ALICE THE MAGIC ANGEL

ALICE THE MAGIC ANGEL
Episode 25



Seluruh tubuh Jennie Putri bergetar seperti saringan yang bocor, giginya bergemeletuk, dia ketakutan hingga nyaris tersungkur ke tanah.


Mengapa Kak Andrew Wijaya sampai datang langsung kesini?


Mengapa dia dapat dengan cepat menemukan tempat ini?


Dia jelas-jelas telah menggunakan berbagai cara untuk menghidari pelacakan, dia juga telah mengirimkan sebagian pada pihak lain.


Berdasarkan logika, sehebat apapun bawahan Kak Andrew Wijaya, setidaknya butuh waktu beberapa jam untuk menemukannya.


“Trik mu itu, tidak cukup hebat.” Kata Andrew Wijaya dingin, matanya seperti pisau es, menusuk Jennie Putri.


“Andrew Wijaya, Kak Andrew Wijaya.... dengarkan penjelasanku!”


Sebuah ide melintas di benaknya, dengan buru-buru dia menjelaskan: “Tadi aku menerima sebuah pesan aneh berisi lokasi, katanya seorang Nona Qu sedang dalam keadaan bahaya, jadi aku segera datang untuk melihat.”


“Oh?” Andrew Wijaya mengangkat alisnya, matanya tajam, “Kalau begitu maksudmu kamu datang menolong Alice?”


“Benar...”


Jennie Putri bergetar ditatap olehnya, punggungnya dibasahi keringat dingin karena ketakutan, “Aku kesini untuk menyelamatkan orang, Kak Andrew Wijaya, percayalah padaku!”


Andrew Wijaya menatap tajam dan dingin, sulit untuk menyembunyikan ekspresi jijiknya yang begitu kentara.


Dia melangkahkan kaki jenjangnya, mendekati meja tempat Alice berada.


Kedua tangan dan kaki Alice masih terikat, kerah bajunya telah robek, menampakkan kulitnya yang putih bersih, tampak berantakan.


Wajah mungilnya yang pucat tidak menunjukkan ekspresi, tampaknya dia masih sangat terguncang.


“Jangan takut, sudah tidak apa-apa.” Andrew Wijaya berjalan mendekat, mengulurkan tangan untuk merapatkan pakaiannya.


Dia memotong tali itu dengan pisau lipat.


Alice yang pada mulanya duduk di atas meja kayu, segera melompat turun saat telah memperoleh kebebasannya.


Tanpa disangkanya, karena terlalu lama diikat, aliran darahnya terhambat, kedua kakinya melemas, lompatannya langsung mengarah jatuh ke lantai.


“Awas!”


Andrew Wijaya begitu cekatan, langsung menangkapnya, dan menggendongnya sekaligus. Dia menurunkan pandangannya, “Apakah kamu terluka?”


“Seluruh badanku sakit...”


Alice mulai mengeluh dengan rewel, “Talinya mengikat kencang sekali, sakit. Luka di pundak belakang belum sembuh sepenuhnya, pasti lukanya terbuka lagi.”


“Aku datang terlambat.” Andrew Wijaya berkata muram.


Mulanya dia menyuruh bawahannya untuk mengawasi, karena takut musuhnya dari Keluarga Li menarget padanya.


“Tidak terlambat, kamu datang tepat waktu.”


Alice bersandar dalam pelukannya, katanya: “Kamu rogohlah saku bagian dalamku, di dalamnya ada telepon genggam, aku merekam sebuah percakapan yang luar biasa. Coba dengarkan.”


“Saku dalam?” Andrew Wijaya melirik sekilas pada dadanya.


Harus bagaimana mengambilnya?


“Ulurkan tanganmu dari bawah baju, di bagian perut ada sebuah saku. Tanganku sakit....”


Hari ini dia sengaja mengenakan pakaian ini, yaitu untuk menyembunyikan telepon genggam!


Beruntungnya saat penculik terfokus pada keinginannya, tidak cukup “profesional”, tidak menggeledahnya secara menyeluruh.


Dia menyuruh Shania untuk menyalakan perekam saat dirinya terbelenggu.


Andrew Wijaya mengulurkan tangannya, menyentuh melewati kulit perutnya, merogoh pada saku dalamnya dan mengambil telepon genggam.


Alice menggosok-gosok dalam pelukannya karena gatal: “Hei, jangan memanfaatkan kesempatan mengambil keuntungan.”


Tidak jauh dari mereka yang sedang bercakap, Jennie Putri menatap mereka hingga matanya seperti akan terbelah.


Pelacur!


Pelacur tidak tahu malu!


Salahnya tidak membunuhnya beberapa menit lebih awal!


Seharusnya dia langsung membunuhnya dengan sekali tusuk saat dia masuk, melihatnya merayu Kak Andrew Wijaya!


“Nona besar Mu, tidak usah melihat lagi, bola matamu nyaris melompat keluar.”


Alice dengan nyaman meringkuk dalam pelukan Andrew Wijaya, dengan malas berkata: “Kamu juga dengarlah apa saja yang kamu katakan tadi.”


Andrew Wijaya memutar rekaman.


Yaitu saat Alice menanyai Jennie Putri, kebenaran akan kebaikannya itu.


Jennie Putri mengakuinya sendiri, dia yang mengatur dengan sengaja.


Selesai Andrew Wijaya mendengar, wajah tampannya menjadi suram, berganti menjadi sosok dingin yang menyeramkan.


“Jennie Putri.”


“Kak Andrew Wijaya! Bukan begitu!”


Jennie Putri dengan panik menjelaskan, “Semua ini adalah Alice pelacur ini yang menjebakku, dia membuatku berkata demikian, itu semua tidak benar!”