
Alice merintih pelan ketika kerah kemeja itu tersangkut pada kain kasa penutup lukanya.
Karena kain kasanya sudah lembab dan melekat pada lukanya, ia harus berusaha keras memakai kemejanya.
“Pakai saja dulu kemejamu.”, kata Andrew Wijaya dengan tenang,”Aku akan membantumu mengganti kainnya”
“Baiklah.”
Alice pun memakai kemeja putih yang lebar itu. Tidak ada yang dapat dilakukannya mengenai pakaian dalamnya…
Ia tidak mengancingkan 3 kancing teratas kemeja tersebut, ia membiarkan kerahnya terbuka. Sisi kerah yang terbuka itu memperlihatkan kulit bahunya yang putih mulus.
“Aku sudah memakainya, apakah kamu punya perban kain kasa disini?”
“Ada kotak obat disini.”
Andrew Wijaya mengambil segulung perban kain kasa dan obat luka dari kotak obat itu dan membalikkan kembali tubuhnya.
Ia mengamati wanita itu dan mengangkat sebelah alisnya.
Kemeja putihnya ini pas sekali di tubuhnya, namun ketika kemeja itu berada di tubuh wanita itu, kemeja itu malah terlihat besar sekali seperti piyama, panjangnya bahkan mencapai paha wanita itu.
Wanita itu duduk menyamping.Dari sudut pandang pria itu, ia dapat melihat kulit bahunya yang halus dan putih bak salju itu, jika ia melihat ke arah bawah, maka akan sedikit terlihat lekukan dada wanita itu.
“Cepatlah, lukanya perih.”, desak Alice.
Andrew Wijaya dengan tenang mengalihkan kembali pandangannya, ia mengulurkan tangannya dan membantu wanita itu untuk melepas kain yang sudah basah itu, ia pun memperhatikan daerah luka itu,”Lukamu sudah bernanah, sudah seharusnya ditangani di rumah sakit.”
Untuk sementara, ia membalutkan kain kasa yang baru pada wanita itu. Sekaligus menutup kerah kemeja itu dan mengancingnya dengan benar.
“Andrew Wijaya.”Alice tiba-tiba memanggilnya.
Ia menatap pria itu dengan matanya yang berbinar-binar, tatapannya penuh rasa penasaran, ia pun bertanya,”Mengapa kamu masih sangat cuek dan dingin, bahkan kepada seorang wanita dengan kemeja terbuka seperti ini? Apa kamu menahan hasratmu? Atau kamu memang tidak tertarik sama sekali pada wanita?
Tidak ada maksud terselubung pada pertanyaannya ini.
Semua yang ditanyakannya memang hanya rasa ingin tahunya saja.
“Bagaimana.. kalau begini?”
Tanpa aba-aba, ia menarik ujung kemejanya dan memperlihatkan pahanya yang putih dan lembut,”Kalau begini, apakah kamu masih juga tidak bereaksi apa-apa?”
Andrew Wijaya mengernyitkan dahinya.
Bola mata hitamnya yang tenang itu semakin menggelap, dengan suaranya yang rendah, ia berkata,”Pakai kemejamu dengan benar.”
Alice kembali mengangkat kemejanya, dengan nakal ia menjawab,”Aku memakainya dengan baik kok, aku hanya sedikit merenggangkan otot kakiku.”
Di dalam mobil yang tertutup rapat itu,samar-samar tercium wangi aroma bunga mawar yang sungguh memikat dan memenuhi udara di dalam mobil.
Tanpa disadari, suasana menjadi memanas.
Bola mata hitam Andrew Wijaya pun semakin terlihat kelam, dengan dingin, ia berkata,”Aku tidak tertarik pada wanita yang sudah bersuami.”
“Jangan berkata seperti itu.”, bibir merah Alice membentuk senyuman, ia tertawa dengan menawan,”Karena, hal itu mungkin saja terjadi.”
Ia pun mencondongkan tubuhnya dan mendekat.
Ia dapat merasakan kedua belah bibir tipis pria itu sedikit dingin.
Dari tubuh wanita itu tercium aroma yang manis, kedua belah bibirnya terlihat luar biasa lembut.
“Andrew Wijaya….”Ujung jemari Alice menyentuh dada pria itu,”Kamu tegang sekali.”
Jelas sekali, otot tubuh pria itu sudah menjadi tegang.
Andrew Wijaya memiringkan bola matanya yang hitam, sekilas terlihat sekelibat tatapan yang berbahaya, dengan suaranya yang rendah dan serak, ia berkata,”Jangan bertindak semberono atau kamu harus turun dari mobil ini.”
“Andrew Wijaya, apakah kamu tahu ada suatu istilah untuk kemeja yang aku gunakan saat ini?”
“Apa?”
“Orang-orang menyebutnya kemeja putih pacar.”
Setelah Alice selesai berbicara, ia melingkarkan lengannya pada leher pria itu,”Jadi, sekarang aku mau meminta ciuman dari pacarku.”
Ia langsung mendekat dan mencium bibir tipis pria itu!
Pada awalnya, Andrew Wijaya akan mendorongnya menjauh, namun wanita itu dengan cepat menggigit bibir bawahnya. Dengan pelan ia berkata,”JIka kamu mendorongku sekarang.. maka kamu bukan seorang pria.”
Kata-kata dari wanita itu menyulutkan bara api yang tertimbun di dalam hatinya.
Satu percikan api dapat membakar seluruh padang rumput.
Dalam sekejap, ia membalikkan keadaan, telapak tangannya memegangi bagian belakang kepala wanita itu, ia memiringkan kepalanya dan menciuminya,
Pada dasarnya, ia bukanlah seorang pria baik dan sopan, ciumannya kasar dan ganas, seakan seperti tidak membiarkan wanita itu bernafas.
“Uh.. Tunggu..”
Awalnya Alice hanya ingin menguji sampai mana pria itu akan menahan hasratnya. Namun, siapa sangka bahwa di balik sosoknya yang dingin dan disiplin itu ternyata tersembunyi sisi liarnya.