
Dia maju ke depan, tangan besarnya menggenggam erat pinggang kecil wanita itu, menggendongnya dengan sekali angkat dan menurunkannya dengan pelan di tempat tidur.
Alice dengan cekatan berbalik dan bersembunyi di dalam selimut.
Dia menutup separuh wajahnya, katanya tanpa semangat: “Aku lelah, mau tidur dulu.”
Andrew Wijaya mengangkat alisnya dan menatapnya: “Sekarang sudah takut? Tadi siapa yang menantang?”
“Kak Andrew , aku salah.” Mulut Alice lebih manis dari madu, “Kak Andrew yang tampan, gentleman begitu perhatian, pasti tidak akan mempersulit gadis tidak bersalah, iya kan?”
“Tidak benar.” Andrew Wijaya tidak terbodohi, “Aku tidak gentleman, juga tidak perhatian.”
Dia naik ke tempat tidur, menekan wanita yang terpisahkan selimut itu, “Kamu juga bukan gadis tidak bersalah.”
Yang benar adalah siluman kecil.
Dia menunduk mncium keningnya yang tidak tertutupi selimut, terus menurun hingga kelopakmata dan hidungnya.
Ciumannya sangat ringan, dia tahu wanita itu sangat tidak suka rasa geli, sehingga dia sengaja berbuat demikian.
Seperti dugaan, Alice tidak tahan dan menggeliat-geliat, selimutnya tersingkap secara bertahap.
“Jangan ribut lagi.” Andrew Wijaya memerintah dengan suara serak.
Pria itu menekan dengan pelan lutut wanita itu, mencium bibir merah mudanya dengan kuat.
Angin malam berhembus meniup tirainya yang menjuntai ke lantai, menggulung membentuk sebuah lekuk yang indah.
Suhu di kamar itu seolah naik perlahan, nafasnya tidak teratur dan cepat.
Mata Alice mengabur, kedua pipinya merona, seperti mabuk setelah minum, menunjukkan pesonanya.
“Anak pintar, kalau sakit, katakan.” Andrew Wijaya mengulurkan tangan melepas jubah mandinya.
“Tunggu!” Alice menahan tangannya, menghentikan gerakannya.
“Hm?”
“Aku ingin mendengarmu memanggilku sayang.”
Andrew Wijaya tidak berdaya, menekan bibir wanita itu, lalu berkata pelan: “Sayang.”
Alice tertawa puas.
Dia segera melanjutkan, “Andrew, ada sebuah masalah penting yang harus kuberitahukan padamu.”
Andrew Wijaya sekuat tenaga menahan nafsunya yang memuncak, berusaha menjawab dengan sabar: “Katakan.”
Alice mengerjapkan matanya dan berkata tanpa merasa bersalah: “Saat di rumah sakit aku pergi ke kamar mandi sekali, lalu meminta produk wanita.”
“Jadi?” Andrew Wijaya tidak langsung memahami maksudnya.
Alice menjelaskan: “Yaitu pembalut.”
Tiba-tiba Andrew Wijaya mengerti-----
“Gadis ini, penuh trik jahat.”
Pria itu menyipitkan mata hitamnya pelan, dengan tangannya mengapit pinggang wanita itu, membalik badan wanita itu, dengan ringan menepuk pinggulnya, “Sengaja menggodaku, hah?”
“Ah.... sakit!” Alice mengeluh kesakitan.
“Aku tidak menggunakan tenaga, apanya yang sakit?’ Andrew Wijaya menunduk, menggigit telinganya, sekaligus mengambil kesempatan membenamkan dirinya ke leher wanita itu dan menggeseknya.
“Kamu tidak mungkin sebuas ini kan?” Alice terkejut, “Aku sedang menstruasi, jangan-jangan kamu mau memaksaku dengan kejam?”
“Aku harus memujimu pintar atau polos?”
Andrew Wijaya mengangkat kepala, menatap wajah mungilnya yang cantik, “Tidak berbuat hal itu, kita masih ada banyak hal yang dapat dikerjakan.”
Setealah berkata begitu, dia tidak lagi berbasa-basi dengannya.
Wanita ini sungguh cerdik, pria itu tidak perlu tindakan nyata untuk menghadapinya, wanita itu masih mengira pria itu tidak seberbahaya kelihatannya.
Malam perlahan mulai larut.
Bulan sabit tampak di puncak pepohonan, dengan malu bersembunyi di awan yang gelap.
Alice telah memohon ampun semalaman.
……
Keesokan harinya, matahari telah tinggi.
Alice bangun dengan linglung, dia merasa seluruh tubuhnya pegal dan lemas.
Uh....
Dia akhirnya memahami, Andrew Wijaya memang seekor serigala!
Serigala yang buas!
Sudah jelas tidak dapat melakukan hal itu, tetapi dia masih dapat mengeluarkan berbagai macam trik.
Konon ini pertama kalinya memiliki pacar, wanita itu tidak dapat mempercayainya!
“Sudah bangun?”
Di luar kamar, pria itu melangkah masuk dengan kakinya yang jenjang.
Dia mengenakan pakaian kasual, tampak segar, berbeda sepenuhnya dengan wanita itu yang tampak lemah.