ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 49



Wajah tampan Andrew Wijaya dingin tanpa kehangatan, mata hitamnya dingin.


Diam-diam laki-laki pengantar itu menggigil, dia lekas pergi setelah selesai mengantar. Jelas-jelas dirinya memuji, mengapa pria terhormat itu tampaknya tidak senang?


Tidak memahami orang-orang kaya ini.


“Ruang tamunya penuh.” Alice mengeluh, besok dia akan membawa ribuan bunga ini untuk dijual di tokonya.


Jika disimpan di apartemen sungguh merepotkan!


“Kamu istirahatlah dulu, aku menelepon sebentar.” Andrew Wijaya membalas dengan datar, lalu berbalik berjalan keluar apartemen.


Di luar dirinya membuat sebuah panggilan, menginstruksikan beberapa hal.


Tidak sampai lima belas menit, tujuh sampai delapan orang pengawal datang.


“Apa yang terjadi?” Alice terkejut.


“Tidak ada. Kamu cukup duduk dan minum kopi.” Andrew Wijaya menemaninya duduk di atas sofa, sekaligus menyodorkan segelas kopi yang baru dibeli.


“Apa yang mereka lakukan?” Alice kebingungan.


Delapan pengawal berpakaian hitam itu bergerak cepat, dengan cepat mereka memindahkan ribuan kuntum mawar itu.


“Oh... ternyata kamu yang memanggil mereka membereskan bunga.” Alice seketika memahaminya.


Dia baru saja hendak berbicara, begini juga baik, dia tidak perlu kesulitan untuk membereskannya.


Tetapi dia tidak menyangka, sedetik kemudian, beberapa pengawal berbaju hitam lain masuk membawa beberapa ikat besar bunga lily merah muda memasuki apartemen.


Mereka dengan terlatih menyusun bunga-bunga itu dengan rapi, di lorong, di rak televisi, di meja, semua tempta yang kosong diisi dengan bunga lily merah muda itu.


 


 


Alice menatapnya tercengang....


“Andrew, kamu yang membeli semua bunga lily ini?”


“Bukannya kamu suka warna merah muda?” Andrew Wijaya merenggangkan kaki jenjangnya, dengan malas ia bersandar pada sofa, bibir tipisnya tersenyum puas.


Sekarang tampak jauh lebih baik.


“Hatchii!” Alice bersin, dia tidak tahan melihat warna merah muda yang terlalu banyak.


Apa dua pria ini sudah gila?


Berlomba siapa yang memberi bunga terbanyak?


“Flu?” Andrew Wijaya melepas jasnya dan di sampirkan ke atas bahu wanita itu.


Alice bergumam: “Kukira dia kejam dan tidak berperasaan, tak disangka ternyata pencemburu.”


“Hah?” Andrew Wijaya menyipitkan mata, “Sedang sembunyi-sembunyi mengatakan apa?”


“Aku mana ada sembunyi-sembunyi!” Alice menarik lengannya, menariknya berdiri, “Lilynya terlalu banyak, aku jadi alergi, ayo kita keluar.”


Andrew Wijaya mengangkat alis: “Lalu kamu tidak alergi pada bunga dari Eric?”


Alice ingin tertawa, namun menahan dirinya, lalu menjawab dengan serius: “Benar, tadi saat mawar-mawar itu ada di dalam, aku tidak bersin.”


“Kalau begitu aku harus menyuruh orang untuk memindahkan kembali bunga mawarnya?” Andrew Wijaya menyipitkan mata hitamnya, aura yang berbahaya seakan menyelimutinya, seolah jika dia berani mengangguk setuju maka habislah dia.


Alice sepenuhnya memahami keadaan, lalu dengan buru-buru menggeleng: “Tidak perlu, aku memiliki sebuah jalan keluar yang lebih baik.”


Andrew Wijaya menatapnya dingin : “Katakan.”


“Aku akan mengemas beberapa barang keperluanku dan pindah ke villa untuk tinggal denganmu, biarkan saja bunga-bunga ini, bagaimana?”


Andrew Wijaya sangat puas dengan jawaban ini.


Dia mengangguk dengan pelan, lalu memuji: “Bagus!”


Alice memasang wajah mengejek padanya: “Lain kali aku tidak akan percaya lagi jika kamu bilang tidak marah!”


Andrew Wijaya tidak mau mengakui : “Kapan aku marah?”


Dia hanya membereskan barang yang menurutnya mengganggu pemandangan.


……


Alice membawa koper kecil, menaiki mobil Andrew Wijaya.


Mobil itu bergerak meninggalkan kompleks, di depan terlihat Eric.


Eric baru saja selesai memarkirkan mobilnya, menahan mereka, bertanya dari luar jendela mobil: “Alice, bunga yang kuberikan sudah diterima?”


Alice mengangkat alis, berpaling menatap pria di kursi pengemudi.


Raut wajah Andrew Wijaya tanpa ekspresi, dingin tanpa kata.