ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 11



Andrew Wijaya menatapnya dalam diam.


Wanita ini sudah aneh sejak dia muncul.


Kecelakaan di tempat parkir, hal yang dilakukannya dengan sengaja di klub malam, dengan berani menahan tusukan pisau dimobil, dan keadaan aneh sekarang ini, tidak bisa membuat orang tidak  mencurigainya.


Alice sedikit terkejut ketika dia melihat tatapannya yang dalam.


Orang ini terlalu pintar, sangat sulit untuk membodohinya...


Jika dia tidak jujur, tidak mungkin dia bisa mendekatinya, apalagi mendapatkan hatinya.


"AKU……"


Dia menggigit bibir bawahnya, dan berkata dengan malu, "Aku katakan  saja yang sebenarnya padamu, aku merasa tidak nyaman sekarang. Ini mungkin karena pengaruh dari obat semacam itu ..."


Dia mengangkat wajahnya dan menatapnya dengan memohon, "Kamu cepat pergi, aku tidak ingin kelihatan buruk di depanmu."


Andrew Wijaya menatapnya dengan dingin, dengan beberapa pertanyaan dihatinya.


Alice dengan kejam, berbalik ke dapur dan mengambil pisau buah, lalu berjalan ke kamar mandi.


Dia mengisi bak mandi dengan air dingin dan berbaring tanpa alas kaki.


Suhu air yang dingin menahannya untuk sementara waktu, dan keanehan tubuhnya perlahan memudar.


Tetapi rangsangan dari air dingin itu berlalu dengan cepat, dan dia merasakan gelombang panas yang lain muncul, tidak sabaran dan memalukan.


Dia melihat sekilas ke pintu kamar mandi, ditempat pria itu berdiri dan memperhatikannya.


Dia mengertakkan gigi, mengenggamkan pisau buah di tangannya, dan mengiris pahanya dengan kuat!


"Kamu gila!"


Pria itu berteriak dengan dingin dan melangkah kearahnya, lalu mengambil pisau dari tangannya.


"Tapi aku merasa tidak nyaman..."


Alice merintih, air mata mengalir dari sudut matanya.


Andrew Wijaya membungkuk, membawanya keluar dari bak mandi, dan membungkusnya dengan handuk bersih.


Dia membawanya ke atas kasur dan meletakkannya di atas kasur.


“Aku akan meminta dokter datang menyuntikmu dengan obat penenang.” Andrew Wijaya melepaskannya, tetapi dia mengangkat tangannya dan memeluk lehernya.


Dia berpikir kalau dia ingin mengambil kesempatan untuk mencium dan merayunya, menunggunya dengan dingin unhtuk menunjukkan niat hatinya.


Dia masih bisa mengandalkan aroma mawar untuk menyelesaikannya.


Jika dia yang terkena racun, takutnya itu akan menyulitkan.


Andrew Wijaya sedikit terkejut, menyipitkan mata hitamnya, dan bertanya langsung: "Apakah ada seseorang mengirimmu untuk mendekatiku?"


Bahkan tidak segan-segan menggunakan hal seperti ini.


Alice melepaskannya dan menggelengkan kepalanya: "Kamu berpikir terlalu banyak. Siapa aku tentunya dapat dengan mudah kamu ketahui."


Andrew Wijaya terdiam.


Dia memang telah melakukan penyelidikan tentang dirinya.


Dia adalah menantu dari keluarga Fu, salah satu dari empat keluarga besar di Jakarta, istri Eric.


Eric baru-baru ini tergoda oleh seorang pelayan di klub malam.


Mendengar kalau mereka telah mencari firma hukum untuk melakukan perceraian, dan tampaknya dia akan meninggalkannya.


Adapun keluarga Alice, meskipun keluarga Qu dapat dianggap sebagai keluarga kaya, keluarga kacau, ayah Qu seorang playboy, dan memiliki banyak anak.


Alice tidak disukai, dan dijadikan sebagai bidak catur untuk pernikahan.


Dalam pengalamannya yang singkat selama dua puluh tiga tahun, baik bakat maupun studinya, atau menikah dan mengurus rumah tangganya, tidak ada satu hal pun yang mencurigakan tentang dirinya.


"Aku tidak peduli apakah Kamu ingin menentang Eric atau tidak, tapi menggunakanku sebagai alat untuk memprovokasi dia, aku harap masalah ini cukup sampai disini."


Andrew Wijaya menarik kembali tatapannya dan berkata dengan suara dingin, "Aku tidak akan mempermasalahkan ini mengingat kamupernah menahan tusukan pisau untukku. Aku akan mengirim dokter khusus untuk memberimu obat penenang dan bertanggung jawab atas hal ini sampai seluruh racun ditubuhmu hilang."


Setelah selesai berbicara, dia berbalik dan pergi.


Punggungnya yang tinggi dan panjang terlihat sangat dingin dan kejam.


Alice tidak menahannya, karena hari-hari yang akan datang masih panjang, cepat atau lambat dia akan dapat mencairkan hatinya yang teguh dan dingin itu.


Andrew Wijaya berjalan ke pintu masuk dan hendak membuka pintu dan pergi, kebetulan sekali, begitu pintu terbuka, ada seseorang diluar hendak menekan bel pintu.


Pria di luar melihat Andrew Wijaya dan terkejut.


“Andrew Wijaya? Kamu… kenapa kamu ada di sini?” Eric berkata dengan dingin.


Ini adalah apartemen yang dia berikan kepada Alice sebagai tkompensasi perceraian mereka. Mungkinkah Alice dan Andrew Wijaya telah... memakaikan topi hijau untuknya?!