
Sudut bibir Alice membentuk senyum kecil, pikiran nakalnya muncul, dia berbalik dan berkata pada Eric: “Sudah diterima, tapi, kamu mungkin tidak tahu aku membuka toko bunga. Jadi jika kamu merasa uangmu yang terlalu banyak itu merepotkan, berkunjung saja ke tokoku.”
“Baik. Aku tiap hari akan pergi sendiri untuk membeli bunga.” Eric sengaja mengabaikan Andrew Wijaya dan hanya melihat Alice, katanya “Kapan biasanya kamu berada di toko? Apakah aku berkesempatan memiliki kehormatan untuk bertemu denganmu?”
Alice membalas : “Biasanya aku pergi hanya dua tiga kali dalam seminggu, sore...”
Belum sempat dirinya menyebutkan jam, pria di sampingnya berkata dengan dingin---
“Toko bunganya sudah kubeli.”
Mata Alice menatapnya: “Kapan kamu membelinya?”
“Sekarang.”
Andrew Wijaya menatapnya sekilas, lalu tanpa terburu-buru mengambil telepon genggam dan menelepon, menginstruksi bawahannya, “Periksa sebuah toko bunga, atas nama Alice. Beli dengan harga tiga kali harga pasar, kamu aturlah orang untuk mengurusnya.”
Eric tidak mau kalah: “Alice, aku akan membeli dengan harga lima kali lipat, kubeli sebagai hadiah untukmu!”
Alice:“……”
Dua orang ini, toko bunga itu pada dasarnya adalah miliknya.
Mengapa harus dibeli sebagai hadiah untuknya?
Logika macam apa itu?
Andrew Wijaya menatap dingin Eric sekilas, lalu berbicara pada bawahannya yang masih terhubung di telepon: “Sekalian beli semua toko di sebelah toko bunga, beli semua toko di jalan itu, berapapun harganya.”
Eric tersedak mendengarnya.
Dalam hal menghabiskan uang, dia memang tidak sepadan dengan Andrew Wijaya, bahkan tidak mencapai seper sepuluhnya.
Kelurga Wijaya memiliki kekayaan dan juga pengaruh, dia seorang jenius di dunia bisnis, ternyata reputasinya sebagai dewa pemegang saham bukanlah reputasi belaka.
Dia tidak berdaya untuk bersaing dengannya.
Tetapi, dia juga tidak akan menyerah dengan mudah!
Eric melewati topik itu, lalu bertanya dengan hangat pada Alice: “Aku ingat dulu kamu paling suka dengan Grup TW, baru-baru ini mereka akan mengadakan konser, tiketnya sulit didapatkan. Aku punya tiket VIP, kamu mau pergi menonton?
“Kamu tahu aku menyukai Grup TW?” Alice sedikit terkejut.。
Tetapi dulunya Eric tidak pernah memperhatikannya, tidak mungkin mnegetahui hal kecil seperti itu.
“Dua hari ini aku bertanya pada teman lamamu.” Eric berkata dengan jujur, “Dulu aku telah mengabaikanmu, sekarang aku akan menggantinya berkali-kali lipat.”
“Tidak perlu.” Alice menggeleng.
Itu adalah kesukaannya.
Sama sekali bukan kesukaannya.
Tidak diragukan.
“Aku akan menyimpan tiketnya untukmu, kalau kamu ingin pergi, telepon aku kapan saja, ya?” Eric selesai bicara, dia tahu batasan dirinya dan tidak lagi menghalangi, dia berbalik dan pergi.
Alice dengan gamblang menarik kembali pandangannya.
Dia memutar matanya dan melihat Andrew Wijaya kembali sedang menelpon.
Dia dengan cepat meremas tangan pria itu: “Jangan! Aku tidak suka Grup TW itu! kamu jangan menghamburkan uang membeli manajemen grup itu atau apa....”
Andrew Wijaya tersenyum: “Kamu kira uangku banyak sekali sampai tanganku kepanasan? Aku sedang menelpon orang untuk menyiapkan keperluan harianmu, kamu akan pindah untuk tinggal denganku, tentu butuh beberapa persiapan.”
“Baguslah kalau begitu....”
Alice bernafas lega, lalu melengkungkan bibirnya dan tersenyum “Akan tetapi, Tuan Andrew yang kaya dan berkuasa, menghamburkan uang, tampangnya saat cemburu sangat tampan.”
Andrew Wijaya bergumam dengan suara rendah: “Kamu lebih baik segera membereskan hubunganmu yang tidak jelas itu, jika aku yang turun tangan, takutnya akan terjadi pertumpahan darah.”
Alice menyatakan ketidak bersalahannnya: “Hal ini terjadi dengan sendirinya, aku bisa apa? Palingan aku juga akan mengabaikan Eric, aku tidak angkat teleponnya, tidak membalas pesannya, begini cukup kan?”
“Tidak cukup.”
Andrew Wijaya langsung meraih telepon genggam wanita itu, gerakannya cepat, lalu meblokir nomor telepon dan Wechat Eric.
“Kalau begitu aku juga ingin melihat telepon genggammu!” Alice mencondongkan badannya, merebut telepon genggam pria itu.
Andrew Wijaya menangkap tubuhnya, bibirnya yang tipis meluncur di lehernya, mengancamnya dengan suara rendah: “Kamu ingin di pinggir jalan, di atas mobil memeragakan adegan yang tidak boleh dilihat anak-anak?