
“Lalu kamu mau bagaimana?” Eric mengerutkan keningnya, menatapnya tidak suka, “Apartemen Central Park anggap saja kuberikan sebagai biaya perceraian, dan aku akan memberimu uang tunai tiga juta. Jangan tamak.”
“Tuan Fu sungguh murah hati.” Alice memberikan tepuk tangan.
“Alice, kau...” Eric marah.
Alice mengangkat tangannya, mencegahnya menyelesaikan perkataan, lalu menjawab langsung pada intinya: “Tanda tangan, sekarang juga aku tanda tangan, aku takut kamu menyesal.”
Eric terperangah, cukup lama hingga dia menjawab : “Percuma saja kamu marah-marah seperti ini...”
Alice mengerutkan alisnya: “Siapa yang marah-marah?”
Wanita itu berjalan menuju meja, melihat dokumen, lalu membubuhkan tanda tangannya.
Memutus hubungan, dengan mudah.
Eric yang melihatnya terperangah. Ternyata dia tidak mempertahankannya? Bukankah wanita itu sudah mencintainya sejak usia enam belas, diam-diam mencintainya selama tujuh tahun?
Ternyata dia tidak mengatakan apapun dan setuju untuk bercerai....
Di dasar hati Eric terbesir perasaan campur aduk, namun dia juga merasa lega.
Wanita itu tidak menangis tidak memberontak, begini lebih baik.
Akhirnya dia dapat memberi status pada wanita yang dicintainya, dapat berhubungan secara terang-terangan.
……
Setelah persetujuan perceraian ditanda tangani, dia harus menunggu hingga minggu depan untuk mengurus perceraian di kantor catatan sipil.
Alice tidak ingin terus tinggal di villa milik Eric, dia mengemasi beberapa kopernya dan pindah ke Apatemen Central Park.
Apartemen itu tidak besar, dua kamar tidur dan satu ruang keluarga, tetapi cukup untuk ditinggalinya seorang diri.
Dia tidak berncana kembali pada Keluarga Qu, disana semuanya penyiksa dan dirinya bukan orang yang senang disiksa.
Langit perlahan menggelap dan malam pun tiba.
Alice merias diri, lalu mengenakan sehelai gaun merah yang indah, dia mengenakan sepatu hak tinggi, lalu memanggil taksi dan menuju ke klub malam.
Tempat ini merpakan klub dengan member vip kelas atas, yang keluar masuk disana semuanya mobil mewah, tempat dimana anak-anak orang kaya di kota menghabiskan uangnya.
Alice bukan member dan tidak dapat masuk.
Dia berdiri di tempat parkir terbuka, bersiap untuk “berpura-pura menjadi korban”.
Sebuah Maybach hitam perlahan memasuki halaman parkir, Alice menyipitkan matanya dan melihat jelas pengemudi mobil itu, bibir merahnya menyunggingkan bibir.
Maybach hitam itu segera mengerem.
Kaca mobil diturunkan, dari dalam muncul sebuah wajah yang tampan dengan sudut wajah tegas.
Pria di dalam mobil itu sangat tampan, hidungnya mancung, dengan alis dan mata yang dalam, sepasang matanya yang hitam dan sedikit dingin, pandangannya dengan tenang menyapu ke arah wanita di dalam mobil.
“Tuan....” Alice mengerjapkan matanya yang bersinar, dan dengan polosnya menuduhnya, “Mobil Anda menabrak saya.”
Dia mengatakannya dengan gamblang dan canggung, menunjukkan kenaifannya.
Ini adalah sebuah kepura-puraan yang bisa dilihat siapa saja, jelas sekali aktingnya sangat buruk, namun tetap saja dia begitu percaya diri.
Andrew Wijaya mengerutkan alis, melihatnyas sekilas lalu perlahan berkata: “Kamu yakin?”
Alice mengangguk-anggukkan kepalanya, menepuk-nepuk debu di gaunnya, lalu dia bangkit sendiri, mendekati jendela mobil, dan tersenyum: “Tuan, aku tidak meminta ganti rugi cukup bawa aku masuk ke klub.”
Dia memiringkan kepalanya dan melanjutkan, “Bukannya aku sangat murah hati?”
Wanita itu sangat dekat, wajah kecilnya yang seukuran kepalan tangan disandarkan perlahan pada tepian jendela, dia tampak menyedihkan, namun sepasang matanya yang licik terpancar sedikit niat jahat.
Tatapan Andrew Wijaya yang dingin menyapu wajahnya yang cantik, tidak bergeming lalu menekan tombol penutup jendela mobil.
Kaca mobil perlahan naik, Alice tidak sudi mengangkat wajahnya.
“Minggir.” Kata pria itu dingin.
“Kamu tidak membawaku masuk, aku tidak akan minggir.” Alice berkeras menyandarkan kepalanya di jendela mobil, menutup matanya, lalu mencela dengan suara pelan, “Cekik saja aku, toh kau sudah menabrakku.”
Pria itu mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang menekan dahi wanita itu, dengan sekuat tenaga mendorongnya keluar.
Tidak ada belas kasihan sama sekali.
Seiring dengan tertutupnya jendela, mobil bergerak maju dan masuk ke tempat parkir.
Alice mendengus dan tidak lagi mengomel.
“Nona yang cantik ini, sendirian saja kah?”
Di sampingnya sebuah mobil lain berhenti, pemilik mobil itu seorang tuan muda, tersenyum memberinya kesan baik, “Tadi kudengar kamu ingin masuk ke klub? Biarkan kakak membawamu masuk, bagaimana?”
Alice menggerakkan matanya, menatapnya tak bersemangat lalu mengangguk.