenggam hatinya dalam genggaman tangannya.
“Tetapi, kalau Kamu tidak bahagia, tentu aku tidak akan memaksamu untuk bersama-sama denganku”, Alice pun mendadak mundur.
Ia mengangkat kepalanya dan menatap pria itu dengan senyum riang.
Matanya yang seperti almond itu terlihat usil.
“Sampai kapan Kamu akan menjauhkan dirimu?”, Andrew Wijaya memegang erat pinggang belakangnya, sontak menarik wanita itu mendekat.”Sudah malam.”
Kedua orang itu semakin mendekat.
Wanita itu mengerti maksudnya.
Wajah Alice memanas, ”Jangan asal bicara, jelas-jelas hari masih siang dan cerah, terlebih lagi kita berada di luar….”
“Siapa bilang pada siang hari Kamu tidak boleh melakukan hal yang Kamu ingini?”, Andrew Wijaya menundukkan kepalanya dan mengiggit ringan telinga wanita itu, ”Aku akan mengantarmu pulang.”
“Pulang.. pulang ke rumah siapa?”, ia bertanya dengan lugu.
“Menurutmu?”, Andrew Wijaya tertawa kecil.
Si bodoh ini.
Hal romantis dapat ia katakan dengan mudah.
……
Setelah meninggalkan tempat ini, mobil Andrew Wijaya menuju ke villa dimana ia tinggal seorang diri.
Alice mendadak menjadi sedikit panik.
“Bagaimana kalau di lain hari saja?”, ia mencoba bertanya.
Andrew Wijaya yang sedang memegang kemudi, melihatnya sekilas dan dengan nada malas bertanya, ”Apa maksudmu?”
“Kita ke rumahmu di lain hari saja.”
“Apa yang akan Kamu lakukan di rumahku?”
Alice terdiam.
Laki-laki ini sungguh keterlaluan, ia sengaja mempermainkannya!
Ia mendengus pelan dan mengangkat dagunya, dengan suara lantang ia berkata,
”Ke rumahmu untuk…”
Mata hitam Andrew Wijaya menyiratkan dirinya terhibur, lalu ia menatap wanita itu dan bertanya, ”Ya? Untuk?”
Alice menyipitkan matanya, ”Memasak.”
Ia dengan riang berkata, ”Masakanku enak, aku akan ke rumahmu lain kali dan memasak makanan untukmu.”
“Jangan lain kali, hari ini saja.”
Andrew Wijaya pun menginjak pedal gas dan menaikkan kecepatan mobilnya.
Tidak lama setelah itu, mereka tiba di area luar villanya.
Sebelum ia masuk ke pintu gerbang, ia sudah melihat sebuah mobil hitam yang terparkir di luar villa.
Andrew Wijaya mengernyitkan dahinya.
Alice melihat ekspresinya yang tidak senang itu dan bertanya,”Ada apa? Mobil siapa itu? Apakah ada yang menunggumu?”
“Tidak masalah, aku akan mengurusnya.”
Pada saat Andrew Wijaya turun dari mobilnya,seorang paruh baya yang terlihat seperti kepala pelayan itu turun dari mobil hitam tersebut, ia melangkah maju dan berkata dengan penuh hormat, ”Tuan Muda Andrew, Tuan Besar ingin anda mengunjungi Kediaman Utama.”
Dengan acuh tak acuh, ia menaikkan sebelah alisnya, ”Ada urusan apa?”
Kepala pelayan itu menjawab, ”Tuan Besar sudah tahu mengenai kekasih baru anda. Beliau ingin anda dan kekasih anda untuk pulang ke rumah untuk makan malam.”。
Andrew Wijaya hanya bisa menyeringai.
Berita ini sungguh menyebar dengan sangat cepat.
Hanya saja, ia curiga bahwa tidak mungkin hanya mengundangnya makan malam saja.