
Semua yang hadir pun menjadi riuh.
Wanita ini adalah wanita pertama yang digandeng tuan muda Andrew, bahkan dia sendiri yang mengumumkannya kalau dia adalah pacarnya!
Jika dibandingkan dengan turun hujan berwarna merah dari langit, hal ini bahkan lebih menakjubkan!
Semua yang hadir pun menjadi penasaran dengan sosok Alice ini.
Tatapan mereka tertuju pada Alice, namun sepertinya ia tidak peduli dan makan dan minum seperti biasa saja.
Setelah Andrew Wijaya mencuci tangannya, ia membantu wanita itu mengupaskan udang dan menaruhnya di mangkuk wanita itu,”Aku belum berpengalaman dalam memanjakan seseorang, maka dari itu, aku akan berlatih dulu.”
Alice pun tertawa, ia memujinya dan berkata,”Aku suka, kok”
Bola mata orang-orang yang duduk di meja itu seperti akan copot.
Orang yang sedingin tuan muda Andrew itu mau mengupaskan udang untuk seorang wanita?
Oh my God!
Apakah mereka sedang berhalusinasi?
Semua yang berada di sana adalah teman akrab Andrew Wijaya, satu-satunya wanita yang hadir disana hanyalah kakak perempuan Andrew Wijaya.
Dari semua saudara-saudaranya yang seayah namun berbeda ibu itu, hanya Andrew Wijaya dan Andrea Wijaya yang memiliki hubungan baik.
Andrea Wijaya sungguh sangat menyayangi adiknya ini.
Pada saat ia melihat Alice masuk ke dalam ruangan itu, ia langsung menaikkan alisnya.
Orang lain mungkin tidak mengenal Alice, namun ia mengenalnya.
Pada pesta pernikahan antara putra keluarga Fu dan putri keluarga Qu, ia pernah melihat Alice.
“Andrew, keluarlah sebentar, aku mau berbicara denganmu.” Andrea Wijaya lalu berdiri.
Andrew Wijaya menatapnya, lalu mengalihkan pandangannya pada Alice dan berkata, ”Makan dengan perlahan saja, jangan hiraukan perkataan orang-orang bodoh ini.”
Teman-temannya pun sambil tertawa ria, berkata,”Kakak ipar, kami tidak berani berkata yang aneh-aneh, tapi kami akan memberitahumu romansa masa lalu Kak Andrew.”
Alice pun tersenyum agar Andrew Wijaya tidak kuatir padanya.
Ia malah menyukai sekelompok teman-teman Andrew Wijaya ini. Walaupun sikap dan perilaku mereka liar, namun mereka setia kawan.
Jika tidak demikian, orang dengan karakter yang menyusahkan seperti Andrew Wijaya ini tidak mungkin menganggap mereka layaknya saudara.
Andrea Wijaya dengan suara kecil berkata,”Andrew, apakah kau tahu Alice itu wanita yang seperti apa?”
Andrew Wijaya mengambil sebungkus rokok dari sakunya, ia menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya, dengan datar ia berkata,”Mantan istri Christian Fu. Kenapa? Apa ada masalah?”
“Mantan istri? Dia sudah bercerai?”, Andrea Wijaya menjadi kaget, lalu cepat-cepat menimpali,”Meskipun dia sudah bercerai, Kakek sudah pasti tidak akan menyetujui hubunganmu dengan wanita yang sudah pernah menikah.”
Andrew Wijaya mengeluarkan asap rokok dari mulutnya, dengan malas ia menjawab, ”Hubunganku dengan wanita manapun, tidak perlu persetujuan orang lain.”
Andrea Wijaya mengernyitkan dahinya, ”Andrew, dengarkan nasihatku, carilah pacar yang lebih muda dan lebih bersih darinya. Alice tidak cocok untukmu.”
“Lebih muda? Lebih bersih?”
Bibir Andrew Wijaya pun terangkat membentuk suatu senyum, terlihat suatu aura intimidasi pada wajahnya yang tampan dan menawan itu,”Orang yang kupilih menjadi pacarku, tentu adalah pilihan yang terbaik.”
Melihat Andrea Wijaya yang sepertinya masih akan membujuknya, ia mengangkat tangannya untuk menghentikannya, ”Sudah cukup, aku tidak ingin mendengar perkataan yang merendahkan pacarku dari mulutmu. Hanya sekali ini saja. Tolong jangan diulangi kembali.”
Ia pun mematikan dan membuang puntung rokok yang ia pegang itu, ia membalikkan tubuhnya dan bergegas kembali ke ruangan tadi.
Ketika Alice melihatnya kembali ke tempat duduknya, ia mencium bau asap rokok dari pakaian pria itu, ”Apakah kau keluar untuk merokok?”
Andrew Wijaya pun mengiyakannya, ”Apakah kamu sensitif dengan bau asap rokok?”
Alice menggeleng, ”Tidak juga, tapi kau nampak sedikit tidak senang.”
Andrew Wijaya tidak menampik perkataannya, ia bertanya, ”Apa kamu sudah kenyang?”
Alice pun menganggukan kepalanya.
Andrew Wijaya lalu memegang tangannya dan membuatnya berdiri.
Orang-orang yang berada di sana pun langsung berkata,”Lho, Kak Andrew dan Kakak ipar sudah mau pergi? Kenapa buru-buru sekali?”
Tatapan Andrew Wijaya menjadi menyeramkan, ia melihat-lihat semua orang yang hadir disitu, perlahan-lahan, ia membuka mulutnya, ”Hari ini, aku akan mengatakan hal ini sekali saja, sampaikanlah pada yang lain nanti. Untuk kedepannya, tidak ada yang boleh mengatakan apapun tentang Alice, siapapun yang berani diam-diam berbicara yang buruk tentangnya, mereka akan menerima ganjarannya!”
Nada bicaranya tegas, auranya menakutkan
Begitu para sahabatnya mendengarnya, mereka sudah paham bahwa ia tidak mungkin main-main. Serentak mereka berkata,”Ya!”
Walaupun Alice tidak mengerti apa yang barusan terjadi, tetapi setelah mendengar pernyataannya barusan, hatinya tersentuh. Ia pun menggenggam erat tangan Andrew Wijaya.
Andrew Wijaya mengalihkan pandangannya pada wanita itu,”Menjadi pacarku berarti siap menghadapi hal-hal sulit nanti, mengerti?”
Alice tersenyum manis dan berkata,”Yes,sir!”