
“Nyonya, Tuan sudah pulang, Anda diminta turun ke bawah.” Pembantunya mengetuk pintu kamar dan masuk menyampaikan pesan.
Alice yang sedang duduk di depan meja rias melambai dengan malas: “Suruh dia menunggu.”
Pembantunya terkejut : “Meminta Tuan menunggu? Ini takutnya kurang baik....”
Perlu diketahui, dahulu jika mendengar kepulangan tuan, nyonya akan bergegas turun ke lantai bawah, dan menyambut ke pintu dengan patuh.
Ada apa hari ini?
Alice tidak menghiraukan dan menyisir rambutnya: “Sudah, kamu turun saja, menyuruhnya menunggu tidak akan menyebabkannya mati.”
Pembantunya sangat terkejut, itu bukanlah perkataan yang biasanya dikatakan oleh nyonya yang lembut dan anggun itu.
Pembantu itu tidak berani berkata-kata lagi, lalu meninggalkan ruangan.
Alice berkaca sembari menggeleng tidak suka : “Pakaian apa ini? Dandananku juga tampak tua.”
Alice melepaskan rok hitam konservatif semata kakinya, lalu menuju ke kamar mandi untuk menghapus riasannya, dan mandi.
Air panas membasahi kulitnya, terasa sangat nyaman.
Alice menengadah, garis rahangnya yang indah terpantul di pintu kaca yang berembun.
Pemilik tubuh itu sesungguhnya sangatlah cantik, hanya saja dia begitu terikat, demi menyenangkan suaminya, dia berusaha menjadi istri yang patuh dan anggun.
Dia justru tidak mengetahui bahwa pria memiliki sifat buruk yang sudah mengakar, dimana jika kamu semakin patuh, dia aka semakin merasa kamu tidak menarik.
Bagaimana tidak, setahun sudah pernikahan mereka, pria itu tidak pernah menyentuhnya sekalipun.
Wanita itu menderita depresi, malahan suaminya tidak mengetahui hal itu.
Dia overdosis dan meninggal dalam bak mandi pun tidak ada yang tahu.
Sungguh wanita yang malang....
Alice menghela nafas.
Beruntungnya karena keluhan dan obsesinya yang kuat, Anderson mendengarnya, lalu membantu mewujudkan mimpinya.
Keinginan hati wanita itu sangat sederhana, hanya ingin suaminya Eric menyesal, dan terlebih ingin merasakan cinta yang sesungguhnya, dilindungi, dan dicintai.
Rambutnya sangat bagus, tidak diwarnai, hitam seperti air terjun, namun karena biasanya dia menyanggul rambutnya dengan model yang dewasa, penampilannya menjadi kurang menarik.
Wajah putihnya yang oval, walaupun tidak cantik, tetapi halus, dengan bibir yang merona dan hidung yang indah, sepasang matanya yang seperti almond berkilau dengan dibingkai garis mata yang halus, sanggup memancarkan pesona.
Alice sedikitpun tidak menghiraukan suaminya yang menunggu di bawah, perlahan dia memoleskan riasan tipis. Dia membiarkan rambut sebahunya tergerai, lalu perlahan melangkah turun.
Di lantai satu, di ruang tamu bergaya eropa.
Seorang pria berpakaian jas rapi berdiri di hadapan jendela bergaya Prancis, di antara jarinya terselip sebatang rokok, dia mengetuk abu di rokoknya dengan tidak sabar.
Alice perlahan melangkah ke belakangnya, dengan sukarela berkata : “Kamu sudah pulang.”
Eric membalikkan badan, menyapukan pandangan ke istrinya dari ujung kepala hingga ke kaki, mengerutkan keningnya : “Kamu turun dengan pakaian seperti ini?”
“Memangnya kenapa jika aku begini?” Alice menundukkan kepala memandang dirinya sendiri, jubah mandi putihnya membungkus ketat, tidak menonjolkan bagian yang seharusnya tidak ditonjolkan.
“Sebagai Nyonya Fu, etika dasarpun kamu tidak paham? Memakai jubah mandi keluar?” Eric mencercanya dengan
“Di rumah sendiri tidak boleh memakai jubah mandi?” Alice merasa suaminya tidak waras.
Istri muda yang dicintainya di luar sana, tentu saja tidak paham apa itu etika seorang wanita.
“Sudahlah, tidak ada yang perlu kukatakan lagi.” Eric merasa malas untuk berdebat dengannya, lalu menunjuk dokumen di atas meja, “Dokumen perceraian, kamu tanda tangani.”
Alice melengkungkan bibrnya dan tersenyum.
Ck.
Buru-buru sekali.
Dia mengenal perempuan di klub malam ini baru berapa lama? Dua bulan? Lalu bercerai demi perempuan itu?
“Kalau kamu tidak mau tanda tangan, aku akan menempuh jalur hukum.” Eric melihatnya tidak kunjung menjawab, mengira dia akan memohonnya untuk kembali, dengan cepat menegaskan, : “Keluarga Fu dan Keluarga Qu, kedua belah pihak akan aku hadapi, aku akan mengatakan kita sudah lama menikah namun tidak kunjung memiliki anak.”
Pada mulainya pernikahan mereka memang didasari bisnis, di lain sisi tentu saja demi anak laki-laki sebagi pewaris.
Karena Alice tidak dapat mengandung, perceraian itu menjadi dibenarkan.
“Aku tidak dapat mengandung? Apakah aku aseksual?” Alice mendengarnya dan tertawa marah.
Seorang pria dalam sekejap menjadi begitu tidak tahu malu, sungguh membuat mata orang terbuka.