ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 5



"Cepat lepaskan tanganmu. Aku peringatkan, kekasih kecilmu kesini.” Alice merasa kesakitan dan tidak senang, dan menatapnya, "kamu percaya atau tidak, aku bisa membuat kekasih kecilmu menangis tersedu-sedu?"


Meskipun Eric tidak percaya, dia melepaskannya.


Dia menekan suaranya dan memerintahkan, "Kamu cepat pulang kerumah."


Alice tidak mendengarkannya: "Tidak, aku masih ada urusan mencarinya --"


Dia menunjuk seorang pria tampan yang berjalan ke teras untuk merokok.


Wajah Eric tiba-tiba berubah, menggigit giginya dan memperingatkan dengan suara rendah: "Alice, apakah kamu masih belum cukup membuat keributan? Pria itu, apakah kamu tahu dia itu siapa? Jauhi dia


"Siapa dia?"


Alice penasaran, dia masih belum memiliki informasi tentang orang itu.


"Kamu tidak perlu tahu siapa dia. Yang pasti, menjauhlah darinya. Dia bukan orang yang bisa kamu ganggu!"


“Tidak bisa untuk kuganggu? Jika kamu mengatakan itu, aku tidak percaya.” Alice malah semakin tertarik padanya.


Eric melihat matanya yang bersemangat dan tampak cerah, didadanya terasa sesak,


Dia menarik dasinya dengan kesal: "Aku akan meningkatkan tunjangan perceraianmu sebesar sebelas milyar, sekarang kamu cepat pulang."


Alice menggelengkan kepalanya: "Aku masih belum bersenang-senang."


Eric tidak sabar dan menariknya, dan mencoba memaksanya pergi. Rose di sana sudah mendekat dan dengan takut-takut memanggil: "Kak Chris."


Alice mengangkat alisnya, melihat bunga putih kecil yang datang saat itu.


Wajah Rose tidak enak dilihat, tetapi berpura-pura baik.


Tingginya kurang dari 1,6 meter, berdiri di samping Eric, mungil dan lemah.


"Kak Chris, ini ..." Rose memperhatikan dengan cermat, menatap mata Alice, melihati Alice seakan-akan ingin memukulnya.


"Kamu tidak perlu khawatir,  lakukan pekerjaanmu." Eric mengatakannya dengan lembut, "Aku akan menemuimu setelah aku menyelesaikan masalah di sini."


Alice berdehem dua kali, tidak menyembunyikan hal itu.


Rose mendengar deheman suara  Alice itu, menjadi pucat dan matanya pun mulai memerah, berbisik kepada Eric: "Kak Chris, maafkan aku, aku ..."


"Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Jangan minta maaf." Eric berkata dengan lembut padanya


Alice tidak tahanmendengarkannya lagi. Dia membuka mulutnya dengan dingin: "Benarkah dia tidak melakukan kesalahan? Apakah tidak salah merayu pria yang sudah menikah dan menjadi pelakor?


Eric menoleh dan memelototinya dengan dingin: "jangan sembarangan bicara, aku dan Rose tidak ada hubungan apa-apa. Dia bukan pelakor.


Kalaupun mau, dia akan menunggu sampai perceraian.


Rose  itu rapuh. Dia tentunya ingin melindunginya dan tidak membiarkannya mendapat reputasi buruk.


Alice tidak bisa menahan diri untuk tidak bertepuk tangan dan memberikan tepukan kepada mereka: "Hebat, hebat. Jadi menurutmu, selama Kamu tidak melakukan langkah terakhir itu, itu tidak termasuk merusak hubungan. Aku mengerti sekarang, Aku akan mengikuti standarmu. "


Alice adalah seorang yang bergerak cepat.


Kemudian dia pergi dan langsung menuju teras besar.


Teras ini sangat luas, dengan sofa putih berbentuk L dan banyak tanaman hijau.


Pria jangkung dan lurus, berdiri di depan pagar, dengan sebatang rokok di antara jari-jarinya yang ramping, ujung rokoknya berkedip-kedip.


Dilihat dari bayangannya, terlihar seorang pria yang luar biasa hebatnya.


Alice menginjak sepatu hak tinggi dan berjalan mendekat. Sambil berjalan dia sambil memutar otaknya mencari informasi tentang pria tersebut——


Andrew Wijaya, 29 tahun, tinggi 187cm.


Putra tidak sah dari keluarga Bo, orang terkaya di Kota Jakarta.


Pada usia 14 tahun, dia ditemukan oleh keluarga Bo, tetapi dia tidak menerima harta apa pun dari keluarga Bo. Mengandalkan kecerdasannya yang luar biasa dan keberaniannya yang besar, ia membuat kekuasaannya sendiri.


Dia bukan hanya seorang jenius tetapi juga seorang gangster.


Kehidupan pribadi Andrew Wijaya sangat sederhana dan misterius. Tidak ada wanita yang dekat dengannya. Dikatakan bahwa dia mempercayai wanita.