ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 35



Pria itu menggelitik Alice terus-menerus, hingga membuatnya menggeliat dalam pelukan pria itu, ”Lepaskan tanganmu, kalau tidak aku akan menggigitmu!”


“Gigitlah.”


Andrew Wijaya pun mengulurkan lengannya, melipat ujung kerah kemeja putihnya sehingga memperlihatkan lengan bawahnya yang kekar, lalu ia pun menaruh lengannya di dekat bibir wanita itu.


Alice sedikit pun tidak ragu-ragu.


Ia membuka mulutnya dan menggigitnya.


Otot lelaki itu sangat keras, ia malah merasa lelah menggigitnya terus karena pria itu tidak menunjukkan rasa sakit sama sekali.


“Terserah deh…” Alice pun menyerah.”Hari ini aku akan memaafkanmu, suatu hari nanti, kamu pasti akan memanggilku ‘sayang’.”


Ia mengelus bekas gigitan giginya pada lengan pria itu, sambal bergumam berkata, ”Aku akan menandaimu dulu, ini bukti bahwa kamu adalah milikku.”


“Hm?” Andrew Wijaya bertanya dengan suaranya yang rendah.


Suara gumaman wanita itu terlalu kecil, ia tidak dapat mendengarnya dengan jelas.


“Andrew.”Alice mengangkat kepalanya dan menatap pria itu dengan mata yang berbinar-binar, ia bertanya,”katakan dengan jujur, sudah berapa wanita yang pernah menjadi pacarmu?”


Menurut info, pria itu tidak membiarkan wanita sembarang untuk mendekatinya.


Tapi tidak ada yang tahu apakah ia sudah pernah berpacaran atau tidak.


Alice kembali mengingat teknik ciumannya yang luar biasa baik,  nada bicaranya menjadi sedikit murung,”Apakah mantan pacarmu sangat cantik? Apakah dahulu kamu juga sering menciuminya?”


“Mantan pacar mana yang kamu maksud?” Andrew Wijaya tersenyum, sengaja menggodanya, ”Pasangan yang ditetapkan keluargaku atau pacarku yang sesungguhnya?”


“Tentu saja pacarmu yang sesungguhnya!”


Alice menjadi sedikit kesal dan memelototi pria itu,”Bukankah kamu sering berciuman dengan pacarmu yang dulu? Ciumanmu seperti sudah terlatih dengan baik, hingga membuatku…”


“Membuatmu apa?”Andrew Wijaya menahan tawanya.


Pipi Alice yang putih bersih itu seketika memerah, sambil mendengus ia berkata, ”Kalau kamu tidak mau bilang, ya sudah.”


Andrew Wijaya mengangkat tangannya dan mencubit pipinya yang lembut itu, ”Cemburu?”


Alice mengangguk, dengan penuh kepercayaan diri, ia berkata,”Pacarku, hanya boleh menjadi milikku saja. Aku berhati lapang jadi aku akan menutup mata terhadap semua kisah cinta masa lalumu. Tapi kalau nanti kamu malah main mata dengan wanita lain, lihat saja, aku akan—”


Ia menggembungkan pipinya dengan emosi dan berpostur seolah-olah ia akan berkelahi, ”Aku akan membuatmu kesakitan, sangat kesakitan!”


“Bagaimana bisa disamakan?”


“Mengapa tidak?”


“Dia tidak layak.”Alice mengatakannya dengan serius, ”Aku hanya tegas terhadap pria yang kusukai.”


Samar-samar sedikit terlihat ekspresi girang pada matanya yang dalam.


Ia mengerti bahwa wanita ini memang licik seperti rubah, kata-katanya yang manis itu sama sekali tidak boleh dipercaya. Namun, ia tidak dapat menyangkal bahwa ia senang saat mendengarnya.


“Dulu, tidak ada.” Ia perlahan membuka mulutnya untuk bicara.


“Apanya yang tidak ada?”, Alice pun menjadi bingung seketika.


“Aku tidak pernah mencium wanita lain.”


“Benarkah?”


Sangking tidak percayanya, Alice membelalakkan matanya, ”Jangan-jangan kamu masih… perjaka?”


Tatapan matanya beralih ke bagian bawah celana pria itu.


Di luar dugaannya, pria ini masih sebuah misteri.


“Apakah tatapan matamu ini sedang menyiratkan bahwa aku tidak layak untukmu?”, Andrew Wijaya perlahan memincingkan matanya.


“Aku tidak berkata begitu, kok.”Alice menggelengkan kepalanya. Ia cepat-cepat berkata, ”Aku merasa kamu seharusnya sudah sangat berpengalaman.”


Wanita ini sungguh dapat mengatakan hal yang menyenangkan hati pria.


Terlihat kobaran hasrat pada mata Andrew Wijaya, ia mengenggam erat tangan wanita itu, dengan suaranya yang rendah, ia berkata, ”Besok, selesaikanlah surat-surat perceraianmu. Kamu akan mengetahui jawabannya pada esok malamnya.”


“Jawaban apa?”


Alice berpura-pura bodoh, sambil mengalihkan pandangannya, ia tersenyum dan berkata, “sebenarnya, aku tidak ingin tahu, kok”


Mata gelap Andrew Wijaya semakin terlihat kelam.


Kalau bukan waktu dan tempatnya yang tidak sesuai, saat ini pasti ia sudah menghukumnya di mobil!