
Pria itu melingkarkan lengannya ke pinggang langsing wanita itu, memaksanya untuk tidak beranjak pergi.
“Lukamu harus dibersihkan jika tidak akan kembali berdarah, jangan bergerak sembarangan.” Nada suara Andrew Wijaya dingin namun sangat tegas, keputusannya tidak dapat diganggu-gugat.”Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.”
Alice tidak dapat menolak lagi.
Sementara itu dari kursi belakang mobil Maybach hitam, Jennie Putri terus memperhatikan kedua orang itu, matanya memerah dan ia pun terbakar api kecemburuan. Betapa ia sangat ingin menerjang keluar dan mencabik-cabik nenek sihir itu!
Andrew Wijaya membukakan pintu mobil, tangannya diletakkan diatas pintu mobil itu,”Naiklah.”
Alice sangat puas dengan tindakannya yang bak Pria Ningrat, ia pun memujinya dan berkata,”Aku memberimu nilai plus untuk tindakanmu ini!”
Saat Alice masuk ke dalam mobil, ia baru menyadari bahwa Jennie Putri juga ada di dalam.
Ia hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh.
“Kak Andrew...”Jennie Putri sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi, ia memaksakan diri untuk tersenyum dan berkata pada Andrew Wijaya,”Apakah kamu akan membiarkan Nona ini dan aku berada di mobil yang sama?”
Andrew Wijaya memandangnya dengan acuh tak acuh,”Tidak.”
Hati Jennie Putri pun menjadi riang, ujung bibirnya terangkat membentuk suatu senyum yang lebar.”Begini saja, aku akan membantu memanggilkan taksi untuk nona ini.”
Andrew Wijaya tidak menghiraukan kata-katanya, ia malah mengambil handphonenya untuk menelepon dan berbicara secara singkat dengan seseorang.
Tak lama, dari dalam hotel datang mobil lain dan berhenti tepat disamping mobil mereka.
“Naiklah kemobil itu” Kata Andrew Wijaya kepada Jennie Putri.
Mata Jennie Putri pun membelalak kaget, ia tak percaya dengan semua ini. “Kak Andrew, apakah kamu menyuruhku untuk naik mobil lain?”
Andrew Wijaya menaikkan alisnya, heran,”Naik mobil manapun sama saja.”
Ia pun membukakan pintu agar wanita itu turun.
“Aku…” Wajah Jennie Putri pun memerah lalu menjadi pucat, dari rona wajah yang pucat kembali memerah, ia dengan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak meledakkan amarahnya disitu.
Saat Andrew Wijaya tidak melihat, ia pun menatap dengki Alice.
Tatapan matanya berbahaya bak bisa ular.
Setelah Jennie Putri turun, hanya tersisa 2 orang itu di kursi belakang mobil.
“Uh, Dingin…”Ujung hidungnya memerah. Ia bertanya kepada Andrew Wijaya,”Apakah kamu bisa mengecilkan pendinginnya?”
“Tentu saja dingin, bukankah kamu baru saja bermain hujan?”, Andrew Wijaya menatapnya dingin, lalu ia pun memberi perintah kepada supirnya untuk mematikan pendingin mobil.
“Barusan aku hanya memikirkanmu saja. Oh, bukan, aku sedang berpikir apakah kamu akan turun dari mobilmu atau tidak, aku sama sekali tidak merasa kedinginan.”
“Lepaskan bajumu yang basah itu.”
Alice mengedipkan kedua matanya, terheran, “Apa maksudmu? Kamu mau aku melepas bajuku? Aku tidak menyangka bahwa kamu ternyata adalah orang seperti ini.. Dasar gila.”
Bibir tipis Andrew Wijaya samar-samar terangkat,”Apa yang patut dilihat dari tubuhmu yang kecil begitu?”
Alice tidak dapat menerima perkataan tersebut.
Wanita itu membusungkan dadanya, ia ingin membuktikan bahwa tubuhnya juga berlekuk.”Bagian mana yang kecil? Katakan dengan jelas! Aku serius mencurigai bahwa matamu pasti rabun dekat, silinder, atau bahkan sudah rabun senja!”
Bentuk tubuh pemilik asli tubuh ini dan tubuh aslinya sendiri memang hampir mirip.
Meski bukan tipe cantik yang tiada tara, namun tetap menarik dipandang dan elok. Daerah yang seharusnya berisi, memang berisi dan daerah yang seharusnya ramping pun ramping.
Ia sangat percaya diri akan hal ini!
“Maksudku adalah tinggi badanmu. apa yang kamu pikirkan?”Melihat wajahnya yang menjadi gusar, Andrew Wijaya tertawa kecil.
Ia mengambil sehelai kemeja bersih dari kabinet dalam mobil dan melempar ke arah wanita itu, “Pakai saja dulu.”
“Kamu menyuruhku berganti baju disini?”,Alice memelototinya.
Bukan hanya dia saja di dalam mobil, supirnya pun ada.
“Aku tidak akan lihat.”Andrew Wijaya membalikkan tubuhnya dan memencet suatu tombol untuk menurunkan layar dan tirai yang memisahkan antara kursi penumpang belakang dengan kursi supir yang di depan.
“Kamu benar-benar tidak akan mengintip?” Alice dengan curiga bertanya.
“Apakah kamu justru malah ingin aku mengintip?”, ejek Andrew Wijaya yang berbicara membelakanginya.
“Tentu tidak.” Alice mendengus dan menatapi punggung tegap pria itu, segera ia melepaskan kaosnya yang basah.